730

Kilas Balik Konser dan Festival Musik Indonesia Di 2018

Ilustrasi: Rosyad A.

Meskipun dibayangi melemahnya ekonomi, dunia showbiz Indonesia masih menunjukkan geliatnya sepanjang tahun 2018. Tahun yang memanjakan Gen-X dan Millenial angkatan awal.

Jejak dunia showbiz Tanah Air mencatat dua faktor yang memegang peran krusial dalam helatan pertunjukan musik di Indonesia. Faktor pertama adalah kondisi sosial politik. Sejak pecah kerusuhan di konser Metallica tahun 1993 silam, Indonesia sempat masuk daftar hitam kunjungan musisi internasional. Begitu juga rentetan kejadian teror pemboman di awal medio 2000.

Sementara situasi ekonomi banyak berpengaruh pada ongkos produksi terutama untuk hajatan musik dengan headliner yang diimpor dari luar negeri. Fluktuasi nilai tukar rupiah yang sempat menukik di pertengahan tahun ini berpengaruh pada pembayaran honor artis yang menggunakan kurs dolar. Meski demikian promotor masih bisa mendapat untung dari penjualan tiket serta sponsorship walau persentasenya tipis.

Tahun 2018 boleh jadi merupakan tahun yang menggembirakan untuk golongan Gen-X dan Gen-Y yang menjadi angkatan pertama geng Millenial. Promotor seperti memanjakan betul kedua generasi yang lahir dan tumbuh besar saat MTV menjadi referensi utama budaya pop. Generasi yang menjadi bagian dari kelas menengah baru Indonesia yang tengah tumbuh.

Data Bank Dunia tahun 2017 menjelaskan sebanyak 52 juta orang Indonesia telah masuk dalam kelas menengah. Kelas menengah ini memberikan kontribusi sebesar 43 persen dari keseluruhan total konsumsi rumah tangga. Jika dulu mereka harus menyisihkan uang jajan dari orang tua untuk sekadar beli kaset, kini mereka memegang otoritas anggaran keuangan rumah tangga. Termasuk juga anggaran untuk jajan rock. Mulai dari beli album musik, stereo set, kaos band, dan tentunya tiket konser.

Deezer, salah satu penyedia layanan musik streaming, pernah melakukan survey yang menunjukkan titik puncak eksplorasi musik berada di usia 24 dan setelahnya akan cenderung stagnan saat sudah menginjak usia kepala tiga. Beberapa faktor diantaranya karena mulai kewalahan dengan banyaknya nama-nama baru yang bermunculan, mulai disibukkan dengan pekerjaan, juga urusan-urusan domestik. Seperti menata rumah dan mengasuh anak. Namun yang jelas, otak kita selalu suka dengan hal-hal nostalgia. Termasuk juga untuk lagu-lagu saat darah muda menggelegak.

Dan promotor-promotor dengan cerdik menyasar pangsa pasar ini.

Sejak awal tahun, nama-nama “klasik” silih berganti menyambangi panggung Indonesia. Diawali dengan pentolan Oasis, Liam Gallagher dan diakhiri dengan grup metal kegemaran Presiden Joko Widodo, Judas Priest. Diantara dua nama tadi, bertebaran sederetan penampil pembawa semangat nostalgia.

Judast Priest di Jogjarockarta. Foto: IG @rajawaliindonesia

Dari jajaran diva dunia ada Celine Dion, yang harga tiketnya kelas tertingginya setara dengan biaya cicilan per bulan rumah tipe 36 di pinggiran Jakarta. Lalu Mariah Carey, yang terkenal dengan riders aneh-anehnya seperti limousine antipeluru warna gelap, yang pentas di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Serta kebanggan Indonesia, Anggun C. Sasmi, yang manggung di Karanganyar bersama David Foster!

Mariah Carey di Jogja. Foto: IG @rajawaliindonesia
Baca juga:  Kalimantan: Peta Musik yang Menjanjikan