Klasik Hingga Esok Lusa: 25 Tahun Debut Album Kubik

Apr 7, 2022

Siluet pohon-pohon yang tinggi, suasana di lembah berwarna ungu, dan tulisan huruf besar: KUBIK. Pada sampul belakang terdapat kredit “semua lagu ciptaan Kubik”, berikut nama-nama personil band itu.

Lusi: Vokal, Bass, Sampel
Adam : Gitar, Sampel
Iman: Drums

Bonus Hai 09/TH XXI/1997
TIDAK UNTUK DIJUAL

Majalah Hai pada 1997 memperkenalkan Kubik melalui bonus kaset single berisi tiga lagu: “Gelap”, “Vanished (Versi Demo)”, dan “Angin” (Versi Demo). Pada sampul belakang selongsong bonus kaset itu tertera informasi “Album beredar 24 Maret 1997”.  Rekaman Kubik ada di tangan para remaja. Kasak-kusuk Kubik dari sejumlah penggemar musik, terutama kalangan muda, sudah dimulai.

Pada 1996 Majalah Hai juga sempat mengedarkan debut album Pure Saturday melalui sistem mail order atau pun membeli langsung ke kantor redaksi dengan membawa guntingan kupon yang terdapat di beberapa edisi Majalah Hai; menjadi metode terobosan besar dalam hal merilis karya dan promosi kala itu. Setelahnya, suara “alternative”, lagi-lagi dari Bandung, dihadirkan Hai bersama Kubik.

“Hai juga sempat bikin bonus album Karpet (Surabaya) dan Andre Manika,” ingat Denny MR, awak redaksi Majalah Hai di masa itu, kepada saya melalui pesan WA.

Tak lama tiga lagu diperkenalkan Majalah Hai, debut album Kubik beredar di toko-toko kaset. Semakin “pecah” ketika single “M.A.T.E.L” diputar di radio-radio beserta video musiknya yang digarap oleh Rexinema (Jose Purnomo dan Dimas Djayadiningrat) menghiasi televisi. Samar-samar saya masih bisa mengingat video musik tersebut, ber-setting ruang tamu rumah, dan yang jelas sangat bernuansa “indie rock”. Pendekatan visual yang bebeda dari kebanyakan video musik pop Indonesia.

“Waktu itu, saya dan kawan kawan Kubik juga surprise, Dimas Djay bikin ide kisahnya begitu. Everybody happy,” kenang Seno M. Hardjo, sosok di balik Target Pro, label yang merilis Kubik. Video musik itu memang sempat mencapai rotasi tinggi. Seno meningatkan kepada saya bahwa “M.A.T.E.L” bahkan sempat menjadi pemenang bulanan ajang VMI (Video Musik Indonesia) dengan presenter Dian Nitami.

Lagu “M.A.T.E.L.”, akronim dari “Mungkin Aku Tiba Esok Lusa”, langsung merebak menjadi favorit anak-anak muda penggemar indie/alternative rock. Sampai hari ini, dan esok lusa, lagu itu telah menjadi klasik, terus dibawakan di berbagai panggung hingga direkam oleh sejumlah band dari berbagai penjuru gaya musik. Salah satunya, tafsir ulang a la Navicula.

Singkatnya, bersama lagu “M.A.T.E.L.”, pada era 1990an, Kubik sangat menjadi perhatian dan dibicarakan.

Tak lama tiga lagu diperkenalkan Majalah Hai, debut album Kubik beredar di toko-toko kaset. Semakin “pecah” ketika single “M.A.T.E.L” diputar di radio-radio beserta video musiknya yang digarap oleh Rexinema (Jose Purnomo dan Dimas Djayadiningrat) menghiasi televisi

Peter A. Walandouw, kini gitaris Damascus dan salah satu pendiri Anoa Records, kala awal 1997 masih duduk di bangku 3 SMA. Dia masih ingat betul mendapatkan bonus kaset Kubik dari Majalah Hai, terpapar video musik dan lagu “M.A.T.E.L” di radio, hingga segera memutuskan membeli album Kubik di toko kaset dekat rumahnya.

“Keren!” pilihan kata singkat dari Peter mendeskripsikan musik Kubik. Lagu favorit Peter di album tersebut adalah “M.A.T.E.L” dan “Tissue”. Kubik memang seperti mewakili selera musik anak muda yang semakin banyak menggemari indie/alternative rock, yang saat itu memang masih terhitung segelintir rekamannya dari Indonesia. Jauh di kemudian tahun, Anoa Records mendistribusikan secara digital mini album Otherside dari Tranquility, proyek musik drum & bass Lusi, vokalis dan pemain bas Kubik, bersama Dina (Homogenic).

Kubik, terutama melalui debut albumnya, kemudian selalu mendapat penggemar baru. Sekitar 10 tahun setelah debut album itu dirilis, Irfan Popish, gitaris merangkap vokalis Melt, juga dikenal sebagai penulis buku Bandung Pop Darlings, saat kelas 2 SMA di tahun 2007 menemukan “M.A.T.E.L” dalam format mp3, kemudian mulai ngulik Kubik sejak memasuki bangku kuliah. Di masa itu pula ia mulai berburu kaset dan mendapatkan debut album Kubik dalam wujud fisiknya.

“Buat gue waktu itu musik Kubik gak bisa gue deskripsikan. Dia mencampuradukkan banyak referensi. Salah satu trek favorit gue, ‘Gelap’ misalnya, punya outro yang tiba-tiba kencang. Gak heran karena kalau menurut Uci (Lusi), Adam saat itu metal banget, sementara Uci shoegaze/alternative rock banget. Banyak trivia soal album ini yang menarik, kayak ada selipan wawancara Neil Halstead di lagu ‘Vanished’. Buat gue di tahun 2010: Edan, bisa dapat rekaman Neil!” jelas Irfan Popish.

Neil Halstead adalah vokalis dan gitaris Slowdive, salah satu band favorit Lusi. Pada salah satu cuitan akun twitter Kubik memang pernah dikisahkan: “di awal lagu ‘Vanished’ terdengar suara ngobrol… itu adalah frontman band Slowdive, Neil Halstead yang sedang interview oleh teman Lusimers”. Lusimers dan Deluciva adalah nama-nama lain untuk Lusi.

“Kalau musik, pasti lah ya. Selain Waktu Hijau Dulu-nya Cherry Bombshell, Kubik s/t jadi top 3 di daftar top album pionir indie lokal versi gue. Tapi yang lebih bikin gue terkesan sama Kubik, gak cuma pada album ini, sebetulnya cerita-cerita di baliknya. Bagaimana Uci cukup militan ngedalamin referensinya dan nge-share referensi itu ke anak-anak scene Bandung lewat Pure Saturday (sebelum bergabung dengan Kubik, Lusi sempat berproses bersama Pure Saturday). Dia kirim surat ke band-band sampai dapat diskografi Catherine Wheel. Dan itu dia lakuin sendiri karena suka, bukan karena tongkrongan,” kata Irfan lagi.

yang lebih bikin gue terkesan sama Kubik, gak cuma pada album ini, sebetulnya cerita-cerita di baliknya. Bagaimana Uci cukup militan ngedalamin referensinya dan nge-share referensi itu ke anak-anak scene Bandung lewat Pure Saturday (Lusi sempat berproses bersama Pure Saturday)

Shoegazing memang musik kegemaran Lusi, (selain juga electronic, 808state adalah favoritnya saat SMA), dan Catherine Wheel salah satu band kesukannya.

Irfan Popish melanjutkan, “Terus, gue kayak pernah denger gitu di acara Circle Pop, RaseFM, cerita Uci kalau lagu ‘M.A.T.E.L’ dia tulis karena ngerasa perjalanan Jatinangor-Bandung itu jauh banget, gak sampe-sampe, dan jadilah lirik itu. Buat gue waktu itu, trivia-trivia gini menarik: bagaimana kegiatan sehari-hari bisa jadi sepuitis itu.”

Akun twitter Kubik suatu ketika menceritakannya: “Jarak yang ditempuh untuk kuliah adalah 45 menit-1jam kalau sedang nggak macet, di masa itu masih sepi jalanan..  sehingga Lusi seringkali singgah. Tahun 1997 sulit ya, belum jaman SMS .. sehingga Lusi sering ditanya ibunya “kapan pulang?”, padahal emang gak ke mana mana, dari situlah ide “M.A.T.E. L “.

lagu ‘M.A.T.E.L’ dia tulis karena ngerasa perjalanan Jatinangor-Bandung itu jauh banget, gak sampe-sampe, dan jadilah lirik itu

Sebagai penggemar, Irfan fasih sekali bercerita tentang Kubik. “Ada adegan mecahin gelas yang dimasukin ke salah satu lagu di album itu.”

Akun Twitter Kubik mengisahkannya: “sampel suara di akhir lagu ‘You Shouldn’t Stay’ didapat dengan merekam betulan kaca yang pecah, sehingga Adam (gitaris/vokalis) kehabisan gelas untuk dibanting.”

Kubik akustik / kika: Lusi – Adam / dok. istimewa

Beberapa trivia lainnya yang sempat dibagikan Kubik melalui akun twitter-nya adalah:

– Album pertama dikerjaan saat A. Firmansyah sebagai drummer masih baru lulus dokter… sekarang beliau kerja sebagai dr. staf ahli Gizi Medik.

– Album pertama 1997 dibuat pada saat Lusimers masih kuliah.. rela cuti demi Kubik manggung sampai akhirnya terlambat lulus menjadi dokter.

– Lirik ‘Kabut Merah’ berasal dari suatu hari di jalan tol, dengan mobil rongsok Lusimers menembus hujan badai demi hadir kuliah. Ternyata ketika sudah sampai kampus, dosennya tidak ada.. kesel ga lo? Hehehe. Rasanya ajaib Lusimers bisa hadir waktu itu walau dengan mobil rongsok, wiper yang tidak layak di jalan tol, sehingga tercetuslah lirik ‘Kabut Merah’. Dan ketika tiba di kampus rasanya Lusimers seperti dikasihi Tuhan, diberikan langit warna merah sesudah hujan badai, walau bete kuliah batal.

– “A Year Later” adalah sebuah pengharapan Lusimers terhadap mata kuliah yang dia segani, yaitu parasitology. Berharap lulus tahun depannya.

– “Angin”, lagu yang diciptakan oleh dr A. Firmansyah, lirik oleh Lusimers, waktu dulu rasanya sudah malas mau jalan-jalan, sudah lelah menjalani kuliah.

– “Vanished” berceritakan tentang orang yang sering berbohong pada dirinya sendiri sehingga aura “denial” yang terasa oleh orang sekitarnya.

– “Dua Alam”, kalian mendengarkan suara emas sir Vladvamp (nama lain untuk Adam). ”Dua Alam” bercerita tentang 2 romans yang akan menikah tapi musibah, salah seorang darinya meninggal dunia .. sedih, ah..

– “You Shouldn’t Stay” berceritakan rasa kesal dan lebih kesal apabila tidak diceritakan..

– “Gelap”, oh, kembalinya hujan badai di saat harus pergi kuliah tahun 1996.

– “Tissue”, banyak yang menyangka bahwa ini adalah kertas tisu, padahal artinya adalah jaringan.. ide lirik 90% dari medical world.

– “Antariksa”, hanya rasa berterima kasih kepada Tuhan, alangkah indahnya bisa melihat ke atas langit bertaburan bintang, tapi itu bukan milik kita.

– Proses rekaman di lakukan di RYR studio dengan sound engineer mister Ucok ‘Corgan’ (dia mirip sekali dengan Billy Corgan, botaknya).

– Proses rekaman vokal “M.A.T. E. L” hanya memakan waktu sesuai panjangnya lagu.. 1 take recording.

– Sampel bel di lagu “Angin” merupakan bel di rumah dokter Abdulah F., drummer kami.

“Kalau dilihat big picture-nya, gue juga jadi makin bangga sama scene Bandung. Dalam waktu lima tahun, kita punya banyak album independen influensial: Pure Saturday – s/t, Cherry Bombshell – Waktu Hijau Dulu, Kubik – s/t, Pure Saturday – Utopia, dan Cherry Bombshell – Luka Yang Dalam,” tambah Irfan.

Tak mungkin disangkal, Kubik adalah salah satu eksponen indie terdepan dari Kota Kembang, menjalar ke segenap Indonesia.

***

“Saya hanya terjebak jadi vokalis dan bassist-nya Kubik. Musik bikinan Adam,” ini adalah pernyataan pertama Lusi ketika saya ajak mengobrol via Instagram tentang Kubik dan debut albumnya.

“Lirik album pertama, saya yang bikin semua. Baru album ketiga bikinan Adam semua lirik lagunya. Kubik itu alter egonya Adam,” tambah Lusi.

Sebelum bersama Kubik, dalam dunia rekaman musik, nama Adam telah terbaca saat dia bersama LFM (Last Few Minutes), sebuah band alternative rock yang juga beranggotakan Ridho Hafiedz (di kemudian hari bergabung bersama Slank) dan Ari Malibu (almarhum juga dikenal sebagai duo Ari-Reda). LFM merilis album semata wayangnya pada 1996; bunyinya berkelebat di radio-radio, dan menjadi suara yang berbeda bagi musik populer Indonesia hari itu.

Di era 1990an, Adam juga dikenal bersama band-nya, Pause. Setelah membentuk Kubik pun Adam terus melanglang musikal dengan bergabung bersama Koil hingga merilis album solonya dengan nama Vladvamp. Jelas sekali bahwa Adam punya hasrat musik yang sangat besar, dari dulu hingga kini.

“Masih ingat kapan pertama kali kalian ngomongin bikin Kubik?” tanya saya kepada Lusi perihal pertemuannya dengan Adam.

“Tahun 1995. Awalnya Adam mengontak saya untuk bermain bas di band-nya.

Tadinya berempat, namun vokalis waktu itu, Rino keluar, jadi manajer Kubik,” jawab Lusi. Maka, Lusi dan Adam pun sama-sama menjadi vokalis Kubik, dengan porsi Lusi lebih banyak pada debut album mereka.

Kubik di studio / dok. istimewa

Adam membentuk band baru itu bersama Iman sebagai pemain drum. Ternyata Iman sekampus dengan Lusi, sama-sama kuliah kedokteran, hanya berbeda angkatan. Iman kakak kelas tiga tahun di atas Lusi. Mereka sama-sama anak dari Guru Besar Universitas Padjajaran.

Saat dikontak Adam, Lusi sedang berproses, baru ikut berlatih dua pekan bersama Pure Saturday, hingga menyumbang sebuah lagu, “Open Wide”.  Adam dan Lusi pada saat itu belum saling kenal. Pada sebuah wawancara, Lusi bercerita bahwa Richard, drummer Pas Band, adalah yang merekomendasikan Lusi kepada Adam karena pernah sekali melihat Lusi berlatih di studio. Padahal, Lusi mengaku bahwa dia “tidak bisa bermain bas”.

Singkat cerita, Lusi mengiyakan ajakan Adam dan datang ke rumah Iman yang merangkap sebagai studio Kubik saat itu. Menurut Lusi, referensi musik ketiganya berbeda: ia menyukai shoegazing, Adam suka metal, sementara Iman penggemar rock. Hal itulah yang disatukan menjadi musik Kubik.

Lagu-lagu Kubik lahir di studio rumah Iman. Mereka tidak pernah melatih lagu band lain. Mereka hanya jam sessionmenulis karya sendiri.

“Kita mulai dari nol banget,” kata Lusi tentang proses penulisan lagu-lagu Kubik.

“Saya bisa main basnya juga otodidak, learning by doing,” tambahnya. “Dari lubuk hati yang paling dalam.”

“Ada latihan rutin seminggu berapa kali?” tanya saya.

“Rasanya, saya tiap hari habis pulang kuliah langsung ke rumah Iman, sampai akhirnya 1996 mulai rekaman di studio,” jawab Lusi.

Pada debut album ini, Lusi berperan menulis seluruh liriknya.

“Kalau diperhatikan mendalam, ke-10 lagu itu merupakan satu cerita.

Kecintaan terhadap alam semesta saya tulis jadi lirik tiap lagu, bukan buat seseorang. Seperti halnya ketemu sesuatu, terus, ya, perkenalan dan goodbye,” jelas Lusi.

Lusi memiliki hobi membuat puisi sedari kecil, juga rajin menulis diari hingga ia SMA. Setiap buku diarinya, ia kasih nama imajiner.

“Kan saya ini suka ngehayal, makanya lirik Kubik penuh khayalan aku semata,” kata Lusi.

Sementara musik, Lusi kecil menggemari Vangelis, Duran Duran, Billy Idol, Depeche Mode, Dire Straits, dan banyak lagi.

“Saya tukang dengerin musik dari kecil daripada belajar sekolah. Waktu SMA saja bawa Walkman, duduk paling belakang dengan headphone di telinga ditutup rambut,” katanya.

“Kalau saat SMP, lagi suka-sukanya musik apa?” tanya saya.

“Kate Bush, Peter Gabriel, band band Inggris banyaknya. SMA mulai shoegaze:

My Bloody Valentine dan Slowdive,” jawab Lusi.

Kegemaran Lusi pada shoegaze mulai terjalin sejak 1991, hingga jejaknya, termasuk dalam nuansa lirik, bisa kita rasakan pada Kubik.

 

***

Kubik memperdengarkan karyanya kepada khalayak luas dengan menggandeng perusahaan rekaman Target Pro bersama PT. Musitama Multi Media Ind. Seno M. Hardjo, sosok di baliknya, membagikan latar belakang dan cerita proses rilis album itu kepada saya.

“Waktu itu sekitar 1997, Pas Band dan Pure Saturday sudah merilis karya mereka, juga Koil dan Pupen. Karena berkawan dengan Adam, anggota LFM (Last Few Minutes), akhirnya saya menerima tawaran Adam untuk produces album Kubik, setelah berkenalan dengan Iman dan Lusi Mersiana. Karena frekuensi idealisme dalam bermusiknya sama, Kubik dan saya nyambung saja. Apalagi materi dengaran kami sama, macam Cocteau Twins, Slowdive, dan Nirvana,” kisah Seno.

Debut album Kubik diproduksi di sebuah studio di Bandung, dengan sound engineer Dicky ‘Ucok’ Jatnika, termasuk pada saat proses mixing. Sedangkan mastering dikerjakan di 301 Studio, Sydney, Australia.

“Formasinya bertiga, vokalis dan bassist-nya cewek pula, Kubik yang dikomandani Adam menarik banyak pihak. Saya sengaja bekerjasama dengan Radio Prambors di beberapa kota untuk publikasinya. Dan big surprise, majalah Hai mendaulat Kubik menjadi kover majalah remaja kondang tersebut,” tambah Seno.

Di masa itu, band pendatang baru seperti Kubik bisa menjadi sampul Majalah Hai adalah suatu pencapaian tersendiri.

“Saya dan Kubik bersyukur secara kualitas dan pembaharuan, album perdana Kubik mendapat good respond, dan menjadi salah satu album pilihan 150 Album Terbaik Sepanjang Masa versi majalah RollingStone Indonesia,” kata Seno lagi.

Kubik punya tempat tersendiri bagi penggemar musik di Indonesia, terutama mereka yang menggemari indie/alternative rock.  Setelah merilis debut albumnya, Kubik hingga kini telah menelurkan tiga album studio: Violet pada 1999 (pemain drum Iman resmi mengundurkan diri dari Kubik pada 1998), dan kemudian Velvet Words and Lies.

Kaset Kubik dok. Sam Alatas

Di era 2000an, setiap kali Kubik menyempatkan diri untuk tampil, penggemar tetap berdatangan, bahkan dari generasi yang jauh lebih muda dari hari debut album mereka dirilis. Hingga sekarang sekalipun, sejumlah anak muda masih memburu segala rilisan dan kisah seputar Kubik.

Sementara album pertama Kubik, yang hari ini telah menyentuh usia 25 tahun, telah menyandang status “cult”, selalu diputar untuk tiba di ingatan bersama. Mau tidak mau rasa nostalgia 1990an terpancar pula di sana. Tidak ada satu pun lagu yang tidak keren.

Penulisan lagu, piihan-pilihan cara bermain serta sound gitar Adam, vokal dan lirik Lusi, samples dan sound effects yang dihadirkan, vokal Adam, variasi pukulan drum Iman yang sangat tepat-akurat, atmosfer, segala elemen di album itu menjadi paket murni menarik bila didengar kapan juga. Petualangan indie rock/indie pop kelas A dari “Kabut Merah” sampai “Antariksa”.

 


 

Penulis
Harlan Boer
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Angga Firman
Angga Firman
5 months ago

Waktu tahun 99 nyari kaset itu ke bandung, cuma nemunya yg dah jd album Violet cover gambar ubur2. lagunya remix semua… Tapi yaudz lumayan si keren juga pas pertamakali denger

Calvin H
Calvin H
4 months ago

Pure Saturday, Cherry Bombshell, Kubik: Holy trinity of Indo Indie music. Digitalisasinya moga2 bisa cepat ada sebelum saya juga jadi tua (20 skrg)

Eksplor konten lain Pophariini

Dhira Bongs Untai Ragam Kisah di Album Ketiga

Dhira Bongs, solois pop asal Bandung baru saja merilis album penuh ketiganya di hari Jumat (23/09) lalu. Simak kisahnya berikut ini.

5 Alasan Kenapa Last Child Enggak Bubar

Simak 5 alasan kenapa Last Child tidak memutuskan untuk bubar dan masih bertahan sampai hari ini. Selengkapnya di Pophariini.com.