Kolaborasi Tahun ini: Sepatu Compass x Kelompok Penerbang Roket

1424

Hadirnya sepatu lokal dengan harga terjangkau untuk kualitas sebagus itu tentu menarik perhatian para penyuka sneakers. Terlebih ditambah dengan rasa kebanggaan tersendiri karena memakai produk buatan Indonesia. Nama Compass lambat laun (bahkan bisa dibilang begitu cepat) melambung. Banyak penggemar sneakers dari seluruh Indonesia mulai mengincar sepatu ini. Setiap kali Compass meluncurkan warna tertentu, hampir pasti sepatu tersebut langsung terjual habis.

Yang kemudian membuat nama Compass semakin meledak adalah ketika pertama kalinya  berkolaborasi dengan Brian Notodihardjo. Seorang model dan influencer sekaligus brand assortment dan social media manager untuk Liberate Obdurate Contentious atau yang lebih dikenal dengan L.O.C. Sepatu Compass yang berkolaborasi dengan Bryant kemudian diberi nama Compass Bravo yang hanya tersedia sebanyak 100 pasang dan terjual dalam waktu hanya 90 menit saja di Jakarta Sneaker Day 2019.

Compas Bravo, berkolaborasi dengan Brian Notodihardjo / dok. Compass

Compass kemudian seolah menembus batas dan seolah menjadi pelopor kesuksesan brand dalam negeri yang benar-benar laku di pasaran. Setiap kali Compass menjual sepatunya bisa dipastikan akan selalu sold out. Apalagi ketika Compass menjual edisi-edisi khusus sepatunya dan dijual secara terbatas hanya beberapa ratus pasang saja.

Dari situ pulalah bermunculan para reseller yang kemudian menjual sepatu Compass edisi khusus secara tidak wajar. Katakanlah harga sepatu yang tadinya sekitar 300 sampai dengan 400 ribuan saja, bisa dijual hingga 2 hingga 3 jutaan. Sungguh fantastis.

Cibiran pun kemudian mulai berdatangan ke sepatu Compass. Banyak yang berkomentar bahwa sepatu lokal ini sudah bagus namun sayangnya dijual secara terbatas. Bahkan mereka menyalahkan Compass atas tingginya harga yang di luar nalar ketika sepatu tersebut dijual kembali oleh reseller.

Usut punya usut, Compass sendiri sampai saat ini hanya mampu membuat 4500 pasang sepatu setiap bulannya. Itu semua dikarenakan jumlah SDM yang berkualitas di Compass memang tidaklah terlalu banyak, apalagi jika membandingkan dengan permintaan pasar yang sangatlah banyak. Compass sendiri bukannya tanpa solusi. Mereka sudah sempat mengekspansi pabrik sepatu mereka ke Semarang dan juga menambah SDM mereka. Namun, hasil yang didapat tidaklah maksimal. “Terdapat sekitar 1500 sampai 1800 pasang lebih sepatu yang tidak lolos quality control. Karena memang seketat itu Compass menjaga kualitas produk mereka. Padahal kayanya kalo dilihat sekilas sebagai orang awam kayanya gak ada bedanya.” Tambah Rizma.

Compass sampai saat ini hanya mampu membuat 4500 pasang sepatu setiap bulannya. apalagi jika membandingkan dengan permintaan pasar yang sangatlah banyak

Terkait dengan cibiran pedas dari para konsumen, Aji mengaku bahwa itu semua sudah di luar kendali mereka. Aji mengatakan “Kita pun bahkan ga dapet keuntungan dari harga resell tersebut. Banyak yang salah tafsir dengan fenomena tersebut.” Lebih lanjut Aji menerangkan “Bahwasanya kolaborasi ga sekedar cuma tempel logo belaka, tapi gimana kita nyelem lebih dalem dalam merespon identitas dari kolaborator, cerita apa yg mau diangkat, sampai eksekusi yang emang matching sama ceritanya. Genuine.”

Bagi Aji sendiri yang merupakan pelaku di industri kreatif terutama sebagai produsen sneakers menerangkan bahwa sebenarnya konsumen Indonesia masih perlu diedukasi “Sebenernya kalau ngomongin kolaborasi, sesimpel emang gua mau jadiin ini sebuah karya yang bisa jadi sebuah collectible item. Value sepatu justru lebih dari sebuah produk yang dikampanyekan dengan cerita tertentu, justru nilai sentimentil audience yg mungkin bisa jadi faktor utama harga resell naik. Kita mah apa adanya aja, modal berapa, persentase ke kolaborator berapa, kaga dapet apa-apa lagi selain dari situ.”