Kronik Hip Hop Indonesia dan Battle Rap

Oct 26, 2023

Yow… Yow… Welcome to the show

Yo ma men, Insthinc, what’s up bro?

Gue udah denger album baru lo

Shit, gokil, yang bagus cuma intro

Penonton tepuk tangan dan tertawa bersahutan. Mereka seakan tak menyangka Tuan Tigabelas alias Upi merapal bar sederhana yang cukup tajam sebagai pembuka melawan Insthinc. 

Insthinc yang belum mendapat giliran menanggapi dengan senyum dan tepuk tangan kecil, seperti ingin memuji Tuan Tigabelas tapi tak ingin berlebihan pula. Sebuah pemandangan menarik yang cukup sering terjadi saat battle rap. 

Ya, itulah battle rap, salah satu bentuk penampilan dalam hip hop. Di luar sana, Amerika Serikat misalnya, battle rap sangat berkembang pesat hingga bisa dikatakan sebagai elemen baru hip hop. 

Tetapi di Indonesia, battle rap mungkin masih terasa asing. Rasanya mayoritas penggemar di Indonesia lebih mengenal freestyle battle. Serupa dengan battle rap, bedanya, saat freestyle battle rapper melontarkan bar secara langsung. Persis seperti yang dikisahkan dalam film 8 Mile (2002). 

Lewat karakter Marshall Mathers alias B-Rabbit yang diperankan Eminem, kita diperlihatkan kemahiran seorang rapper merangkai bar secara spontan. B-Rabbit hanya membutuhkan beberapa kata kunci untuk menyerang lawannya dengan telak.

Kehadiran 8 Mile bisa dibilang cukup berdampak bagi skena hip hop Indonesia. Dua tahun setelah perilisan film itu, acara freestyle battle yang layak mulai bermunculan. Gerry Konaedi alas Xaqhala jadi salah satu rapper senior yang sering menggawangi freestyle battle.

“Dulu freestyle battle bisa kasih exposure ke rapper sampe akhirnya nama mereka besar, kayak Saykoji sama Laze. Saykoji itu langganan ikut freestyle battle dan langganan juara,” kata Gerry kepada Pop Hari Ini beberapa waktu lalu.

Tapi, bila dilihat lebih dalam, kemunculan freestyle battle di sini sebenarnya sedikit terlambat, apalagi hip hop sudah masuk ke Indonesia sejak akhir dekade 80-an. Herry Sutresna, rapper senior yang dikenal dengan nama Ucok, merasakan sendiri perkembangannya yang pelan.

“Di tahun 2000-an itu anak-anak pada ngumpul buat freestyle, cypher dan lain-lain. Ya, palingan cuma cuma tiga orang. Dari situ mulai ada battle, tapi ya cuma begitu aja. Butuh komunitas untuk bisa jadi sesuatu yang proper,” kata Ucok. 

Ia ingat betul kala itu kepayahan mencari lawan ketika sedang ‘panas.’ Komunitas yang bisa menjaga keberlangsungan freestyle battle juga tidak ada. Walau beberapa kali bisa mengorbitkan rapper baru, pada akhirnya freestyle battle berjalan secara sporadis.

Apalagi, freestyle battle biasanya hanya menjadi sempalan dalam sebuah acara besar. Kondisi ini mau tak mau harus diterima karena memang hip hop kurang mendapat sorotan. 

Gerry yang sering berkutat dengan freestyle battle mengakui dan merasakan sendiri hal itu. Ia menilai skena ini hanya dapat sorotan ketika ada beef antar rapper atau ketika ada rapper yang cuma ingin cari sensasi. Terus saja berputar seperti itu bak lingkaran setan. 

“Udah saatnya hip hop Indonesia punya battle rap. Gue lihat banyak anak-anak yang jago nulis tapi gak dapat exposure karena kebanyakan dari underground. Gue bikin Rhyme Pays untuk angkat mereka dan kasih lihat ke penerus hip hop,” kata Gerry.

 

Rhyme Pays Hanya Pemantik

Rhyme Pays Battle Rap League dibuat dengan format berbeda dari freestyle battle yang sudah-sudah. Liga ini mempertemukan 10 rapper, mulai dari yang sudah dikenal seperti Tuan Tigabelas dan Joe Million, sampai yang baru merintis seperti Flyzad.

Sebagai rapper yang sudah malang melintang di industri, Joe Mill mengaku tidak merasakan beban saat memutuskan ikut Rhyme Pays Battle Rap League. Baginya, orang-orang akan tetap mendengar karyanya, baik di saat memang atau pun kalah.

“Gue mau ikut karena konsepnya beda. Biasanya pake beat, nah gue mau ikut karena ini akapella. Dulu ikut freestyle battle di LA Streetball, yang ganggu kadang beat-nya, bikin omongan kita gak kedengeran. Kalau akapella bisa lebih kena ke penonton,” kata Joe Mill.

 

Dari pengalaman mengikut freestyle battle, Joe Mill merasa battle rap butuh persiapan lebih. Ia sendiri membutuhkan waktu dua pekan sampai satu bulan untuk riset dan menulis bar. Persiapan kurang dari itu bisa jadi bumerang baginya.

Dari segi penulisan, ia memilih bar yang mudah dimengerti agar semua penonton terus fokus mengikutinya. Walau sebenarnya, bar dengan metafora seperti yang ditampilkan Insthinc dan Al Smith juga bisa membius penonton.

“Kalau lo pengin hasilin sesuatu di skena ini, lo harus punya karya yang bisa bikin orang stay sama musik lo. Battle ini sarana marketing yang bagus buat karya lo. Kayak ajang pencarian bakat, yang juara satu gak selalu punya karya oke dan konsisten,” katanya.

Sama dengan setiap rapper, Joe  bertanding empat kali dengan lawan yang dipilih penggagas Rhyme Pays Battle Rap League. Kemudian dua rapper dengan kemenangan terbanyak akan beradu di babak final. 

Soal roaster, Gerry memilih Flyzad karena tertarik dengan penulisan liriknya. Sementara Insthinc, Dzulfahmi, dan Sleepearth ikut sebagai perwakilan Def Bloc, kelompok hip hop yang didirikan Ucok.

Kalau Upi minta langsung ke gue dan dia bilang mau lawan Insthinc di match pertama. Dia seminggu sebelum battle risetnya belum selesai. Tapi itu sudah cukup,” kata Gerry.

Ia melanjutkan, “Terus Yacko saranin Enka, ternyata dia pernah ikut X Factor. Enka kan mainstream muncul di TV, ya kayak Saykoji lah. Tapi ternyata gahar, sampe Sandi choke pas lawan dia, gak bisa ngomong lagi.”

Rapper lain yang juga berhasil mencuri perhatian adalah Al Smith. Ia tak gentar melawan Dzee yang sudah berpengalaman di sejumlah kompetisi rap. Sementara Flyzad yang bisa dibilang ‘anak baru’ pun tampil dengan karakter paling beda dari yang lain.

Ia selalu menghadapi lawan dengan pembawaan yang santai dan tak menggebu-gebu. Pembawaan seperti itu sah saja, dalam battle rap tak harus selalu ngotot selama bisa merangkai bar yang telak menyerang lawan.

“Kalau freestyle gak terlalu perlu riset, kebanyakan cuma cela-celain lawan aja, ujungnya ngatain fisik. Battle rap itu butuh persiapan dan bukan cuma asal bar berima. Ini nge-roasting dengan seni, bar dengan multisyllable, homophone, dan wordplay,” kata Gerry. 

Ia melihat Flyzad sebagai rapper dengan karakter bar yang cukup sulit dimengerti penonton awam. Salah satu bar yang menurutnya menarik adalah ketika Flyzad melawan Dzulfahmi.

Gua kasih tanda ‘Z’ di muka lo

Biar semua orang bilang, ‘lo maling ketemu Zoro’

‘No, gue abis ketemu Zad. Now I’m zero’

“Gue suka pake metafora, dan mungkin karena kebiasaan karena kalau ngobrol sehari-hari juga begitu. Dzulfahmi juga banyak pake multisyllable sama wordplay dan itu mancing gua buat ngeluarin bar yang udah gue siapin,” kata Flyzad. 

 

Rapper yang memiliki nama asli M Ibdal Faizad itu sebenarnya sempat ragu ikut Rhyme Pays Battle Rap League. Ia kurang suka dengan konsep battle rap yang cenderung merendahkan lawan. Karena itu ia merangkai bar yang tak merendahkan lawan.

Alasan yang membuat Flyzad akhirnya ikut adalah karena mengidolakan battler bernama Arsonal, salah satu peserta BullPen Battle League di Amerika Serikat. Liga ini menjadi sorotan sejak tujuh tahun lalu ketika ditayangkan di kanal YouTube ShrugLife Network. 

Liga battle lain yang juga dikenal adalah King of the Dot yang digelar di Kanada sejak 2008. Dizaster jadi salah satu rapper yang meroket karena battle rap berskala internasional itu. Berkat acara itu pula ia  membintangi film tentang battle rap bertajuk Bodied (2017).

King of the Dot, kata Ucok, adalah salah satu contoh liga battle rap yang sangat stabil dan konsisten. Apalagi, mampu melahirkan rapper-rapper hebat dan menjadi ladang karier baru dalam dunia hip hop.

“Dulu rapper dealnya itu album dan kontrak rekaman. Tapi, mulai tahun 2008 ke sini, battle di luar ada banyak, udah kayak liga tinju. Dan battle ini hidup, kalau ada rapper yang mau jadi battler tanpa bikin karya, ya, bisa,” katanya.

Bukan hanya di Barat, liga battle rap juga ada di negara tetangga Indonesia. Sejak 2010 Filipina punya Fliptop yang berhasil menjadi video battle rap di YouTube dengan penonton terbanyak di dunia. 

Rhyme Pays mungkin bukan liga battle rap pertama dan satu-satunya di Indonesia. Hanya dengan berselancar sesaat di YouTube kita bisa menemui acara battle rap lokal lain, seperti Papua Baribut dan Battle Arena Rhyme Skill alias BARS.

Tapi, rasanya tak berlebihan untuk mengatakan Rhyme Pays sebagai pionir battle rap di Indonesia. Terlebih, banyak rapper senior yang terlibat di acara ini. Sebut saja Iwa K, Yacko, Doyz, sampai GNTZ. Dan pastinya Ucok serta Gerry.

Apa gue bikin Rhyme Pays ini supaya skena hip hop hidup? Enggak, skena sudah hidup dan bakal terus begitu. Tapi, mungkin sekarang jadi berapi karena Rhyme Pays gue yang bikin,” ungkap Gerry. 

“Gue sebenarnya cuma pengen memantik semangat teman-teman di daerah supaya bikin acara serupa. Soalnya acara ini gak bisa akomodasi rapper di seluruh Indonesia, sementara banyak rapper keren di luar sana,” sambung Gerry.

 

Menuju Industri Battle Rap Indonesia

Ketika ditanya mengenai peluang perkembangan battle rap jadi industri sendiri, Joe tak muluk-muluk. Menurutnya untuk saat ini yang penting adalah menyebarkan semangat dari kota-kota besar ke komunitas yang ada di daerah. Seperti yang diharapkan Gerry.

Battle rap lokal bisa jadi wadah yang sangat besar bila banyak komunitas terlibat. Seandainya bisa berjalan secara konsisten selama lima sampai 10 tahun, barulah kita bisa berbicara banyak soal industri. 

“Battle rap ini produksi murah kalau dibandingin sama panggung. Lo modal pita suara, kamera, sama editing. Jaman sekarang asal ada niat bisa dan orang-orang bisa benar-benar nikmatin,” kata Joe.

Setali tiga uang, Ucok memiliki pendapat yang serupa dengan Joe. Rhyme Pays sendiri dibangun dengan modal sosial karena penggagas acara tak memiliki banyak uang sehingga dibikin dalam ‘lingkaran kecil.’

Pada akhirnya Rhyme Pays mampu berjalan dengan baik dan sebentar lagi akan menggelar pertandingan final. Bahkan acara ini beberapa kali digelar di luar Jabodetabek, di mana setiap rapper mendapat bayaran dan akomodasi yang layak. 

Ini jadi bukti bahwa rapper bisa dapat pemasukan dari battle meski jumlahnya belum besar. Kalau sudah menjadi industri yang stabil, bukan tidak mungkin ada rapper Indonesia yang fokus sebagai battler.

“Di luar negeri mulai ada perubahan karier rap, sekarang mereka bisa cari makan dari battle. Kayak Dizaster, pendapatan dia dari battle bisa puluhan kali dari rapper yang bikin album. Kemarin dia dapet Rp500 juta,” kata Ucok. 

Ia merasa sudah selayaknya rap battle menjadi industri di Indonesia. Tak masalah bila dibuat dalam skala kecil di kalangan grassroot, karena memang seharusnya seperti itu dan nantinya akan tumbuh sendiri.

Di sisi lain, Gerry ingin Rhyme Pays Battle Rap League bisa berjalan setidaknya hingga empat tahun. Setelah itu mungkin acara tak berlanjut, dengan harapan muncul battle-battle lain dari komunitas dan daerah lain. 

“Dari dulu gue lihat hip hop cuma jadi sempalan, ada festival terus freestyle battle side event. Nah sekarang gue pengen, dan sudah saatnya, hip hop itu main event. Rhyme Pays main event, dan battle rap itu main event,” tutup Gerry.

 

Ilustrasi oleh Agung Abdul Basith.


 

Penulis
Andika Putra
Mantan jurnalis yang masih pengin menulis. Suka nonton berbagai pertandingan olahraga dan penggemar Juventus serta Persija. Kadang tertarik dengan isu-isu politik.
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
Rhyme Pays
Rhyme Pays
8 months ago

Terima kasih untuk Ulasanya Pophariini

Eksplor konten lain Pophariini

5 Musisi Indonesia Favorit Bambang Pamungkas

Pophariini berkesempatan untuk melakukan peliputan Prambanan Jazz tanggal 5-7 Juli lalu di Candi Prambanan, Jawa Tengah. Salah satu yang menarik perhatian kami saat itu melihat legenda penyerang Timnas Indonesia Bambang Pamungkas (Bepe) bersama keluarganya …

5 Pertunjukan yang Wajib Ditonton di We The Fest 2024

We The Fest akan berlangsung beberapa jam lagi. Festival garapan Ismaya Live ini menghadirkan sejumlah musisi lokal maupun internasional selama tanggal 19-21 Juli 2024 di GBK – Sports Complex, Jakarta Pusat.    View this …