242

Kurosuke dan Pilihan Bermusiknya: Sebuah Wawancara Eksklusif

Kurosuke / Foto. Fauzi M Reza

Selama beberapa tahun terakhir, Christianto Ario adalah musisi yang terlibat di mana-mana. Namanya menghiasi beberapa proyek musik yang bertebaran di luar sana. Mulai dari membantu Polka Wars sampai Mondo Gascaro.

Tarik garis dua tahun ke belakang, 2017-2018 Ario dikenal sebagai frontman dari band pop alternatif bernas bernama Anomalyst. Bersama band ini, ia membuat 2 album dengan dua konsep musik yang berbeda. Sampai akhirnya pria yang berwajah kebapakan ini kini beralih menuju proyek solo karirnya, yaitu Kurosuke.

Lewat wawancara eksklusif bersama Pop Hari Ini, Ario bercerita jauh mengenai proyek-proyek solonya, tentang album pertama dan album barunya di bawah Berita Angkasa, The Tales of Roses & Wine, cerita di balik nama Kurosuke, ketertarikannya terhadap film, musik Italia dan pendapatnya akan musik Pop Indonesia serta keinginan-keinginan akan bermusik di masa mendatang.

Kenapa akhirnya memutuskan bersolo karir?

2018 awal harusnya Anomalyst ada tur namun batal karena salah satu personil ada yang kerja, jadinya banyak waktu luang, saya lumayan gatel dan tiba-tiba dalam semalam timbul pikiran ‘kayanya bikin album lucu nih’, mengingat waktu di Anomalyst butuh waktu 3 tahun. Pengin bikin sesuatu yang lebih dadakan dan spontan dan dari awal nggak pengin bikin sesuatu yang pake nama saya sendiri. Dalam semalem ada sekitar 12 lagu.

Baca juga:  Cerita di Balik Tur Regenerate Endah N Rhesa

12 lagu? Dalam semalam? 

Ya, 12 lagu, pokoknya songwriting-nya dua jam, bikin demo dan lirik dua jam, besoknya dengerin lagi oke, akhirnya bikin demo, selesai, rekaman, mixing, rilis, upload.

semalam 12 lagu, mungkin kalo Anomalyst masih tetep jalan, cerita seperti di atas nggak bakal ada, bahkan apakah tetap bakal ada Kurosuke?

Pasti akan ada, menurut saya Kurosuke itu kaya tokoh di film yang baru muncul di scene ke sekian, nggak dari awal. Karena saya nggak pengin berhenti hanya di satu musik, pengin punya banyak lah, biar punya keleluasaan, karena di Anomalyst udah ada DNA dan blue print-nya nih dan sulit untuk keluar dari situ, harus dengan persetujuan anggota lainnya. Kalo di Kurosuke saya bisa lebih bebas dan suka-suka. Rekamannya asal, pokoknya gua ngelanggar semua aturan-aturan rekaman, kaya rekamannya nggak pake ruangan yang proper dan outdoor.

oke, musik memang lebih bebas di Kurosuke, tapi kalo yang saya dengar dari musiknya, keliatannya seperti ‘berpegang teguh’ ke satu genre, apakah nantinya bisa berubah genre/rasa musiknya? Seperti Hindia yang tiap single rasanya berbeda-beda.

Baca juga:  Mods Indonesia Merayakan Hari Buruh

Saya orang yang lumayan tua nih, maksudnya musik-musik yang saya dengerin referensinya tahun tua. Di kepala saya kalo bikin musik pasti muaranya ke album, mau itu single lepasan, pokoknya itu semua pasti proyeksinya bakalan jadi album. Dari yang paling saya dengerin dan saya suka, itu semua punya satu kesatuan, jadi saya pengen berusaha untuk bikin album yang satu, dari musik, lirik maupun art nya. Tapi emang nggak menutup kemungkinan untuk berubah ke genre lainnya. Biasanya saya punya satu tema besar yang dituju dalam pembuatan album.

mengapa nama Kurosuke di antara sekian banyak tokoh anime?

Sebenernya ceritanya agak lucu, jadi pas demo udah siap dan besoknya mau upload, gua ga mau pake nama gua sendiri. Nah, dulu sekitar tahun 2015 atau 2016 gua makan makanan yang enak banget yaitu kukus roti (kuro kuro) di Bandung dan ga ada di Jakarta. Pas lagi muncul ide project solo ini, partner saya si Indisya yang nyanyi juga di Kurosuke, keponakannya suka banget nonton anime. Dia lagi suka banget sama Makuro Kurosuke, walaupun saya nggak nonton animenya juga namun yang kepikiran di kepala saya cuma kukus roti susu keju (Kurosuke), manis tapi cheesy banget, bisa dimakan kapanpun.