Kurosuke dan Pilihan Bermusiknya: Sebuah Wawancara Eksklusif

Oct 25, 2019

Selama beberapa tahun terakhir, Christianto Ario adalah musisi yang terlibat di mana-mana. Namanya menghiasi beberapa proyek musik yang bertebaran di luar sana. Mulai dari membantu Polka Wars sampai Mondo Gascaro.

Tarik garis dua tahun ke belakang, 2017-2018 Ario dikenal sebagai frontman dari band pop alternatif bernas bernama Anomalyst. Bersama band ini, ia membuat 2 album dengan dua konsep musik yang berbeda. Sampai akhirnya pria yang berwajah kebapakan ini kini beralih menuju proyek solo karirnya, yaitu Kurosuke.

Lewat wawancara eksklusif bersama Pop Hari Ini, Ario bercerita jauh mengenai proyek-proyek solonya, tentang album pertama dan album barunya di bawah Berita Angkasa, The Tales of Roses & Wine, cerita di balik nama Kurosuke, ketertarikannya terhadap film, musik Italia dan pendapatnya akan musik Pop Indonesia serta keinginan-keinginan akan bermusik di masa mendatang.

Kenapa akhirnya memutuskan bersolo karir?

2018 awal harusnya Anomalyst ada tur namun batal karena salah satu personil ada yang kerja, jadinya banyak waktu luang, saya lumayan gatel dan tiba-tiba dalam semalam timbul pikiran ‘kayanya bikin album lucu nih’, mengingat waktu di Anomalyst butuh waktu 3 tahun. Pengin bikin sesuatu yang lebih dadakan dan spontan dan dari awal nggak pengin bikin sesuatu yang pake nama saya sendiri. Dalam semalem ada sekitar 12 lagu.

12 lagu? Dalam semalam? 

Ya, 12 lagu, pokoknya songwriting-nya dua jam, bikin demo dan lirik dua jam, besoknya dengerin lagi oke, akhirnya bikin demo, selesai, rekaman, mixing, rilis, upload.

semalam 12 lagu, mungkin kalo Anomalyst masih tetep jalan, cerita seperti di atas nggak bakal ada, bahkan apakah tetap bakal ada Kurosuke?

Pasti akan ada, menurut saya Kurosuke itu kaya tokoh di film yang baru muncul di scene ke sekian, nggak dari awal. Karena saya nggak pengin berhenti hanya di satu musik, pengin punya banyak lah, biar punya keleluasaan, karena di Anomalyst udah ada DNA dan blue print-nya nih dan sulit untuk keluar dari situ, harus dengan persetujuan anggota lainnya. Kalo di Kurosuke saya bisa lebih bebas dan suka-suka. Rekamannya asal, pokoknya gua ngelanggar semua aturan-aturan rekaman, kaya rekamannya nggak pake ruangan yang proper dan outdoor.

oke, musik memang lebih bebas di Kurosuke, tapi kalo yang saya dengar dari musiknya, keliatannya seperti ‘berpegang teguh’ ke satu genre, apakah nantinya bisa berubah genre/rasa musiknya? Seperti Hindia yang tiap single rasanya berbeda-beda.

Saya orang yang lumayan tua nih, maksudnya musik-musik yang saya dengerin referensinya tahun tua. Di kepala saya kalo bikin musik pasti muaranya ke album, mau itu single lepasan, pokoknya itu semua pasti proyeksinya bakalan jadi album. Dari yang paling saya dengerin dan saya suka, itu semua punya satu kesatuan, jadi saya pengen berusaha untuk bikin album yang satu, dari musik, lirik maupun art nya. Tapi emang nggak menutup kemungkinan untuk berubah ke genre lainnya. Biasanya saya punya satu tema besar yang dituju dalam pembuatan album.

mengapa nama Kurosuke di antara sekian banyak tokoh anime?

Sebenernya ceritanya agak lucu, jadi pas demo udah siap dan besoknya mau upload, gua ga mau pake nama gua sendiri. Nah, dulu sekitar tahun 2015 atau 2016 gua makan makanan yang enak banget yaitu kukus roti (kuro kuro) di Bandung dan ga ada di Jakarta. Pas lagi muncul ide project solo ini, partner saya si Indisya yang nyanyi juga di Kurosuke, keponakannya suka banget nonton anime. Dia lagi suka banget sama Makuro Kurosuke, walaupun saya nggak nonton animenya juga namun yang kepikiran di kepala saya cuma kukus roti susu keju (Kurosuke), manis tapi cheesy banget, bisa dimakan kapanpun.

soal penulisan karya, banyak yang bilang kalau habis putus cinta itu pasti bisa bikin karya yang emosional kaya di album pertama, apakah di album kedua ini bakalan kerasa juga emosinya?

Album ini dibagi 2 fase, fase pertama saya nyebutnya honeymoon phase, yang lagi berbunga-bunga. Fase Kedua, lebih intimate. Secara emosi saya rasa masih tersalurkan, cuma udah beda angle dan beda perspektif karena mungkin putusnya anak usia 23 tahun (pertama kali Kurosuke debut album) dan sekarang saya udah 24 tahun, walaupun cuma setahun itu rasanya tuh beda banget, secara emosi saya menghadapi hal-hal di kehidupan pun udah berbeda dari tahun lalu.

lalu tentang patah hati?

Di album ini lagu patah hatinya masih ada sih. Cuma patah hati yang lebih legowo. Tapi ini beda sama album pertama yang permasalahannya sebenernya sederhana. Ini patah hati yang lebih kompleks karena udah bukan sekedar kamu patah hati tapi sebenernya kamu tau bakalan kaya gini tapi kok masih patah hati ya? Gitu.

album yang dibagi 2 ini apakah sebenarnya punya kesatuan cerita?

Nggak directly tapi sebenernya iya. Sebelum ada lagu dan ada lirik saya memang merencanakan bakalan dibagi dua seperti yang saya bilang sebelumnya. Fase awal kamu happy banget dan cerah dan akan sangat terasa bucinnya. Fase Kedua kamu mulai punya konflik.

sesuai penyusunan tracknya juga dong?

Iya, kayak pertama ada “Moscato”, secara musik itu opener banget dan Moscato tuh sebenernya  minuman wine, sparkling, bubbly, manis, memang minuman summer, minuman pembuka. Yang fase kedua dibuka sama “Wine” karena lebih gloomy, lebih dark, lebih intimate, malem lah suasananya, udah mulai gelap gitu. Dan di “Wine” ada sedikit audio di depan yang kasih setting supaya pendengar tau kalo ini lagi di restoran dan ada percakapan.

sampul album Kurosuke, TheTales of Roses & Wine

kencintaan akan musik tua, ada wine di sana, lalu judul albumnya The Tales of Roses & Wine? Apa sih filosofis di balik ini? 

Soal judul album, Saya suka seorang komposer namanya Henry Mancini, dia orkestrator. Jaman dulu dia bikin buat score film-film, nah ada satu lagu judulnya Days of Wine and Roses. Menurut saya belum ada film yang seperti itu. Pas saya nonton ini love story tapi dark banget. Ini film yang ada kekuasaan, uang, jabatan, alkohol, konsumerisme, dan ini Sudah difilmkan pas tahun ’62 dan ini cocok sama apa yang mau saya tulis. Sebenernya ‘Days of Wine and Roses’ sendiri itu sebuah peribahasa yang artinya masa-masa bahagia yang sebenernya itu masa paling pendek, cuma ada di awal hubungan. Dan itu semua sama pas sama judul album saya.

Selain Mancini dan Italia, ada influence khusus di album ini?

Saya lagi dengerin banyak musik Italia dari berbagai era, ada Lucio Battisti, mungkin dia Iwan Fals-nya Itali sekitar tahun 70-an dan Franco Battiato. Entah kenapa album ini rasanya Eropa menurut saya, The Beatles pasti jadi influence. Di era ini saya juga ngulik banget disko, saya penggemar disko dari lama. Next album kayanya gua pengen bikin album disko hari ini, disko jaman dulu tapi di hari ini.

film italia juga sangat berpengaruh di album ini …

Iya, selain Days of Wine and Roses ada juga Godfather yang part 1 sama 2, tapi part 3 nya nggak. Sama Once Upon a Time In Hollywood. Film-film Eropa menurut saya masih sangat organik dan nggak terpengaruh bisnis. Saya cukup ngulik film dan sumber inspirasi terbesar (di album ini) memang dari film.

Kurosuke dan Fathia Izzati/ foto: Pohan

berarti bisa Bahasa Itali juga?

Ya nggak juga sih, dikit-dikit bisa.

tema cinta menjadi fokus dari karya, apa nggak ada tema yang lain? 

Sebenernya saya orang yang lumayan politis dan terbuka, tapi saya nggak memasukkan itu ke dalam karya karena saya belum menemukan formulanya dan saya merasa pemikiran saya belum cukup dewasa karena posisi saya sebagai musisi itu orang yang megang mikrofon di masyarakat, orang bisa ter-influence, ‘ngikutin dan terdoktrin gara-gara saya. Sebenernya ada beberapa demo dari jaman Anomalyst yang berbau politis cuma saya memang merasa belum nyampe ke titik itu. Dan menurut saya, lagu yang politis itu nggak harus marah-marah. Lagian kalo semua demo dan konflik itu, jika lo punya the power of love kaya kamu demo di siang hari, but at the end of the day kamu masih pacaran, itulah problem paling dekat di hidup manusia, karena politik itu terlalu kompleks, saya menyuarakan sesuatu yang paling dekat dengan manusia.

lirik Bahasa Inggris, kenapa itu menjadi pilihan? 

Saya percaya semua musik ada bahasanya masing-masing, karena musik sendiri adalah bahasa. Ada alasan kenapa musik Brazil terdengar seperti Brazil, begitu bahasanya jadi Bahasa Indonesia akan jadi beda. Begitupun lagu Indonesia, musik indonesia menurut saya sangat punya ciri khas, kaya Maliq & D’Essentials, Guruh Soekarnoputra. Kita akan sulit membayangkan lagu-lagu itu dengan Bahasa Inggris, dan itu menurut saya muncul dari awal pembuatan lagunya. Di Kurosuke dari awal Bahasa Inggris, kayak phrasing-nya, tone-nya, ini Bahasa Inggris banget. Kalo misal pake Bahasa Indonesia, terkadang butuh 4 atau 5 phrasing dalam satu kata, jadi intuisi saya menyatakan kayanya lebih cocok lirik Inggris.

tapi nggak tertarik untuk menulis dalam Bahasa Indonesia? 

Untuk (sekarang) menulis lagu dalam Bahasa Indonesia kayanya masih belom deh, cuma suatu hari saya pengin nulis lagu pake Bahasa Indonesia (untuk Kurosuke). Beda waktu di Anomalyst, saya bisa pakai Bahasa Indonesia yang kompleks karena menurut saya secara musiknya mendukung; makna dan isinya yang pengin dituju bisa banget.

apakah musik pop menjadi sebuah keharusan?

Saya dari kecil main musik sampai kuliah musik, di kepala saya kalo main musik tuh harus jago, skillfull bangetlah. Tapi saat saya belajar lebih dalam, musisi paling hebat itu musisi pop. Let say, musisi kaya Dream Theater punya 1000 informasi dan punya 1000 output, tapi kalo pop kaya Maliq & D’Essentials, Michael Jackson, atau The Beatles, kamu punya 1000 informasi tapi kamu bisa kasih 1 output tapi semuanya tersampaikan dan dirangkum dalam sebuah lagu sekitar 3 menit namun hasilnya tetep nggak kacangan, itu yang saya pengin tuju sampai sekarang. kaya Stevie Wonder, kedengerannya gampang tapi pas dimainin ternyata susah. Album ini udah mulai menuju ke arah sana sih.

tapi kan ada musisi yang lebih suka memainkan ideologinya dalam bermusik dan bisa dibilang nggak pop kaya Radiohead?

Menurut gua, Radiohead awalnya malah pop, tapi mereka tumbuh bersama penggemarnya, setelah 5-6 album mereka baru akhirnya ngeluarin musik yang ‘planet’ banget ala mereka dan penggemarnya bisa nerima itu karena tumbuh bareng, dan saya juga berencana untuk itu sih. Jadi nantinya saya bikin lagu karena keinginan saya, karena hal yang paling saya takutkan adalah bikin lagu untuk fans.

nah, bagaimana peran fans untuk Kurosuke?

Mereka orang yang paling keren di lingkungan mereka, kaya orang-orang yang progresif, orang-orang yang masih ngulik musik lebih dalam dan masih mencari musik, dan saya jadi lebih semangat untuk memberikan mereka lebih bukan ngasih yang mereka mau tapi ngasih yang terbaik dari saya.

Enrico Octaviano / foto: davian akbar

siapa-siapa musisi yang terlibat di album kedua ini?

Ini pertama kalinya (di album kedua) saya bekerja dengan co-producer, sebenarnya album ini sudah dibikin demonya dari Desember sampai Januari. Sudah jadi demonya semua terus mangkrak karena saya dulu di rumah keseringan nonton Netflix nih, jadi setiap kali mau ngerjain malah nonton Netflix. Sampai akhirnya bisa bekerja, “Velvet” digarap duluan, “Velvet” rilis, banyak manggung, banyak kegiatan. Pas join ke Berita Angkasa akhirnya saya kerjain lagi bareng Enrico Octaviano, walaupun ada banyak perbedaan tapi cocok banget nih. Album ini akhirnya gua selesain sekitar seminggu sama Enrico sebagai co-producer. Lalu ada Rishanda Shinggih yang ngisi bass di “Moscato”, salah satu bassist favorit gua di Indonesia. Vokal tamu ada beberapa kaya Natasha Rosanie sama Jonathan Harahap. Dimas Martokoesoemo yang Mixing & Mastering, Davian Akbar ngerjain Foto Cover Artwork.

label seperti Berita Angkasa identik dengan roster-roster rocknyakenapa akhirnya memutuskan gabung ke label ini?

Sebenernya dulu saya punya label kecil namanya Senyawa Records, tapi saya merasa nggak punya kemampuan dan resource untuk menjalankan itu sebagai sebuah label. Dan hari ini, label juga bukan sesuatu keharusan, cuma di saat orang ada di label, ada juga yang nggak butuh label, begitupun sebaliknya. Akhir tahun 2018, saya bertemu Bayu Kurnia (Berita Angkasa), dia bantu saya dan cara kerja dan pemikirannya cocok, ideologi cocok, minumnya cocok, dan mereka tak semata-mata ngikutin arus tapi mereka juga yang bikin arus. Saya propose Bayu jadi manajer awalnya, proyek awalnya “Velvet” sama Fathia Izzati, ini sebelum masuk Berita Angkasa. Sampai akhirnya saya sadar bahwa saya butuh resources yang lebih banyak lagi dan akhirnya join lah (ke Berita Angkasa) dan mereka bantuin banget. Walaupun mereka identiknya dengan rock tapi isinya sih sama, orang-orang yang suka musik dan cocoklah sama saya. Saya merasa apa yang saya punya mungkin mereka nggak punya, begitu juga sebaliknya. Proyek pertamanya ya EP ini sih. pertama kali saya kerja dengan tim yang banyak, karena biasanya sendiri, jadi simpelnya saya bisa fokus di musiknya itu sendiri karena yang lain-lain udah dikerjain sama mereka.

Kurosuke / foto: Pohan

apa bedanya sebelum dan sesudah di Berita Angkasa?

Kerjaan lebih mudah, tapi di satu sisi saya punya orang yang menyanggah saya dan bisa sebaliknya dan menurut saya itu sehat dan sangat perlu dalam membuat karya. Untungnya saya punya satu tim yang satu visi ketika saya ngelempar sesuatu itu nggak langsung disetujui tapi dipertanyakan dulu.

seberapa mereka (Berita Angkasa) meng-‘intervensi’ album ini?

Nggak ada, mereka bantu milih single dan tracklist tapi finalisasinya tetep di saya. Untuk ranah musikal nggak diganggu sama sekali, mungkin mereka lebih ke marketing dan bisnisnya.

jadi ada berapa lagu yang nggak masuk? Ada berapa?

Ada sekitar 5-6 lagu. Itu nggak lolos sama kurasi dari gua sendiri karena memang ya nggak pas aja. Saya nggak pengin ngasih hal yang setengah-setengah ke pendengar saya.

ada ide membuat sesuatu yang baru selain Kurosuke? Kayak Moon Gang-nya Bam sama Aeng?

Kepikiran sih, ada bayangan, ada obrolan juga tapi baru sebatas obrolan, cuma memang belom sih, lagi ada hal yang pengen dicapai dari Kurosuke secara bermusik yang saya merasa belum nyampe. Tapi pasti saya juga bakal bikin project lain untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani.

Anomalyst

lebih memilih karir bermusik di Anomalyst atau Kurosuke?

Dua-duanya punya plus-nya masing-masing. Menurut saya tanpa Anomalyst nggak ada Kurosuke, Tanpa Kurosuke pun Anomalyst nggak akan kaya sekarang. Dua-duanya menurut saya nggak bakal bisa dipisahin. Saya sampai mati akan dikenal seperti itu, tapi kalo suruh milih mungkin Kurosuke karena kalo Anomalyst misalnya nggak ada, Kurosuke bakal tetep ada.

apakah Anomalyst masih ada project ke depannya?

Belum tahu sampai 2-3 tahun ke depan.

Kalau rencana selanjutnya dari Kurosuke?

Saya mulai mempersiapkan batin untuk bikin sesuatu lagi, kerja sama produser, penginnya sama Widi. Karena hari ini Pop Indonesia adalah bisnis yang bagus tapi saya masih ada art-nya, dan saya respect sama Widi dkk, ketika mereka berada di usia yang sama dengan saya mereka udah melakukan hal yang lebih daripada saya, dan kayanya saya merasa mentok dan butuh naik level yang berarti kerja sama mereka nih, tapi saya lagi menunggu kondisi yang pas, karena bikin lagu itu melelahkan dan stresnya gila-gilaan.

album ke depannya sudah ada bayangan?

Sudah ada secara musik dan kayanya satu rhythm sama musik disko di “Moscato”

 

_____

Penulis
Jonathan
Cuma sok tahu tentang musik. Suka foto-foto stage juga.

Eksplor konten lain Pophariini

Saling Menguatkan bersama Nino Kayam

Mengenai “Nikmati Rindunya”, Nino mendedikasikan single terbarunya ini untuk sang ayah yang berpulang di bulan Oktober 2020 lalu.

MANJA yang Menolak Tua

“Still Young” menjadi nomor ketiga dalam perjalanan MANJA setelah di tahun 2020 lalu mereka memperkenalkan diri melalui “Rise” dan juga “Games We Play”.