Lagu-lagu Pop Sekitar Reformasi 1998

13991
Ilustrasi: https://www.instagram.com/abkadakab/

Momen Reformasi 1998 membawa pengaruh besar di seluruh lini kehidupan masyarakat Indonesia, tidak terkecuali di lingkup industri rekaman. Sebagai bagian dari media massa, produk rekaman seperti lagu tentu sangat terpengaruh dengan kondisi sosial politik Indonesia kala itu.

Ada beberapa nama “langganan” seperti Iwan Fals yang tentu tidak ketinggalan merekam momen-momen kejatuhan Soeharto. Di tahun tersebut, Iwan bersama Setiawan Djody, Sawung Jabo, Yockie Suryoprayogo, dan W.S Rendra “menghidupkan lagi” proyek supergrup Kantata Takwa lewat Kantata Samsara. Mungkin karena semangat zamannya sudah berubah, album tadi tidak sefenomenal pendahulunya. Lebih ke proyek temu kangen semata.

foto: https://www.kasetlalu.com/product/iwan-fals-kantata-takwa-samsara/

Yang menarik adalah kemunculan nama-nama yang identik dengan lagu-lagu pop berlirik tak jauh dari urusan pribadi dan “remeh temeh” seperti kangen dengan kekasih atau nembak pacar. Saat momen Reformasi, mereka melakukan interpretasi dengan caranya sendiri. Berikut 5 lagu pop sekitar Reformasi 1998.

 

Slank – “PR Si Sum”

foto: https://www.flickr.com/photos/amu/3342109759

Album Mata Hati Reformasi secara eksplisit jadi rekaman Kaka, Bimbim, dan tiga personel baru Abdee Negara, Ridho dan Ivanka yang mengisi pos yang ditinggal triumvirat Bongky, Indra Qadarsih, dan Pay, dalam memaknai momen Reformasi. Namun sebelum Soeharto terjungkal, mereka sudah memotret borok-borok politik jelang senjakala Orde Baru dalam “PR Si Sum” yang ada di album Tujuh. Album ini punya cerita kesuksesannya sendiri.

Jarang Slank membuat lirik dengan bahasa metafor. Dalam lagu yang uthak athik gathuk-nya adalah anagram dari SU (Sidang Umum) MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) ini, Slank mengibaratkan pimpinan parlemen waktu itu sebagai “ketua kelas yang nggak demokrasi” yang “nggak mau denger problem sekolah tapi ngangguk-ngangguk apa kata kepala sekolah”. Atas petunjuk bapak pimpinan, kita tidak perlu menyebut siapa nama yang sedang kita bicaraken.

 

Pure Saturday – “Banga”

Setelah menjadi indie darling saat pertama kali muncul di tahun 1996, Pure Saturday mengubah nuansa musik menjadi lebih kelam dan “berat” di album kedua, Utopia, pada tahun 1999. Sebagaimana dituturkan dalam buku Based on True Story: Pure Saturday tulisan Idhar Resmadi, produksi album rilisan Aquarius Musikindo ini dilakukan dalam suasana kerusuhan jelang jatuhnya rezim Orde Baru. Setelah teken kontrak Pure Saturday yang saat itu beranggotakan Suar Nasution, Arief Hamdani, Ade Purnama dan si kembar Adhitya dan Yudhistira Ardinugraha, mendapat fasilitas rekaman sampai 70 shift di studio 21 di Pluit, Jakarta Utara.

Dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta lewat Puncak untuk menyelesaikan proses mixing, mobil milik gitaris Arief Hamdani dikepung massa demonstran di depan Istana Cipanas. Gara-garanya mobil miliknya adalah sedan keluaran Eropa. Beruntung ada tantara yang bisa membereskan situasi. Demi alasan keamanan, juga penghematan, mereka memilih menginap di dekat pintu tol Ciawi agar dapat dengan mudah langsung menuju Pluit lewat jalan tol menghindari kemungkinan terjebak demonstrasi jika harus lewat dalam kota. Segala ketakutan, kekecewaan, juga ketidakpastian saat itu terangkum dalam “Kaca”

“Lihat negeri ini
Tak sanggup lagi berdiri
Semua jadi sangsi
Menumpu harap di sini…”

 

Sheila On 7 – “Bobrok”

foto: https://www.bintang.com/celeb/read/2591402/editor-says-sheila-on-7-dan-memori-masa-muda

Tahun 1998, Akhdiyat Duta, Eross Candra, Adam Subarkah, juga Saktia Ari Seno dan Anton Widiastanto adalah pemuda-pemuda tanggung early 20’s. Yogyakarta sebagai kota pelajar menjadi salah satu sumbu pergerakan Reformasi. Berbagai pergerakan demonstrasi mahasiswa mencapai titik puncak saat  meninggalnya mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Mozes Gatutkaca di Peristiwa Gejayan yang kemudian memicu warga Yogya bersama-sama mendukung Gerakan Reformasi. Seruan itu dinyatakan dalam maklumat yang dibacakan Sultan HB X di hadapan hampir sejuta penduduk Yogyakarta dan sekitarnya di Alun-Alun Utara Kraton.

“Situasinya mendukung untuk menulis lagu seperti itu. Semua remaja waktu itu mau nggak mau harus melek dengan kondisi sekitarnya,” ujar Eross saat menceritakan latar belakang dirinya menciptakan “Bobrok”, nomor berdurasi 3:39 menit dengan lirik dan aransemen yang berbeda sendiri jika dibandingkan deretan lagu-lagu hits pemuncak tangga lagu radio dan televisi seperti “Dan…”, “Kita”, “J.A.P”, atau “Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki”. Ada kata-kata seperti nation, demoralization, valediction, sampai umpatan go to hell. Sesuatu yang mungkin tak akan kita temui lagi di katalog lagu-lagu Sheila On 7.

 

Ahmad Band – “Distorsi”

foto: https://www.kasetlalu.com/product/ahmad-band-iso-ideologi-sikap-otak/

Setelah kesuksesan album Pandawa Lima, Dewa 19 justru mulai limbung. Ari Lasso dan Erwin Prasetya harus angkat kaki gara-gara semakin teler. Aksan Sjuman mesti pensiun dini karena gebukan drumnya dianggap Dhani kurang nge-rock. Di saat saat vakum seperti itu, Ahmad Dhani lalu mengumpulkan nama-nama paten seperti Pay dan Bongky Marcell yang baru meninggalkan Slank, Bimo Sulaksono eks drummer Netral, dan tentu kompatriot sejati Dhani, Andra Ramadhan.

Dengan line up seperti itu, keluarlah Ahmad Band, cikal bakal kenarsisan Ahmad Dhani yang untungnya bisa dimaklumi ketimbang apa yang kita lihat hari ini. Dengan mempersonifikasikan diri layaknya Soekarno Dhani membuat anthem yang membikin panas telinga. “Yang muda mabok yang tua korup. Mabok terus korup terus. Jayalah negeri ini, jayalah negeri ini…”. Melihat segala polah Dhani hari ini, rasanya dia lebih baik berada di studio saja ketimbang di panggung politik.

 GIGI – “Rindukan Damai”

foto: https://www.kasetlalu.com/product/gigi-kilas-balik/

Penjualan album 2X2 yang disebut-sebut proyek prestisius GIGI karena sampai melibatkan Billy Sheehan dari Mr. Big ternyata tak sesuai harapan. Transisi setelah pergantian personel, Thomas dan Ronal keluar digantikan Opet Alatas dan Budhy Haryono, belum berjalan mulus. Segala aral tadi kemudian berbalik arah di Kilas Balik. Dengan bekal “Terbang” dan “Dimanakah Kau Berada”, GIGI membuktikan mereka masih mampu menggigit.

Membuat balada cantik adalah salah satu kekuatan GIGI, seperti yang mereka buktikan saat membesut “Nirwana (Yang Tlah Berlalu)”. Dewa Budjana sebagai penulis lirik membuat satu balada lirih terinspirasi Imagine milik John Lennon  yang liriknya menjadi harapan segera pulihnya luka-luka di negara ini.

Bayangkan…
Bila kita bisa saling memaafkan
Bayangkan…
Bila kita bisa saling berpelukan
Tiada perang, kelicikan
Tangis kelaparan

 

____