THE NOW SOUNDS OF INDONESIA

Revolution Slider Error: Slider with alias global-slider not found.
Maybe you mean: 'home-slider'

In Memoriam: Musisi yang Meninggalkan Kita di 2019

Musisi-musisi yang meninggal dunia di 2019

Tahun 2019 menyisakan banyak duka di dunia musik tanah air. Tidak sedikit diantara musisi yang pergi meninggalkan kita di tahun ini.

Tak ada yang suka ditinggal pergi secara tiba-tiba, bahkan untuk musisi yang meninggal muda di saat bandnya tengah aktif meniti kariernya. Karena mereka lah musik Indonesia tetap berwarna. Kiprah mereka, apapun musik dan perjalanan yang mereka lakoni sudah memberikan sumbangsih bagi musik tanah air.

Berikut ini adalah sekelumit cerita dari 5 musisi yang meninggal dunia di tahun 2019.

Azar Fareeza (Lizzie)

Azar Fareeza / dok. Lizzie

Stroke memang menjadi malaikat pencabut nyawa yang tak kenal kompromi. Siapapun bisa menjadi target berikut yang dikunjunginya. Di tahun 2019 ini, duka menyelimuti tubuh band heavy rock asal Bandung, Lizzie tatkala sang drummer, Azar meninggal dunia pada 3 Agustus lalu akibat stroke. Tak ada yang bisa menerima kenyataan pahit ini, termasuk buat band asal Bandung yang berdiri sejak 2013. Masih terlalu sedikit lika-liku cerita dengan sang almarhum sebelum akhirnya ia pergi begitu saja.

Simak cerita selengkapnya 

Iskandar The Rollies

Iskandar The Rollies / dok. instagram.com/oetjetekol.

Sosok Teungku Zulian Iskandar menjadi penting karena dia menjadi salah satu dari nyawa The Rollies. Tak ada yang bisa menggantikan gaya permainan saksofon beliau, baik di atas panggung dan di jejak-jejak rekaman band soul funk legendaris asal Bandung ini dari jaman ke jaman. Lebih dari sekadar musisi senior, almarhum adalah legenda yang tak boleh dilupakan jaman.

Simak cerita selengkapnya

Agung Hercules

Agung Hercules / instagram.com/agunghercules88

Sebelum Agung Hercules, tak pernah ada sosok musisi yang menggabungkan antara kekuatan binaraga dengan musik dangdut modern. Inilah yang lantas menjadikan sosok Agung Hercules menjadi fenomena. Ia menciptakan fusion yang tak pernah terpikirkan oleh musisi dangdut, juga para binaragawan yang ingin bantir setir mencicipi dunia musik. Kalau pun ada, mungkin tak ada yang sekeren dan semacho Agung Hercules. Dunia musik dan hiburan benar-benar terpukul dengan kepergian beliau.

Simak cerita selengkapnya

Mus Mulyadi 

Mus-Mulyadi. Foto: CNN-Indonesia / Resty Armenia

Buat dunia musik, khususnya keroncong, nama Mus Mulyadi sudah ditulis dengan tinta emas. Menurut kami, Mus Mulyadi lebih dari itu. Kakak dari musisi jazz, Mus Mudjiono ini menjadi sosok yang tak boleh dilupakan di peta musik populer tanah air, baik pop dan rock. Ialah pendiri Ariesta Bhirawa, salah satu band psikedelik pop yang dipandang oleh kolektor dan fans di luar negri terhadap musik-musik aneh dari Asia. Mus juga mendirikan The Exotic selama pengembaraannya di Singapura, band pop rock underrated yang vinylnya menjadi buruan kolektor. Puncaknya ketika ia bermain di Favourite’s Group bersama A. Riyanto, grup yang menghantarkannya ke puncak karier bermusik di tanah air.

Simak cerita selengkapnya

Djaduk Ferianto

Almarhum saat rekaman kolaborasi Kuaetnika dan Tashoora di lagu “Tatap”, Agustus 2019 / dok. tashoora (instagram)

Tak ada musisi yang seintens itu dalam menekuni karya musik juga hal-hal lain yang berkaitan dengan musik. Itu mengapa Djaduk menurut kami sudah menjadi ikon kota Jogja ketika membicarakan soal skena musik di kota ini. Karya-karyanya yang ditorehkannya di Kua Etnika juga di Orkes Sinten Remen menjadi notable ketika membicarakan pendekatan musik etnik dan modern. Di luar itu, keterlibatan untuk skena musik jazz atas Ngayogjazz dan Jazz Bromo yang dilakoninya membuat dunia musik tanah air, terkhusus Jazz dan Jogja merasa kehilangan yang amat sangat.

10 Album Indonesia Terbaik 2019 Versi Pop Hari Ini

Musik tahun 2019 ditutup dengan menarik. Solois pria masih bermunculan, meskipun kebanyakan bukan wajah baru. Begitu pula dengan konsistensi grup musik/band di skena arus samping (independen). Mereka tumbuh dan merilis album dan rekaman-rekaman yang menarik.

Hal ini berbanding terbalik dengan arus utama yang sayangnya minim wajah baru yang menggebrak. Hingga kini, arus utama masih didominasi nama besar seperti Slank, GIGI, Sheila on 7. Namun bicara arus utama, salah satu solois perempuan di arus utama pun melakukan gebrakan ciamik dengan merilis albu ketiganya yang di luar kebiasaan. Dialah Isyana Sarasvati dengan album LEXICON.

Penting dicatat kesehatan mental juga menjadi isu yang kerap muncul di akhir dekade 2010. Dimulai tahun lalu dengan Mantra Mantra-nya Kunto Aji. Lalu bagaikan maraton, tongkat estafet terus bergulir. Beberapa musisi kerap mengusung tema ini. Yang dominan tentu Hindia dengan album perdananya Menari Dengan Bayangan, juga Isyana yang membicarakan hal yang sama melalu salah satu lagunya di album terbarunya.

Yang pasti selama ini, termasuk di tahun 2019, Pop Hari Ini berusaha konsisten menulis resensi album-album Indonesia yang kami anggap menarik dan layak untuk disebarluaskan. Sehingga ketika di akhir tahun kami di redaksi harus membuat daftar album paling menarik di sepanjang tahun 2019 kemarin, sebagian besar dari album yang kami ulas masuk ke dalam daftar ini.

Silahkan disimak ini 10 Album Indonesia Terbaik Pilihan Pop Hari Ini, serta tidak lupa menyertakan 5 album mini pilihan kami juga. Dari pop, rock, rock-opera, folk, delta-blues, jazz, metal dan hip hop. 2019 menutup dekade 2010 dengan sangat menarik!


1. Isyana Sarasvati – LEXICON

Album ketiga yang dirilis di penghujung 2019 ini mengejutkan banyak pihak. Karena meramu genre musik opera/klasik dengan rock/metal, dengan skill dan aransemen yang mumpuni serta mengangkat tema yang sangat personal. LEXICON masih menawarkan denting piano dan liukan vokal Isyan. Namun kali ini minus nuansa pop-urban, R&B dan irama joget-able yang sebelumnya menjadi ciri Isyan. Gantinya kita akan disajikan nada-nada musik klasik era Victoria yang bahkan dibalut sentuhan rock/metal yang mengingatkan pada musik opera ala Queen.

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

2. Hindia – Menari Dalam Bayangan

Menari Dengan Bayangan bagaikan versi agresif dari album Mantra Mantra-nya Kunto Aji. Menari punya beberapa hal menarik: diksi penulisan lirik yang acak seperti kolase, pemaknaan lirik ke sana kemari juga manuver vokal yang bisa menggeram sekaligus, santai dan bijak. Musiknya pun ramai. Dari bebunyian masinal hingga instrumen live riuh dengan solo gitar juga musik akustik balada. Semuanya komplit disajikan di album ini dengan bingkai musik pop ala Hindia (atau, bolehkah kita sebut: Hindia-pop?).

Simak resensi penuh albumnya di sini

 

3. Tuan Tigabelas – Harimau Soematra

Tak dapat dipungkiri, ‘dukungan semesta’ yang ada, yakni para kolaborator yang terlibat menjadikan Harimau Soematra sebuah debut yang utuh dan solid. Setiap jengkal lirik yang ditembakkan tepat sasaran, terkhusus “Last Roar” yang memang punya daya magisnya sebagai satu dari komposisi kritik favorit kami di tahun ini.

 

4. The Adams – Agterplaas

Agterplaas adalah album yang bisa memuaskan semua pihak. Antara menyeimbangkan ambisi pribadi musisinya, menjawab ‘tantangan’ kritikus, di satu sisi memanjakan fans. Untuk fans, album ini jelas bisa menyumbangkan lagu-lagu baru, lagu-lagu eargasm ke dalam setlist panggung mereka selanjutnya. Dan untuk kritikus yang biasanya ingin sesuatu yang ‘berbeda dari album terdahlu’ pasti akan dibuat tersenyum bagaimana lewat Agteplaas, The Adams bisa menjadi sedemikan kompleks dan lenturnya.

Jogja Noise Bombing Festival Kembali Digelar

Penampilan Anxiety di Jogja Noise Bombing-2017. Foto Dea Karina.

Jogja Noise Bombing Festival akan kembali digelar tanggal 25 dan 26 Januari 2020. Selama berjalan dari tahun ke tahun, festival ini membuktikan bahwa sesuatu yang bising tak selalu ‘menganggu’ pendengaran.

Kebisingan bukan pertunjukan musik saja. Festival ini juga memiliki kegiatan lainnya seperti workshop, residensi, pameran, screening film, serta diskusi yang berhubungan dengan ranah noise.

Di hari pertama menyuguhkan pertunjukan noise bombing jalanan di area seputar Malioboro dan screening film dokumenter di Loops Station. Di hari kedua fokus pada pertunjukan musik noise di Pendhapa Art Space.

Jogja Noise Bombing family 2018 / foto: Sanne Krogh Groth.

Untuk pertunjukan musik mereka yang bakal tampil datang dari berbagai daerah dan negara. Sebut saja Tzii (Belgia), Catatonia (Singapore), Aldo Achmad (Solo), SitBQ (Korea Selatan), Dea Karina (Yogyakarta), Furchick (Australia), Thorn The Beauty (Gresik), LanSanese (USA/Yogyakarta), Wei Wang (Taiwan), Classism (USA/Thailand), SAJJRA (Peru), Cheng Yi Chong (Taiwan), Makassar Noise Terror (Makassar), PGR (Italia), GRAEA (Yogyakarta), dan Handoyo Purwowijoyo (Yogyakarta).

Jadwal Jogja Noise Bombing Festival 2020

Menariknya, kali ini pergelaran hadir dengan tema utama film dokumenter lewat screening 4 film dokumenter bertemakan Jogja Noise Bombing. Film dibuat dua sutradara asal Yogyakarta, satu asal London, dan satu lagi asal Australia.

Bagi yang tertarik datang, acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Kabarnya, sebelum festival berlangsung ada beberapa penampil yang melaksanakan rangkaian pre tour event. Cek saja @jogjanoiseclub.

_____

Seniman Video Allan Soebakir Tur Pameran 100 Video Musik

Sebagai peringatan 10 tahun dalam berkarya di dunia videografi, Allan Soebakir akan menggelar pameran tunggalnya yang bertajuk 100 Video Musik. Dikenal sebagai seorang seniman gambar gerak sekaligus pendiri rumah produski Sinema Pinggiran, pria ini telah menciptakan ratusan karya video klip musik di dalam negeri.

“Pameran kan memberi arti kehidupan bagi si seniman, lewat pameran ini saya mau memaknai apa yang sudah saya buat selama 10 tahun ini.”

Rangkaian tur pameran 100 Video Musik sesi pertama akan digelar di 10 kota dan juga mengajak 26 musisi yang pernah bekerja sama dengannya. Dimulai dari Jakarta, Tangerang, Bekasi, Kuningan, Kendal, Semarang, Yogyakarta, Solo, Malang dan Sukabumi.

Allan dan Sinema Pinggiran juga membuka jalur crowdfunding kepada khalayak ramai yang ingin membantu donasi mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu melalui laman kolase.com untuk pembiayaan penyelenggaraan pamerannya kali ini. Silahkan klik tautan di bawah.

 

____

Album yang Mengubah Hidup: Afgan

Afgan / foto: @davianakbar

Afgan tengah sibuk mempersiapkan Konser Amal Afgan yang bakal digelar 24 Februari 2019 besok di M Bloc Live Space, Jakarta Selatan. Di hari ulang tahunnya pada 27 Mei lalu, Pop Hari Ini berkesempatan menemuinya. Menurutnya, konser ini akan jadi salah satu hari bersejarah buat dirinya.

“Gue akan membuktikan bahwa musik bukan sekadar karya. Tapi, juga bisa memberi makna dan membantu sesama,” ujarnya.

Lewat hashtag #KonserAmalAfgan yang bekerjasama dengan @kitabisacom penyanyi yang sempat vakum beberapa waktu lalu ini akan mendonasikan penjualan tiket untuk beasiswa pendidikan anak-anak yang membutuhkan.

Kami bertemu Afgan untuk bertanya lebih jauh soal musik, soal penyanyi favorit juga album yang mengubah hidupnya. Tentang sosok penyanyi yang looked up to dan alasannya, Afgan membeberkan tentang Chrisye, “Karya-karyanya berhasil dari bertahun-tahun yang lalu. Cuma sampai sekarang masih nggak ada habisnya.” ujarnya.

Intinya, Afgan mengagumi Chrisye karena lagu-lagunya masih terus didengar dan catatan perkalanan karier bermusik yang sangat luar biasa. Menurut Afgan tidak semua penyanyi bisa punya umur karier yang panjang.

“He’s whole life didedikasikan untuk musik. Dia sosok yang sangat humble dan sangat appreciative dengan hal-hal kecil dan segala yang ada di sekelilingnya. Itu satu hal yang aku pengin achieve buat diri aku sendiri,” jelas Afgan.

Namun di balik kekagumannya terhadap Chrisye, ternyata Afgan memilih satu album band luar yang ia anggap telah sukses mengubah hidupnya. Apa album itu, mari simak bersama.

Mylo Xyloto – Coldplay

album Mylo Xyloto / dok. coldplay.com

Mylo Xyloto (dieja: maɪloʊ ˈzaɪlətoʊ) adalah album kelima Coldplay, dirilis Oktober 2011. Dalam rekamannya mereka kembali dibantu oleh Brian Eno, produser mereka di album sebelumnya, Viva la Vida or Death and All His Friends.

Mylo Xyloto sendiri adalah sebuah konsep album, sebuah dan opera rock tematik. Album ini bercerita tentang sebuah ‘perang’ melawan sound dan suara oleh sebuah pemerintah yang bigot yang (di album itu) ada di dunia Silencia.

Mylo Xyloto direspon beragam oleh jurnalis dan kritikus. Q Magazine memberikan bintang lima untuk album ini. Sementara SPIN dan Pitchfork memberikan peringkat 7 dari 10. “Seperti Viva La Vida, Mylo Xyloto tergambar dari sebuah palet yang luas membuat 3 album pertama Coldplay ini terdengar lebih aneh,” tulis SPIN.

“Sampai sekarang album Coldplay kesukaan ini gue belum tergantikan. Gue denger terus-terusan waktu itu sempat religiously gue dengerin. Kayak dalam kondisi apapun gue dengerin. Gue selalu ngerasa lifted. Alasannya simpel: strong lyrics, dalam banget liriknya.” kesannya soal album studio kelima Coldplay ini.

“Gue ngerasa sound yang mereka bikin bisa ‘heal your soul’. Makanya, menurut gue mereka jenius banget dan lagu favorit gue ‘Us Against the World’,” tambahnya.

“Mereka mulai bereksperimen secara sound, dan gue ngerasain banget calm-nya pas gue dengerin album ini. Sebelumnya lebih gloomy, lebih agak dark.” tutupnya.

______

Dewa 19 Sambut 20 Tahun Bintang Lima dengan Tur Konser

Sebuah tur yang khusus membawakan lagu-lagu dari album Bintang Lima / dok. otelloasia

Dewa 19 akan melaksanakan tur konser yang diberi tajuk “20 Tahun Bintang Lima Tour 2020 featuring Once Mekel | Dul Jaelani”. Tur hadir dengan format Ahmad Dhani, Agung Yudha Asmara, Andra Ramadhan, dan Yuke Sampurna.

Tur sebagai perayaan ke-20 album Bintang Lima sekaligus momen kembalinya Ahmad Dhani. Album yang tak berlebihan jika disebut album cinta terbaik di muka bumi ini pun membawa vokalis aslinya Once Mekel plus Dul Jaelani.

Tur dipromotori oleh Otello Asia serta konsep konser langsung ditangan Ahmad Dhani. Sysan Ibrahim selaku CEO dari Otello Asia dalam jumpa pers mengaku penggemar berat Dewa, dan album Bintang Lima merupakan favoritnya.

“Tentunya menurut saya album favorit para pemusik, pendengar, pecinta musik Indonesia karena penjualannya tertinggi dari album-album Dewa yang lain. Hampir 2 juta keping untuk album Bintang Lima. Tahun ini pas banget, 20 tahun yang lalu. Saya pengin membangkitkan memori dari Baladewa terhadap album Bintang Lima,” kata Sysan di hadapan rekan-rekan media.

Album Bintang Lima masih gentayangan di daftar lagu pemutar musik mereka yang jatuh cinta, mereka yang sedang berjuang menjalani kehidupan, atau mereka yang termakan rasa cemburu.

Ahmad Dhani / foto: Ayu Utami Anggraeni.

Ahmad Dhani mengatakan, 20 tahun yang lalu penggemar Dewa 19 masih belum mapan. “Sekarang alhamdulillah Baladewanya sudah pada mapan. Sehingga bisa beli tiket Dewa 19 yang menurut saya cukup mahal. Buat mereka nggak mahal, tapi untuk penggemar band lain mungkin mahal,” ungkap Dhani.

Once Mekel, vokalis Dewa di album Bintang Lima / foto: Ayu Utami Anggraeni

Di tur ini, Once harus kembali menyesuaikan segala sesuatunya. Ia mengatakan, “Banyak lagu yang saya udah nggak pernah bawakan seperti lagu ‘Cinta Adalah Misteri’. Itu jarang kami bawakan bahkan sejak kami bergabung 2010 pun. Saya harus menghafalkan lagi beberapa lagu.”

Berbeda dengan Andra Ramadhan yang terdengar antusias. “Kalau saya pribadi 100% siap nggak tau yang lain karena udah ngulik. Udah hafal lagu-lagunya,” kata Andra.

Andra Ramadhan / foto: Ayu Utami Anggraeni.

Dalam tur, Ahmad Dhani menggaet anaknya Dul Jaelani. Dul mengatakan kepada rekan-rekan media, ia merasa bangga karena pernah diberi kepercayaan menggantikan sementara sang Ayah di panggung-panggung Dewa.

Dul Jaleani / foto: Ayu Utami Anggraeni)

“Sekarang Alhamdulillah ikut tur. Saya Baladewa sejati, grogi di samping para idola. Saya rasa akan banyak tantangan yang akan datang. Saya harus siap-siap menghadapi,” kata Dul.

Dalam album Bintang Lima yang sebenarnya cukup menarik adalah Tyo Nugros yang malah tidak dilibatkan. Ahmad Dhani menjawab hal tersebut, mungkin ‘matematika’ – nya tidak ketemu.

Harga tiket konser di setiap kota berbeda. Harga tiket normal konser di Bandung kategori Festival Rp 260 ribu dan Gold Rp 780 ribu. Selengkapnya bisa cek di penjualan resminya via tiket.com.

Sebagai bocoran, Jakarta masih dalam diskusi promotor untuk menjadi kota penutup seluruh rangkaian tur. Bahkan, hal lain yang tak terduga bisa saja terjadi misalnya Dewa 19 menggenapkan turnya menjadi 20 kota.

Berikut ini jadwal “20 Tahun Bintang Lima Tour 2020 featuring Once Mekel | Dul Jaelani”:

15 Februari 2020 – Trans Convention Center, Bandung

22 Februari 2020 – Jogja Expo Center Hall B & C, Yogyakarta

KaleidosPOP 2019: Oom Leo, Bukan Karaoke Hura-Hura

Ilustrasi @abkadakab

Membicarakan musik 2019 di Indonesia tentu tidak lepas dari fenomena karaoke. Apa dan kapan tepatnya fenomena ini bermula? Salah satu sosok yang bisa dibilang cukup bertanggung jawab terhadap fenomena karaoke adalah pria bernama lengkap Narpati Awangga ini. Berbincang dengan Oom Leo (panggilan sapaannya) tentunya seringkali keluar konteks, namun tetap pada jalurnya, yaitu musik.

Kepada Pop Hari Ini, Oom Leo membicarakan generasi musik yang belum berubah, kehidupan dalam sebuah skena, karaoke (tentunya), budaya musik yang baginya sudah hancur, hingga royalti bagi musisi.


 

Oom Leo / @tebbywibowo

Akan bertahan sampai kapan fenomena karaoke ini?

Awet sih, selama belum ada gelombang baru ya, dan saya belum ‘ngeliat lagi adanya gelombang baru yang menyapu kebudayaan yang lama ini nih. Band-band seperti Sheila On 7 dan Naif yang masih survive sampai saat ini tidak terjadi di era 90-an dulu seperti fenomena Koes Plus atau God Bless yang mana mereka tidak bisa survive sebagai band yang bawain lagu-lagu lama. Walaupun dulu pernah dicoba seperti reunian Koes Plus, tapi itu tidak serta merta melahirkan sebuah gelombang. Kalau sekarang, saya pikir fenomena itu kembali berulang tapi bergulir sebagai gelombang. Sheila On 7 jadwal panggungnya tidak berhenti, begitu juga dengan Naif dan Padi. Memang ada beberapa juga yang tidak bertahan.

Apakah bisa dibilang karaoke ini menjadi alternatif bagi fans dengan band-band lama ini? Karena kan ada beberapa juga yang tidak survive.

Mereka kangen sebenarnya. Mereka kangen sama budaya yang pernah ada, yang memang bagus banget, kaya pemilihan lagu. Saya berani bilang sejelek-jeleknya kalian ngecengin lagu Potret yang “Salah” tapi secara fenomena struktur lagu mereka cukup unik untuk dinyanyikan dari awal sampai habis, itu terwakilkan oleh mereka. Lagunya Reza “Berharap Tak Berpisah”, atau lagu Oasis, atau “Bohemian Rhapsody” milik Queen itu memungkinkan orang untuk menikmati sebuah kultur di mana mereka bisa bernyanyi dari awal sampai habis. Mungkin itu yang tidak didapatkan dari band-band pada masa ini.

Untuk subkultur Indonesia sendiri sebenarnya sudah berhenti di tahun 90an.

Saya berani bilang, lagu B*r***ra 4 tahun yang lalu mungkin gila, semua orang hype. Coba dengerin sekarang dan coba nyanyiin bareng-bareng lagi, teriak-teriak, mungkin harus nunggu sampai 10 tahun lagi supaya mereka akan kangen sama lagu mereka. tapi, B*r***ra tidak berada di ranah pop, coba nanya ke orang desa atau orang (maaf) kabupaten yang tidak pernah dipanggungin sama B*r***ra, mereka mungkin tidak punya akses ke band tersebut. Mereka lebih memilih nonton V** V*l*n dibandingkan B*r***ra di Youtube. Dan anak muda jauh lebih punya pilihan kepada hal-hal yang mereka anggap lebih stabil, contoh mereka memilih budaya-budaya luar, K-Pop, atau misalnya budaya pop yang sekarang seperti St*ph*n** P**tr* atau P*m*k*s, ibaratnya gelombang yang lebih umum dan mereka lebih mudah dapetin aksesnya. Ada di TV atau ada di Youtube berdasarkan rekomendasi yang mereka punya. Jadi walaupun kota-kota besar bisa dikuasai sama band-band sidestream, yang kita anggap sidestream tapi akhirnya mainstream seperti D*n*la, J*s*n R*nt*, T*l*s atau siapapun yang sering manggung di tengah kota, itu tidak terjadi sama mereka di level daerah. Karena penduduk yang lebih banyak adanya di sana, bukan di tengah kota. Penduduk Jakarta memang banyak, tapi penduduk Jawa Barat seperti Bandung dan seluruh pinggiran-pinggiran mungkin lebih banyak mereka.

We The Fest dan Synchronize Festival Telah Mengumumkan Penjualan Tiketnya

Kedua festival bergengsi ini sudah membuka tiket resminya / dok. istimewa

Dua festival musik terbesar di Indonesia, Synchronize Fest dan We The Fest belum lama ini telah mengumumkan info penjualan tiket resminya untuk tahun 2020 ini. Penjualan tiket festival tersebut diumumkan lewat masing-masing akun resmi instagram mereka bahkan sejak akhir Desember tahun lalu.

Para festival-goers menyambut antusias pengumuman penjualan tiket kedua festival ini. Bahkan tak sedikit diantara mereka saling meminta nama-nama musisi favorit mereka sebagai line up kedua festival ini nanti.

Tak terpaut jauh, Synchronize Festival membuka tiket Early Bird-nya sejak 1 Januari kemarin, sementara We The Fest baru mengumumkan penjualan tiket mereka pada 8 Januari kemarin.

Menariknya, tidak sedikit festivalgoers yang memanfaatkan momen ini untuk membeli tiket sedini mungkin. Ini bisa dilihat dari penjualan resmi, Synchronize Festival menjual tiket resminya via website resmi mereka ini bahkan sudah ludes terjual kurang dari 24 jam saja. Saat ini, festival yang populer karena menampilkan konten musisi lokal ini tengah mengumumkan penjualan tiket Pre-Sale 1 yang akan dibuka pada Rabu, 29 Januari besok.

Festival musik bergengsi milik Ismaya Live, We The Fest 2020 membuka penjualan tiketnya via website resmi mereka. Festival yang sudah memasuki tahun ke- 7 ini telah membagi 2 kategori, dari General Admission (GA) dan Very Important Banana (VIB). Lewat akun instagramnya, festival yang sedianya akan digelar 14-16 Agustus ini menampilkan harga untuk masing-masing tiket. Yang termurah adalah GA Early Entry 1 dengan harga 1.2 juta untuk 3 hari.

Meskipun masing-masing festival belum menentukan lokasi festival serta musisi-musisi yang bakal tampil, namun mungkin pilihan untuk ‘mengamankan’ tiket festival jauh hari sebelum penyelenggaraan festival bisa jadi strategi jitu ketimbang kehabisan tiket. Tertarik untuk mencoba?

_____

Pasca Rilis Album, Amboro Gelar Tur Padepokan

Amboro / dok. Amboro

Amboro akhirnya resmi merilis album perdana bertajuk Sumber Rejeki pada Desember 2019. Album ini berisi delapan lagu ditambah satu nomor yang disebut bonus track.

Tema yang diangkat di album tak jauh dari keseharian seperti “Nonton Konser” yang mengingatkan pada lagu yang diciptakan Alm. Benyamin Sueb, “Nonton Bioskop”.

Penyanyi/penulis lagu yang memiliki nama asli Dimas Amboro ini pun mengaku, budaya Betawi secara tidak langsung berpengaruh pada setiap karya yang ia ciptakan. Meski begitu, Amboro tak lantas bernyanyi sambil memainkan tanjidor maupun rebana. Ia cukup tampil modern dengan gitar akustik.

View this post on Instagram

Ini konsep lapak kejujuran. Seperti pas rilis kemarin. Merch yang ada di display itu ditemani oleh toples (wadah bayarnya). Berikut dengan harga masing-masing item ada disitu. Jadi yang belanja ya tinggal pilih item yg dikehendaki dan baca keterangannya. Kemudian bayarlah sesuai harga dengan uang pas kerna tak ada yang melayani. Masukkan uang pada wadah pembayaran yg disediakan. Td malam ada CD Ada kalender (bonus stiker) Nah.. Berikutnya ada kaos Di next padepokan Terima kasih sudah belanja di "lapak kejujuran" pada rangkaian tur padepokan. Lapak kejujuran membangun kita. Membangun kejujuran. Membangun kerukunan. Membangun kesadaran. Lapak kejujuran berkontribusi dalam pembangunan mental dan kesadaran kita. . . 📷: @mangap7

A post shared by amboro (@amboro__) on

“Ya gimana, mau ngeband tapi ribet. Lo dengar aja lagu ‘Nonton Konser’, itu kan ada dus tas dus tas, karena nggak ada pemain drum aja,” kata Amboro dalam siaran pers.

Amboro, siap tur

Karier Amboro dimulai saat mengikuti ajang Go Ahead Challenge 2018. Meski gagal menang, Amboro sudah mencicipi panggung skala kecil maupun festival besar seperti Soundrenaline dan We The Fest.

Setelah album dirilis, Amboro siap mengadakan apa yang dinamakan ‘Tur Padepokan’, sebuah tur album yang berlangsung sejak 16 Januari – 7 Februari 2020. Ia bakal singgah di sejumlah titik di Jabodetabek dan Pulau Jawa, antara lain Bintaro, Kemang, Karang Tengah, Tangerang, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Yogyakarta, Solo, dan Blok M. Tur ini digagas oleh Sarang Laba, kumpulan pergerakan yang juga disebut sebagai manajemen Amboro.

____

Menilik Perjalanan Masa Lalu Gamaliel Lewat “Forever More”

Setelah memutuskan untuk beristirahat dari grup vokal GAC yang membesarkan namanya dan kedua rekannya dalam industri musik Indonesia pada penghujung Agustus 2019 lalu. Gamaliel kini hadir mempersembahkan sebuah lagu yang berisi ungkapan hatinya yang diberi tajuk “Forver More”. 

Pria yang sejak kecil sudah bercita-cita menjadi seorang penyanyi ini merasa perlu “ruang” untuk dirinya sendiri, mengenal dan memahami apa yang betul-betul menjadi keinginannya. Ia kemudian memulai “perjalanan”, sebuah perjalanan kembali ke dimensi kehidupannya di masa lalu, mulai mendengarkan kembali lagu-lagu favoritnya semasa kecil sambil melihat foto-foto dan dokumen-dokumen lama yang mengingatkannya kembali akan sosok dirinya saat masih kecil. 

Dari “perjalanan” itulah “Forever More” tercipta, bukan sekedar sebuah lagu baru saja. Lagu ini merupakan perjalanan seorang Gamaliel menemukan dirinya yang dulu, seorang Gamaliel yang belum mengenal dunia, seorang Gamaliel yang penuh dengan mimpi.

Dalam lagu ini ia menggandeng Aldi Nada Permana yang didapuk sebagai produser. Ia menyadari butuh bekerjasama dengan seseorang yang bukan hanya berbakat namun juga mau mendengarkan kisahnya. Setelah menceritakan seluruh hidupnya dalam waktu yang cukup singkat, Aldi Nada Permana secara brilian dapat menginterpretasikan dan menjahit “perjalanan” ini menjadi sebuah karya yang indah. 

 

Stars and Rabbit dan Persiapan Album Baru

kika: Didit dan Elda, Stars and Rabbit / foto: Robby Suharlim

Setelah berkolaborasi dengan Bottlesmoker merilis “Pieces That Fit”, Stars and Rabbit kembali mengumumkan karya baru “Little Mischievous”. Single ini merupakan bagian dari Rainbow Aisle, album anyar pasca hengkangnya Adi Widodo yang ditargetkan meluncur Februari nanti.

Pasca hengkangnya Adi Widodo, proses pembuatan album dilalui Elda Suryani bersama Didit Saad, partner bermusik terbaru Elda. Sosok Didit Saat sendiri sudah tak asing untuk Stars and Rabbit, Didit tercatat telah bersama grup ini di posisi bass. Di luar itu, sosok Didit Saad adalah penting dalam perjalanan musik rock n roll di Indonesia. Didit adalah satu dari pendiri band Plastik.

Rainbow Aisle, album terbaru mereka nanti diakui sebagai album yang berbeda dari album sebelumnya. Album ini mengabadikan momen perjalanan Elda dan Didit selama beberapa bulan terakhir.

Stars and Rabbit juga memberi bocoran materi video musik “Little Mischievous” melalui channel YouTube resmi Stars and Rabbit, video ini akan resmi tayang 22 Januari 2020. Dibesut Agung Pambudi, video ini menggambarkan perasaan bagaimana Elda merespon Didit selama proses kreatif di album baru Stars and Rabbit.

“I always wonder how far my creative mind can go with some shifts of paradigms. Apparently, it’s like meeting the me I never knew in this album. And lucky me, Didit connects me to that wilderness. ‘Little Mischievous’ captures all that,” kata Elda dalam siaran pers.

Selain persiapan album baru, Stars and Rabbit juga akan melaksanakan tur di beberapa kota di Asia yang dimulai 20 Februari di Taipei. Kota berikutnya, Tokyo dan Busan. Perkiraan rangkaian tur berakhir di Jakarta.

____

Rayakan Pernikahan Dan Perjalanan Bermusik, Endah N Rhesa Rilis Buku Jurnal

Dalam rangka merayakan 10 tahun pernikahan dan 15 tahun bermusik bersama, duo suami istri Endah N Rhesa mengadakan peluncuran buku berjudul I’m All Ear’s : Endah N Rhesa Music Journey di Mini-Amphitheater M Bloc Space, Panglima Polim, Jakarta.

Buku ini memuat kisah perjalanan hidup dan karir Endah N Rhesa yang ditulis oleh Eko Wustuk dan merupakan hasil kolaborasi antara Endah N Rhesa dengan Edraflo, penerbit buku mungil yang memfokuskan diri pada narasi tentang sosok-sosok inspiratif yang banyak bertebaran di sekitar kita.

Sebelumnya, pada bulan Desember lalu, lebih dari 100 buku I’m All Ear’s  edisi bonus terbatas telah dikirim ke pembeli sebagai hadiah akhir tahun. “Sungguh tidak menyangka ternyata banyak yang ingin tahu bagaimana proses bermusik dan awal terbentuknya Endah N Rhesa. Banyak pesan yang masuk ke saya memberi kesan positif terhadap buku ini.”, ujar Endah. “Buku ini seperti jembatan untuk mengenal musik dan karakter Endah N Rhesa secara lebih dalam lagi.”, kata Rhesa.

Perilisan yang dipandu oleh Wendi Putranto ini menampilkan Endah N Rhesa dan Eko Wustuk dalam format talkshow. Acara ini juga dimeriahkan penampilan musik band trio dari Bali, Pohon Tua Creatorium (Dadang Pranoto, Palel Atmoko, Kevin Suwandhi), untuk membawakan lagu “Mendulang Cinta” yang dibuat khusus untuk buku ini. Lagu “Mendulang Cinta” masuk sebagai salah satu  nominasi Anugerah Musik Indonesia 2018 kategori Karya Produksi Progressive Terbaik. 

Buku “I’m All Ear’s” diterbitkan dengan format hardcover dengan tebal narasi sebanyak 180 halaman seharga Rp 100.000,-. Buku bisa didapatkan pada saat acara berlangsung dan dijual melalui website www.earmerch.com mulai tanggal 11 Januari 2020.

 

_____