438

Lomba Lagu Indonesia: Perlukah Musik Dilombakan?

Ilustrasi: Rosyad A.

Kompetisi dan ajang penghargaan memberi warna dan kontribusinya tersendiri pada industri musik Indonesia. Dari masa ke masa, berbagai versi lomba dan kompetisi musik diadakan dengan aneka fokus dan latar belakang diadakannya.

Salah satu lomba musik paling legendaris di Indonesia adalah Pemilihan Bintang Radio yang rutin dilehat oleh Radio Republik Indonesia sejak 1951 sampai tahun ini! Nama-nama penyanyi sohor mulai dari Broery Marantika, Eddy Silitonga, Hetty Koes Endang, Andi Meriem Matalata, sampai Rafika Duri bisa dikatakan “pecah” kariernya dengan mengikuti ajang kompetisi ini.  Suara-suara berlian mereka luas terpancar dengannya.

Juara Juara Bintang Radio Tahun 1995 / http://dennysakrie63.wordpress.com

Membayangkan tahun-tahun awal, atau bahkan dua dekade pertama perhelatannya, Pemilihan Bintang Radio yang diadakan berkesesuaian dengan dimulainya lahirnya perusahaan-perusahaan rekaman musik Indonesia, kehadirannya serasa kunci mata rantai industri musik. Dalam hal ini, kompetisi membuat banyak pihak merasa senang. Industri musik mudah menemukan potensi talenta baru dari seantero Indonesia,  para juara mendapat cercah karier dan mungkin hadiah-hadiah (sementara peserta lainnya juga berpeluang diingat oleh pihak industri), dan masyarakat bisa menikmati mutunya.

Baca juga:  May Day Bukan Sekadar Hari Buruh

Pada 1970an, kompetisi terus berkembang, dalam skala besar dan kecil, hingga membidik genre atau “kolam-kolam” tertentu. Iwan Fals hanya satu contoh  fenomena Indonesia sampai sekarang, yang turut dilantangkan rekaman lagu-lagunya dari hasil lomba lagu humor di awal-awal langkahnya— sebelumnya dia juga menjuarai sebuah festival musik country .

Begitu pula yang terjadi pada Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang mulai diadakan Radio Prambors pada 1977. Latarnya manarik: Prambors ingin memutar lagu-lagu Indonesia yang sesuai dengan karakter radio mereka, sementara sulit dijumpai pada sirkuit industri musik pop yang sedang berlangsung pada waktu itu. Maka Prambors mengadakan sayembara bagi pencipta lagu di mana karya-karya finalisnya akan direkam dan dinyanyikan dengan vokalis-vokalis “baru” pilihan mereka (Imran Amir, Sys Ns, dan Mohammad Noor adalah sosok-sosok di balik ide tersebut). Meski sebelumnya telah rekaman, Chrisye mantap menjadi penyanyi juga dampak dari lomba ini, dengan melantunkan “Lilin-lilin Kecil”, begitu pun pencipta lagunya, James F. Sundah, yang kemudian sempat menjadi salah satu pengarang lagu paling produktif bagi sederet penyanyi.

Baca juga:  Tentang Hutang yang Belum Terbayar: Wawancara Eksklusif Gusti Arirang, Putri Djaduk Ferianto

Di tahun keduanya, giliran “Kidung”, karya cipta Chris Manusama, mengalun ke permukaaan karena berhasil menjadi salah satu finalis. Masih banyak lagi lagu-lagu yang berkumandang dan musisi yang “berhutang” pada LCLR dari masa ke masa, hingga lomba itu sampai kini ditiadakan. Sementara kehadiran LCLR semenjak 1977 pun memberi alternatif, pada tahap tertentu menjadi standar baru, bagi musik pop Indonesia.

Sampul Album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors

Lomba musik juga bisa berlangsung untuk pendengar, bukan pemusik. Di TVRI sejak era 1980an, pengarah acara Ani Sumadi meluncurkan Berpacu Dalam Melodi dengan pembawa acara Koes Hendratmo. Pada intinya, ini adalah kuis wawasan musik. populer dan Nasional. Kuis ini sangat dimintai penonton. Ani Sumadi kemudian membuat satu lagi acara serupa khusus untuk segmentasi anak muda, Gita Remaja. Di kemudian tahun, Berpacu Dalam Melodi hadir kembali dengan David “Naif” sebagai pemandu lomba.

Baca juga:  Album Ketiga Plastik Membungkus Kesepian, Melepaskan Kesalahan

Lomba juga bisa lahir dari sosok-sosok musisi yang menjadi fenomena, sampai ke penampilan fisiknya, satu paket karakternya. Misalnya, pernah didakan lomba mirip Gombloh setelah “Kugadaikan Cintaku” bergema di mana saja, atau lomba menyanyikan lagu-lagu Ebiet G. Ade yang selalu memiliki peminatnya.