446

Lomba Lagu Indonesia: Perlukah Musik Dilombakan?

Lomba bahkan bisa lahir dari cara berdansa. Di era 1980an, misalnya, cukup marak diadakan lomba breakdance di mana-mana. Sebagai sebuah hal baru, breakdance mendapat sambutan yang merata bagi segala lapisan masyarakat, dari kelas atas sampai aspal kecil di kampung-kampung kota.

Tren musik pun terus beriringan. Dari vokal grup ke band, dari dangdut sampai rap, semua punya festivalnya. Masing-masing diadakan pula kompetisinya. Dan kehadirannya selalu disambut anak-anak muda untuk menjajal sampai di mana taraf mereka. Dan masing-masing lomba itu, langsung ataupun tidak, telah turut berkontribusi menelurkan berderet musisi, bahkan sampai siapa pun yang kita tidak akan kira. Cholil “Efek Rumah Kaca”? Ya, dia bernyanyi menggapai nada-nada tinggi untuk  sabet piala. Arian 13 dari Seringai? Kelompok rap-nya pernah menang juga. Pure Saturday? Walau tidak dengan sengaja mendaftarkan diri, mereka “kecemplung” di sebuah lomba musik unplugged dan jadi juaranya. Setidaknya, energi dari sebuah kemenangan milik siapa saja.

Baca juga:  30 Tahun Raksasa God Bless

Lomba juga bisa jadi strategi produsen pita rekaman kaset untuk melariskan produknya. Produsen kaset BASF pernah rutin mengadakan BASF Award dan menggelontorkan dana besar, termasuk untuk acara malam penghargaan bergengsi yang disiarkan televisi dan hadiah berlibur ke luar negeri bagi para pemenang, Syarat mengikuti lomba ini adalah rekaman musik yang diedarkan harus menggunakan kaset BASF. Saya masih ingat band seperti Kla Project memakai jaket tebal kala melanglang Eropa, menikmati hadiah jalan-jalan mereka.

BASF Award dimulai pada 1985 dengan dua kategori utama, yaitu penjualan terbanyak dan artistik. Kategori pertama bertolak dari data, sementara yang kedua dari penilaian dewan juri.  Dari BASF, sempat beralih ke produsen pita kaset lain, HDX, yang kemudian menjadi bibit lahirnya Anugerah Musik Indonesia (AMI) sejak 1997.Berjalannya waktu, AMI Award terus menambah kategorisasi penghargaannya.

Baca juga:  Kritak Kritik dalam Musik, Perlukah?
BASF Awards 1985 / http://indolawas.blogspot.comjpg

Sementara itu, pada 1990an, MTV hadir untuk Asia Tenggara (hingga kemudian lahir MTV Indonesia). Penghargan pada musik pun melebar hingga ke tangan pembuat video musik sampai modelnya. Penghargaan musik telah sampai kepada  pendukung-pendukung di luar tangan pengarang, kerongkongan penyanyi, olahan aranjer, dan segala dari studio musik itu sendiri.

Selain MTV Indonesia, pada era 2000an, Majalah Rolling Stone Indonesia juga sempat menjadi institusi yang memberikan penghargaan pada pelaku budaya popular, tentu saja termasuk musik. Media adalah salah satu yang memiliki tradisi mengadakan perhelatan semacam ini, termasuk media di Indonesia yang memiliki induk internasional.

Di era 2000-an juga diadakan Indie Fest, di mana istilah “indie” sudah tak terbendung lagi bagi Nasional.

Pada 2008, datang lagi sesuatu yang sangat besar bagi industri musik Indonesia: Indonesian Idol. Jalannya kompetisi yang secara kontiunitas ditayangkan telah televisi, tentu berdampak pada lahirnya bintang-bintang baru di hati masyarakat. Tak perlu lagi rasanya menyebut contoh siapa saja musisi yang pernah tampil di sini, karena terlalu banyak. Yang juara maupun tidak, banyak dari mereka masih terus bermusik dan mengembangkan suaranya.

Baca juga:  Feast, Para Pembawa Pesan
Indonesian Idol / news.detik.com

Akan sangat banyak lagi ajang-ajang kompetisi yang bisa kita sebut, tak habis-habisnya.  Ajang kompetisi terus bergulir, dari produsen rokok sampai telekomunikasi, atau produk apa pun, jadi sponsornya. Dari sekolah sampai kampus menggelarnya. Dari daerah, nasional, sampai internasional cakupannya. Dari mainstream sampai underground areanya. Dari tiga hingga bisa ratusan yang jadi juri ajangnya. Dari perusahaan rekaman sampai distributor merumuskannya. Hadiah dan eksposurnya juga beragam. Mulai dari berkesempatan rekaman sampai tampil bermain di negeri yang berbeda-beda. Mulai dari diliput media lokal sampai peluang dibunyikan internasional.