14258

Malu-Malu Mengaku Melayu: 10 Tahun Pop Melayu

Setiap dekade selalu punya cerita sendiri-sendiri. Dan suka tidak suka, kemunculan pop Melayu menjadi salah satu penanda penting industri musik Indonesia di dekade 2000-an.

Mari sedikit mengenang kejayaan konsumsi rilisan fisik dengan mundur satu dekade ke belakang. Gorengan isu lawas asing versus pribumi sebetulnya sudah tersungkur jatuh di ring panggung industri musik nasional. Di akhir dekade 90-an, catatan jurnalis Kompas, Theodore K.S dalam tulisan berjudul “Industri Musik Indonesia di Ujung Abad Ke 20,”  yang dimuat di Buletin ASIRI menunjukkan penjualan kaset musisi Indonesia jauh melampaui penjualan kaset album mancanegara.

Tahun 1999, penjualan kaset musisi Indonesia mencapai angka 30 juta keping, sementara kaset musisi luar negeri hanya 11 juta keping. Sebelum krisis, di tahun 1996 penjualan kaset album musisi Indonesia bahkan mencapai angka 65 juta keping, berbanding jauh dengan kaset album luar negeri yang hanya 11 juta keping.

Baca juga:  Perjuangan Caleg Serupa Musisi Independen

Selain karena faktor keterjangkauan, harga kaset musisi lokal yang jauh lebih murah, naiknya penjualan album musik Indonesia juga dipengaruhi kemunculan band-band pengusung musik pop alternatif seperti Dewa 19, GIGI, Sheila On 7, Padi, sampai Peterpan yang tumbuh besar seiring kehadiran MTV. Kemunculan band-band ini menurut Jeremy Wallach dalam tulisannya yang berjudul “Exploring Class, Nation, and Xenocentrism in Indonesian Cassette Retail Outlets” mampu menaikkan kelas musisi-musisi lokal yang sebelumnya identik dengan musik kelas bawah. Citra keren, cool, yang sebelumnya jauh ada di belahan bumi Barat kini mudah digapai anak-anak Melayu.

Dewa 19. Foto: id.wikipedia.org

Dalam perjalanannya band-band tadi, terutama Peterpan, juga meletakkan dasar baru tentang pop Melayu.

Baca juga:  Musik Pop di Indonesia dan Kontrol Negara