Melangkah di Antara Centralismo: 15 Tahun Album Perdana Sore

2927
Sore band
Sore saat syuting videoklip “Etalase” yang diambil dari album Centralismo / Foto: Ibonk

Jika sempat mampir ke Pendulum Studio, Jakarta Selatan di pertengahan hingga akhir dekade pertama 2000-an, mungkin kamu melihat sesuatu yang menarik di dinding kamar tamu yang menuju ke ruang rekaman. Bukan poster dari karya rekaman yang pernah diproduksi di sana, seperti halnya di studio rekaman pada umumnya, namun sebuah potret besar seperti yang biasa dipesan di studio foto sewaan.

Di foto itu terdapat lima pria yang tersenyum berseri-seri, tiga di antaranya berpakaian ala pangeran dari Arab, satu memakai jaket militer sambil memegang senapan, dan yang satu lagi memakai baju tradisional Jepang dengan tongkat kayu di tangan kanan serta pedang di pinggang kiri. Rasanya tak mungkin foto itu tidak memiliki makna apa-apa bagi para pengelola studio, walau makna tersebut tidak langsung terlihat jelas. Sekilas, sepertinya itu adalah foto tamu istimewa yang pernah mampir ke sana, atau bisa jadi itu adalah orang penting yang memungkinkan studio itu bisa berdiri.

Ternyata itu memang foto berisi orang-orang yang punya makna penting bagi studio tersebut. Itu fotonya Sore, dan mereka membuat potret itu sebagai hadiah terima kasih untuk studio di mana mereka merekam album perdananya, Centralismo.

Sampul album Sore – Centralismo (2005)

Bagi saya pribadi yang sedang menulis ini 15 tahun setelah album itu dirilis, foto itu menggambarkan bahwa dari dulu Sore itu memang lain dari yang lain, dan bukan hanya karena dulu Bemby Gusti adalah drummer Lain. Setahun sebelum Centralismo dirilis, mungkin banyak orang pertama kali tahu Sore berkat kehadiran mereka di kompilasi JKT:SKRG. Namun beda halnya dengan sebagian besar band pengisi kompilasi tersebut yang mulai dikenal karena bermain di acara-acara yang diadakan di BB’s, Sore sendiri tak pernah tampil di bar yang terletak di Menteng itu. Ini ironis, karena kelima anggota Sore menghabiskan masa kecil mereka di Jakarta Pusat, tepatnya di Cikini. Kalau musik yang dihasilkan The Upstairs, The Brandals, Seringai, The Adams dan nama-nama lain di JKT:SKRG mencerminkan energi mentah dan suasana liar di bar yang menempa mereka itu, musiknya Sore terdengar lebih lembut dan kalem, seolah-olah lebih cocok dipasang di kedai kopi dan toko buku. Malah salah satu penampilan awal Sore memang berlangsung di toko buku, yakni Aksara Bookstore di daerah Kemang, Jakarta Selatan yang berisi orang-orang yang tak lama kemudian berperan besar dalam perjalanan Sore.

nama-nama lain di KOMPILASI JKT:SKRG mencerminkan energi mentah dan suasana liar di bar, musiknya Sore terdengar lebih lembut dan kalem, seolah-olah lebih cocok dipasang di kedai kopi dan toko buku.

Di awal abad ke-21 mungkin tak banyak anak muda di kota-kota besar Indonesia merupakan penggemar berat musisi soft rock ’70-an macam Steely Dan dan Gino Vannelli, apalagi menjadikannya sebagai pengaruh besar dalam band yang mereka bentuk. Sepertinya tak banyak juga yang terkesima dengan musik Indonesia lama seperti Orkes Saiful Bahri dan soundtrack film Badai Pasti Berlalu. Tapi itulah Sore, yang terdiri dari tiga sahabat sejak SD, yakni gitaris Firza “Ade” Paloh, keyboardist Ramondo “Mondo” Gascaro dan bassis Awan Garnida, serta drummer Gusti “Bemby” Pramudya yang satu SMA bersama Awan, dan gitaris Reza “Echa” Dwiputranto yang merupakan kakak kelasnya Bemby saat SD.

Sepertinya persahabatan itu adalah unsur yang tak kalah penting dengan musikalitas dan selera musik. Bahkan bisa jadi lebih penting lagi, karena tanpa persahabatan itu, takkan ada rasa saling percaya yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai hal bersama-sama walau terkesan absurd, aneh atau kurang keren di mata orang lain. Entah itu membuat musik yang berbeda dari apa yang sedang naik daun di sekeliling, memutuskan bahwa tiga anggota di band itu akan memainkan gitarnya mengikuti Paul McCartney padahal cuma satu di antara mereka yang benar-benar kidal (silakan tebak apakah satu orang itu adalah Ade, Awan atau Echa), atau memakai seragam sekolah dan baju balita saat muncul di videoklip band lain seperti yang mereka lakukan di “Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A.”-nya C’mon Lennon. Atau berinisiatif membuat sesi foto di mana mereka berpakaian seperti bangsawan Arab dan Jepang, lalu menghadiahkan potretnya ke studio rekaman.

Maka tak heran jika para personel Sore kadang terasa seperti hidup di dunianya sendiri, dan musik yang mereka persembahkan di Centralismo seakan-akan menjadi undangan bagi pendengar untuk melangkah di sana. Di dunia yang dibangun Sore pada Centralismo itu, ada euforia (“Bebas”), penyesalan (“Keangkuhanku”) dan nostalgia (“Etalase”). Kalaupun lirik di lagu-lagu ciptaan Ade yang semacam hasil kawin silang antara Eros Djarot dan Paul Banks kadang sulit dipahami, sepertinya mustahil untuk tidak menangkap melankolia ala Morrissey di “Mata Berdebu”. Selain Ade, semua anggota Sore lainnya juga mendapat kesempatan menjadi vokalis utama, seperti halnya The Beatles; dan suasana sinematis pada “Ambang” dan “Ada Musik di Dalam” seakan-akan menjadi pertanda bagi karier Mondo dan Bemby di bidang scoring film. Selain kelima anggota Sore dengan instrumennya masing-masing, hadir pula berbagai musisi tamu yang turut memperkaya musiknya dengan beraneka ragam alat tiup dan gesek, serta teman-teman seperti Kartika Jahja yang vokalnya membuat merinding pada “Cermin”, dan Lens ter Wee dan Hari “Bampak” Suseno yang kerap mengajak Bemby bermain bersama band mereka, The Miskins, serta menyumbang lagu “She’s So Beautiful” untuk Centralismo.

CD Sore – Centralsimo / foto: Meidhan Fidella (dari https://madahbakti.blogspot.com)

Kalau berbicara soal Centralismo, harus disebut juga beberapa nama yang memungkinkan album itu bisa terwujud. Salah satunya adalah David Tarigan, yang mengelola divisi CD impor di Aksara Bookstore dan berinisiatif untuk merekam para band baru yang sedang meramaikan kancah Jakarta itu di Pendulum yang juga punyanya Hanindito Sidharta, salah satu pemilik Aksara. Selain menggunakan Pendulum untuk merekam band-band untuk kompilasi yang kelak diberi judul JKT:SKRG, David juga meyakinkan Hanin agar mendirikan sebuah perusahaan rekaman untuk mengedarkan dan mempromosikan album tersebut.

Sidik jari pengaruh Sore juga dapat ditemukan di berbagai musisi yang muncul sesudahnya, mulai dari Efek Rumah Kaca dan Payung Teduh hingga Polka Wars, Bilal Indrajaya dan Sal Priadi

Maka lahirlah Aksara Records, dan Sore pun menjadi salah satu dari beberapa band di JKT:SKRG yang juga menjadi artis di sana. Dengan musik yang mereka bawakan, agak sulit membayangkan Sore akan didukung sepenuhnya oleh perusahaan rekaman besar yang sedang sibuk mencari Peterpan berikutnya dan mempopulerkan Radja. Di sisi lain, sepertinya Centralismo – dan juga album kedua Sore, Ports of Lima – takkan terdengar semewah itu andai tidak didukung oleh perusahaan rekaman yang memungkinkan visi artisnya terwujud secara maksimal di studio, apalagi dengan kehadiran orang A&R (artist and repertoire) seperti David yang juga penggemar musik berselera luas, sehingga paham dengan musiknya Sore. Alhasil, Aksara Records pun dapat mewujudkan visi mereka, yakni menawarkan musik yang bisa diterima oleh pendengar musik Indonesia secara luas.

Seberapa luasnya apresiasi terhadap musiknya Sore bisa dilihat dari berbagai sisi, seperti banyaknya pendengar karya mereka hingga kini, terutama setelah memasuki era layanan streaming, atau dari banyaknya pertunjukan yang mereka lakukan, baik di Indonesia maupun di mancanegara seperti Malaysia, Singapura dan Hong Kong. Sidik jari pengaruh Sore juga dapat ditemukan di berbagai musisi yang muncul sesudahnya, mulai dari Efek Rumah Kaca dan Payung Teduh hingga Polka Wars, Bilal Indrajaya dan Sal Priadi. Bahkan Noh Salleh, vokalis band Hujan dari Malaysia, segitu cintanya dengan Sore sampai mengundang mereka ke Kuala Lumpur untuk tampil di pernikahannya, lalu melibatkan Mondo dan Ade di album solonya. Mengingat dampaknya Sore, saya jadi berpikir apakah mereka akan mendapatkan tempat di hati dan telinga banyak orang andai baru muncul sekarang dengan keindahan musik dan keunikan karakter mereka.

Sore berseragam sekolah saat syuting videoklip lagu C’mon Lennon, “Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A.” / Foto dari arsip Bemby Gusti

Tapi biarlah itu menjadi diskusi untuk lain waktu. Sementara itu di 2020 yang nyata, baik Aksara Records dan Pendulum Studio sudah lama tutup. Potret keluarga Sore yang dulu dipajang itu pun sudah hilang tanpa jejak kecuali sebuah foto buram dengan resolusi rendah yang disimpan Bemby. Dari lima pria yang ada di foto itu, Mondo sudah menempuh jalan sendiri sejak 2012, dan yang empat lainnya tetap bersama hingga Echa mengundurkan diri di akhir 2019. Kini tinggallah Ade, Awan dan Bemby yang masih membawa nama Sore, bersama para musisi berbakat yang membantu mereka di panggung maupun studio.

Di tahun 2021, Sore akan genap berusia 20 tahun sebagai band. Empat tahun sesudah itu, Centralismo juga akan mencapai ulang tahun ke-20. Mungkin Sore masih akan ada untuk merayakan kedua ulang tahun itu; mungkin juga mereka yang tersisa akan merasa sudah saatnya mengakhiri perjalanannya. Jika tibalah saatnya Sore terbenam, mudah-mudahan kelima sahabat yang ada di foto itu masih bisa tersenyum mengingat masa senang dan sedih yang mereka alami bersama, serta kebahagiaan yang dihadirkan Ade, Awan, Bemby, Echa dan Mondo bagi banyak orang melalui musik mereka.

 

Foto buram dari potret keluarga Sore yang dipajang di Pendulum Studio. / Foto dari arsip Bemby Gusti

Atau kalau meminjam lirik lagu “Etalase”: Kenangi semua, walau sudah tiada.

 

____