Rekomendasi PHI: 5 Buku Musik Indonesia Teranyar

2321

 

Nice Boys Don’t Write Rock N Roll – Nuran Wibisono

Buku tebal 575 halaman ini sekilas nampak horor. Namun jika melihat isinya yang terdiri dari tulisan-tulisan pendek dan kaya pembahasan, buku ini langsung nampak seperti burger premium montok dengan isi daging berlapis-lapis yang ingin segera dilahap habis. Terdiri dari 6 bab yang dibagi menjadi side A, B, hingga side F. Side A dan B, buku ini membahas soal nasib kaset di ujung jaman, jurnalisme musik, industri musik, label rekaman, obsesi go international, “kota musik” dan musik elektronik di Indonesia. Bagian side C khusus membahas dalam soal glam rock, yang menjadi spesialisasi dan obsesi Nuran sebagai pecinta hard rock 80an, terutama Guns N Roses. Namun jangan takut jadi membosankan, karena ia bisa menulis tentang John Mayer dengan menarik di Side D. Juga tentang Galang Rambu Anarki, putra Iwan Fals, Ahmad Dhani serta Bunda Iffet “Slank” yang tidak lepas dari pengamatannya di Side E. Dan di Side F kita akan menemukan perpisahan dalam membahas Nike Ardila, almarhum Ucok AKA, sang pangeran rock n roll Indonesia hingga kematian rock n roll yang dikubur di Los Angeles.

 

MUSIK INDONESIA 1997-2001 – Jeremy Wallach (Komunitas Bambu)

Jika tertarik membaca tentang skena subkultur anak muda dan musik independen di Indonesia saat ini, tidak bisa lepas dari apa yang terjadi di akhir era 90an. Hal itu banyak dibahas di buku yang membahas era spesifik rentang 1997-2001. Era di mana situasi politik sedang berkembang dan ditandai oleh jatuhnya rezim Orde Baru yang berimbas hingga kepada perkembangan musik populer di Indonesia, terutama skena subkultur musik anak muda (so called underground). Buku ini merupakan disertasi dari sang penulis, sehingga hadir secara detail namun tidak sekaku itu dan masih seru untuk dibaca. Buku ini sebenarnya sudah dirilis sepuluh tahun lalu di luar negeri, namun tahun lalu Komunitas Bambu memutuskan untuk menghadirkannya bagi pembaca Indonesia.

 

____