Memorandum Tiga Pekerja Urban Bernama Perunggu

Mar 17, 2022
Memorandum Perungggu

Sekitar satu bulan sebelum album Memorandum dari Perunggu rilis, sebuah pesan singkat masuk ke Instagram saya jelang tengah malam. Pesan itu punya beberapa keanehan: Waktunya tak lazim, pengirimnya tak saya kenal, dan isi pesannya terasa janggal.

Dalam pesan itu, Maul (vokalis & gitaris Perunggu) menawarkan saya mendengarkan Memorandum sekaligus menuliskan catatan untuk album tersebut. Saya tak kenal Maul maupun dua personil Perunggu lainnya yakni Ildo (Drum) dan Adam (Bass, Piano, Keyboard). Pun, sudah sekitar satu dekade saya tak lagi bekerja menulis musik untuk konteks profesional. 

Satu-satunya relasi saya dengan Perunggu hanya satu: Saya menyukai karya mereka dan kerap menyebarkannya di media sosial. Musik bagus layak menemui lebih banyak pendengar, maka saya senang membagikan lagu-lagu Perunggu di akun media sosial pribadi. 

Band ini sejatinya juga sama seperti saya, pekerja kantoran biasa yang kadang frustasi dengan keseharian. Bedanya, mereka kemudian memilih untuk membuka pintu baru dengan bermusik.

Saya hampir menolak permintaan tersebut karena saya tak lagi menulis musik. Janggal rasanya menulis lagi setelah lama vakum. 

Namun, di tengah upaya penolakan itu, saya coba mendengarkan lagi lagu-lagu Perunggu. Ada satu perasaan yang muncul kala itu, band ini sejatinya juga sama seperti saya, pekerja kantoran biasa yang kadang frustasi dengan keseharian. Bedanya, mereka kemudian memilih untuk membuka pintu baru dengan bermusik. 

Niat penolakan itu justru berubah menjadi kesadaran: Identitas manusia tak akan pernah tunggal. Saya dan Perunggu bukan sekadar pekerja biasa, kami juga seorang penikmat musik, seorang suami, seorang anak, dan beragam identitas lainnya. 

Cerita tentang tiga laki-laki dewasa yang berjuang untuk kembali menjadi manusia dengan bermusik. Tiga manusia yang menulis Memorandum untuk merawat harapan

Pesan Maul adalah sebuah ketukan untuk membuka lagi pintu yang telah lama saya tutup.

Lebih dari sekadar konteks review album, saya merasa Perunggu menarik dilihat dalam konteks bagaimana pekarya berupaya menelurkan anak kandung pemikirannya. Saya ingin merefleksikan perjalanan Perunggu di tengah beragam dinamika khas pekerja kelas menengah. 

Cerita tentang tiga laki-laki dewasa yang berjuang untuk kembali menjadi manusia dengan bermusik. Tiga manusia yang menulis Memorandum untuk merawat harapan.

***

Malam beberapa tahun lalu, Ildo sedang berada di salah satu momen penting karier bermusiknya. Band lamanya mulai punya tempat dalam kancah musik lokal. Ia berkesempatan tur ke beberapa kota dengan bandnya. Alih-alih menikmati tur itu, ia malah mempertanyakan ulang pilihannya bermusik. 

“Anj*ng lah, gue sampe ngerasa ngeband cuma ganggu kerjaan gue aja!” 

Di tengah tur, ia terpaksa rapat daring untuk urusan kantor. Ia baru saja memulai karier profesionalnya kala itu. Dengan nada kesal, ia mengaku, “Anj*ng lah, gue sampe ngerasa ngeband cuma ganggu kerjaan gue aja!” 

Maul punya cerita mirip dengan Ildo. Akhir pekan beberapa tahun silam, ia terpaksa menghentikan kendaraannya. Ia berhenti untuk berkoordinasi dengan timnya demi menyelesaikan pekerjaan. Sebenarnya, ia bisa saja menunda pekerjaan itu, tapi ia memilih untuk menggunakan waktu akhir pekannya untuk bekerja. Bukannya mendapat apresiasi, atasannya malah memberi petuah pada Maul, “Leader gue ngingetin, ‘Ul, bayangin kalau misalnya besok perusahaan tutup? Kehidupan kayak gimana yang bakal lo punya selain kerja?’ Gue langsung mikir, gue kayak gak punya kehidupan lain selain kerja.” 

Bagi Maul itu salah satu titik tolak penting dalam perspektifnya memandang pekerjaan. 

“Orang yang paling mencintai pekerjaannya adalah orang yang paling butuh mengesampingkan pekerjaannya.” 

Apa yang Maul alami sebenarnya klasik, kisahnya mengingatkan saya pada seorang Winston Churchill. Di tengah masa-masa kariernya yang sulit, Churchill menjalankan hobi melukis. Ia kemudian merefleksikan pengalamannya dengan menulis esai klasik yang premisnya sederhana, “Orang yang paling mencintai pekerjaannya adalah orang yang paling butuh mengesampingkan pekerjaannya.” 

Ganti lukisan dengan musik, maka Maul tak ada bedanya dengan Churchill. 

Di tanah Britania, lokasi yang sama tempat Churchill menuliskan keresahannya, Adam juga mengalami kegamangan yang mirip. Ia hampir melupakan musik karena memilih mengutamakan kariernya. “Gue hampir milih kerja di Inggris, di Indonesia belum banyak kerjaan yang sesuai sama jurusan kuliah gue. Sementara gue udah beberapa kali ikut conference di sana.” 

Ketiganya lantas mundur dari musik. Alat musik dijual. Band dilupakan. Memori manis membawakan deretan lalu berganti tumpukan pekerjaan harian

Ini bukan kisah motivasi yang hanya bermodal renjana lantas kehidupan berubah dengan cepatnya. Ini cerita orang biasa yang realistis. 

Ketiganya lantas mundur dari musik. Alat musik dijual. Band dilupakan. Memori manis membawakan deretan lalu berganti tumpukan pekerjaan harian. Meminjam judul lagu mereka, prinsip mereka di kantor, “Jenuh Kan Kutelan”. 

Perunggu: Ildo (Drum), Adam (Bass, Piano, Keyboard) dan Maul (vokalis & gitaris Perunggu) / foto: dok. Perungggu

Sialnya, seberapa pun mereka berusaha, musik tak pernah benar-benar lepas dari kehidupan mereka.

Ildo dan Maul beberapa kali diminta ngeband dalam acara kantor membawakan lagu-lagu Top 40 yang disukai oleh pimpinan kantor mereka. Jika dibandingkan dengan perjalanan band mereka sebelumnya, tentu manggung demi menyenangkan CEO kantor terasa konyol. Namun, dari situlah kerinduan keduanya untuk bermusik mulai muncul. 

Dari kekonyolan dan keras kepala itu, Perunggu mencoba menjahit luka patah hati mereka atas musik

Di sisi lain, Adam yang mulai membangun karier dengan gaji fresh graduate ala kadarnya berkeras menyisihkan gajinya untuk membeli gitar dan piano elektrik idamannya. Seperti seorang anak yang ingin punya mainan, Adam hanya ingin main musik. Tak peduli harus berhemat setiap bulannya.

Dari kekonyolan dan keras kepala itu, Perunggu mencoba menjahit luka patah hati mereka atas musik. 

Maret 2019, jahitan itu mereka mulai. Adam mengirim pesan Instagram kepada Maul untuk ngeband lagi. Maul menyanggupi. Ildo terlibat. 

“Gue gak nyangka, main musik bisa seenak ini,” aku Maul saat pertama kali kembali ke studio

Kembali ke studio laksana sebuah oase atas kehidupan profesional yang menjemukan tapi tak bisa dilepaskan. “Gue gak nyangka, main musik bisa seenak ini,” aku Maul saat pertama kali kembali ke studio. 

Ketiganya dalam fase pendewasaan yang sama. Ketiganya pernah patah hati dengan musik. Ketiganya memilih berani berharap kembali. 

Selanjutnya adalah sebuah cerita tentang tiga anak manusia bernama Perunggu.

***

Malam medio akhir Januari 2022, Perunggu manggung di pergelaran bertajuk “Perih, Pedih, Cinta”. 

Panggung itu kecil. Ukurannya lebih sempit dari lapangan badminton. Penontonnya pun tak banyak. 

Secara skala penampilan jelas panggung itu sama sekali tak besar. Tapi dalam skala perjalanan Perunggu panggung itu punya arti mendalam. 

“Demi manggung di sini, gue cancel tiga meeting. Ngeband ternyata enak banget!” 

Tiga tahun setelah mereka memutuskan bersama, lantas dihadang pandemi yang terkutuk, dan mencoba menelurkan beberapa single, maka panggung itu terasa sangat personal bagi mereka. 

“Demi manggung di sini, gue cancel tiga meeting. Ngeband ternyata enak banget!” 

Maul bukan hanya sedang menyapa penonton ketika mengatakan itu, ia seperti sedang bermonolog dengan dirinya sendiri. Beberapa waktu setelah mengucapkan itu, mata Maul berkaca-kaca.

Perunggu: Ildo (Drum), Adam (Bass, Piano, Keyboard) dan Maul (vokalis & gitaris Perunggu) / foto: dok. Perungggu

Di bagian panggung lainnya, fisik Ildo mulai keteteran karena lama tak menggebuk drum secara konstan. Sementara bagi Adam, ini jadi panggung comeback bersama Perunggu setelah vakum sejak Agustus 2019 karena fokus menyelesaikan studi masternya di Inggris. Di panggung itu, Adam menggunakan kemeja yang lebih cocok untuk rapat dengan C-Level daripada memegang bas. 

Bagi saya, Perunggu lebih dari sekadar band pulang kantor. Perunggu menarik karena alasan sederhana: Mereka hadir dari suara pekerja kantoran.

Malam itu, senada dengan kemeja Adam, Maul mengenalkan Perunggu sebagai band pulang kantor. 

Bagi saya, Perunggu lebih dari sekadar band pulang kantor. Perunggu menarik karena alasan sederhana: Mereka hadir dari suara pekerja kantoran. 

Suara mereka sebagai pekerja jadi penting karena punya banyak konsekuensi. Mulai dari liriknya sampai cara pandangnya yang unik dalam memandang sebuah isu.

Selama ini, pekerja kantoran kerap ditampilkan dalam budaya populer secara klise: Diromantisisasi atau Distigma. Romantisisasi itu misalnya muncul dalam cerita dengan subjek pekerja kantoran yang jauh dari kehidupan autentik. Kalau tidak ditampilkan sangat kaya atau ditampilkan penuh perjuangan lantas berbuah hasil manis. Klise!

Selama ini, pekerja kantoran kerap ditampilkan dalam budaya populer secara klise: Diromantisisasi atau Distigma

Opsi templat lainnya, pekerja kantoran ditampilkan dalam beragam stigma. Contohnya pandangan yang terlalu menyederhanakan kompleksitas pekerja kantoran dengan mengatakan main aman, tak punya kehidupan sosial, atau sebutan “mas/mbak SCBD”. 

Selain minim kedalaman, cara pandang seperti itu membuat pekerja kantoran jadi objek yang hitam putih. Minim sekali cerita pekerja kantoran yang terasa autentik. Yang memberi banyak warna dan kedalaman tentang keresahan maupun kegundahannya. 

Perunggu adalah bagian dari kelas pekerja urban. Mereka mengalami sendiri problem yang dihadapi, berkompromi dengan frustasi ala pekerja kerah putih. Mereka adalah subjek di dalam ceritanya, cerita mereka genuine. Hasilnya, cara pandang mereka pun sangat empatik. Meminjam lirik mereka, “Kami pernah di situ, di posisimu”. 

Perunggu adalah bagian dari kelas pekerja urban. Mereka mengalami sendiri problem yang dihadapi, berkompromi dengan frustasi ala pekerja kerah putih.

Pembedanya, Perunggu tak sekadar menjadikan karyanya sebagai ruang untuk curhat. Perunggu bisa mengambil jarak dari diri mereka sendiri sebagai pekerjaan kantoran. Jarak itu bisa jadi muncul dari perspektif mereka sebagai musisi. Perspektif yang membuat mereka dapat merefleksikan kesehariannya. 

Hal itu sangat terlihat ketika Perunggu bersiasat menyikapi kultur tarik menarik khas kantoran: hustle culture dan kultur yang lebih mindful. Kerap kali, narasi hustle yang merayakan kecepatan dan mindful yang memberi ruang jeda dibuat seperti dua kutub yang berbeda.

Narasi-narasi kesuksesan selalu mengambil kutub tertentu, biasanya hustle. Di sisi lain muncul kesadaran untuk membangun kultur kerja yang lebih mindful. Tarik menarik keduanya menjadi semacam perbincangan yang tak ada ujungnya. 

Hal itu sangat terlihat ketika Perunggu bersiasat menyikapi kultur tarik menarik khas kantoran: hustle culture dan kultur yang lebih mindful.

Sebagai pekerja, Perunggu tahu tak ada yang 100% ideal. Kita tak bisa selamanya bekerja keras ala hustle culture, tapi tak bisa juga terus-terusan melambat demi menenangkan hati.

Memorandum adalah siasat Perunggu merefleksikan keseharian pekerja. 

Lihat misalnya penulisan lirik yang empatik tapi juga penuh pengharapan, “Beranikan Kaki, Melawan Hati!”. Coba dengarkan juga “Per Hari Ini”, “Prematur”, atau “Kalibata, 2012”; nomor-nomor itu tak akan bisa hadir tanpa cara pandang unik Perunggu merefleksikan kesehariannya. 

Seperti perspektif ekonomi perilaku, alih-alih memandang manusia sebagai makhluk yang logis (econ), Perunggu memandang manusia sebagai makhluk berperasaan yang unik (humans). Bisa jadi Perunggu tak sadar dengan pilihan tersebut, tapi keseharian mereka terhadap dinamika pekerjaan, politik kantor, dan harapan mereka akan musik membentuk cara pandang yang khas dalam memandang manusia urban. 

Perunggu: Ildo (Drum) Maul (vokalis & gitaris Perunggu) dan Adam (Bass, Piano, Keyboard) / foto: dok. Perungggu

Perunggu memilih menceritakan kehidupan urban dalam kacamata empati, bukan menghakimi. Melalui album Memorandum, Perunggu berkisah tentang beragam isu seputar kehidupan pekerja kelas menengah di kota besar. 

Misalnya, pada nomor “Ini Abadi” yang dengan baik menggambarkan keresahan khas pekerja. “Tentang mimpi berkecukupan tanpa harus lembur lagi…tenangkanlah!” 

Perunggu memilih menceritakan kehidupan urban dalam kacamata empati, bukan menghakimi. Melalui album Memorandum, Perunggu berkisah tentang beragam isu seputar kehidupan pekerja kelas menengah di kota besar.

 “Kalibata, 2012” menggambarkan salah satu lokasi paling muram di Jakarta secara puitis tanpa menghilangkan kesan chaos daerah tersebut. Bandingkan pendekatan Perunggu itu dengan penceritaan komikal tentang anak Jaksel yang cenderung penuh stigma dan dangkal. 

Dari sudut kemuraman, Perunggu kemudian coba menghadirkan harapan lewat “33x”. Menurut saya, “33x” adalah ‘lagu religius’ dengan cara pandang yang realistis.. 

Jika “lagu religi” biasanya hadir dengan sudut pandang hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, lagu ini keluar dari perspektif itu. Alih-alih berfokus sekadar pada Habluminallah, seperti judulnya yang menggambarkan bilangan tasbih dalam terminologi islam, Perunggu mengambil sudut pandang bahwa hubungan antar manusia adalah penerjemahan kedekatan manusia pada penciptanya. 

Album ini tak berpretensi mengusung satu isu sosial spesifik sebagai benang merah album ini. Yang spesifik dalam album ini justru cara pandang penulisan liriknya. 

Cara pandang tersebut bisa hadir karena Perunggu besar dalam komunitas muslim untuk kemudian berhadapan dengan beragam realita kehidupan urban. Agama bukan sesuatu yang status, melainkan menjadi titik mula beragam interaksi antar manusia. 

Mendengarkan “33x” terasa seperti seorang teman yang bersedia mendengarkan curhat setelah salat ashar di musala kantor.

Perunggu melompat dari satu keresahan ke keresahan manusia urban lainnya. Album ini tak berpretensi mengusung satu isu sosial spesifik sebagai benang merah album ini. Yang spesifik dalam album ini justru cara pandang penulisan liriknya. 

Ada satu kata yang sangat cocok menggambarkan Perunggu: Dilettante. Yang berarti gembira. Biasa digunakan dalam konteks seseorang yang mencoba banyak hal untuk merasa gembira, bukan demi menguasai hal tersebut.

Lirik yang ditulis Maul selalu berada di ruang abu-abu antara mengutuk keadaan dan berupaya tetap bertahan. Sebuah cara pandang berkompromi khas kelas menengah. 

***

Ada satu kata yang sangat cocok menggambarkan Perunggu: Dilettante

Dilettante berakar dari bahasa Italia yang berarti gembira. Dilettante biasa digunakan dalam konteks seseorang yang mencoba banyak hal untuk merasa gembira, bukan demi menguasai hal tersebut. Dulunya ini kata yang bermakna positif, tentang manusia yang terus mencari kebahagiaan dengan mencoba banyak hal. 

Sayang, kata itu kemudian punya nasib tragis seperti amatir (amateur) yang akarnya bermakna cinta. Baik dilettante maupun amatir kini dipersempit maknanya untuk menggambarkan seseorang yang tak ahli atau sekadar coba-coba. 

Tiga manusia dalam Perunggu adalah personifikasi individu yang identitasnya tak tunggal. Mereka seorang musisi, pekerja kantoran, ayah, suami, dan banyak atribusi lainnya. Kekayaan identitas itu membuat mereka punya banyak perspektif.

Pergeseran kata itu ada kaitannya dengan perkembangan zaman yang menuntut orang untuk bersikap profesional, menguasai satu bidang tertentu alih-alih mencoba banyak hal. Kultur semacam itu membentuk manusia perlu memiliki identitas tunggal. Si X seorang musisi, Si Y seorang arsitek, Si Z seorang akuntan, dan seterusnya.

Konsep identitas tunggal ini pernah dikritik sangat keras oleh ekonom Amartya Sen yang tumbuh dalam konflik India-Pakistan. Titik tolaknya, Sen melihat seorang laki-laki dibunuh hanya karena identitas agamanya. Padahal laki-laki itu bukan sekadar seorang penganut agama. Ia juga seorang suami, seorang ayah, dan seorang tulang punggung keluarga. 

Bagi Sen, memandang manusia hanya dari satu identitas adalah akar dari banyak masalah. 

Perunggu mengingatkan saya pada kisah klasik di atas. Tiga manusia dalam Perunggu adalah personifikasi individu yang identitasnya tak tunggal. Mereka seorang musisi, pekerja kantoran, ayah, suami, dan banyak atribusi lainnya. Kekayaan identitas itu membuat mereka punya banyak perspektif. 

Memorandum bukan album yang penuh kemegahan. Sebagai karya, album ini sangat jauh dari kata sempurna. Mungkin mereka akan malu saat mendengarkannya kembali beberapa tahun lagi.

Musik bukan satu-satunya perspektif mereka. Bermusik justru menjadi ruang untuk mencari kebahagiaan dan melepaskan identitas tunggal mereka.

Mereka dengan sadar menyadari hal itu, mereka adalah gambaran dilettante

Saat mengobrol dengan Perunggu, mereka ingin album Memorandum benar-benar menjadi catatan memorandum mengenai keresahan mereka. Maul mengatakan, “Pas kita umur 50-an, kita mau dengerin lagi album ini buat tahu apa sebenarnya yang kita rasain di umur tiga puluhan.”

Saya tak punya mesin waktu, tapi tanpa harus menunggu Maul, Ildo, dan Adam berusia setengah abad, mungkin ini yang akan mereka rasakan di usia setengah abad: 

Musik bukan satu-satunya perspektif mereka. Bermusik justru menjadi ruang untuk mencari kebahagiaan dan melepaskan identitas tunggal mereka.

Memorandum bukan album yang penuh kemegahan. Sebagai karya, album ini sangat jauh dari kata sempurna. Mungkin mereka akan malu saat mendengarkannya kembali beberapa tahun lagi. Memorandum akan mereka syukuri sebagai sebuah eksperimen pekerja biasa yang mencoba keluar dari kubikal kantornya dengan cara klise khas amatir: Hanya bermodalkan cinta!

Saya membayangkan beberapa tahun dari sekarang, Maul, Ildo, dan Adam punya buah hati yang beranjak remaja. Anak mereka tumbuh dengan kenakalan khas remaja, kemarahan pada dunia. Pun, konflik ayah anak yang tak ada ujungnya. 

Di saat-saat seperti itu, mungkin mereka akan mengajak anaknya mendengarkan Memorandum. Bukan untuk menasehati, bukan untuk mengajari, melainkan untuk menunjukkan ayahnya juga pernah rapuh.

Dan kerapuhan itu yang membuat ayahnya menjadi manusia seutuhnya. 


 

 

 

Penulis
Ardi Wilda
Pegawai Swasta. Di waktu luang suka bersepeda dan pergi ke taman kota.
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
mm
Editor
6 months ago

Welcome back, mas Ardi, ditunggu tulisan-tulisan mautnya lagi ya \m/

Eksplor konten lain Pophariini

Dhira Bongs Untai Ragam Kisah di Album Ketiga

Dhira Bongs, solois pop asal Bandung baru saja merilis album penuh ketiganya di hari Jumat (23/09) lalu. Simak kisahnya berikut ini.

5 Alasan Kenapa Last Child Enggak Bubar

Simak 5 alasan kenapa Last Child tidak memutuskan untuk bubar dan masih bertahan sampai hari ini. Selengkapnya di Pophariini.com.