Menahan Diri Dan Bersabar. Betulkah?

472

Bulan suci Ramadhan identik dengan menahan diri dan bersabar. Ada juga yang menyebutnya sebagai bulan kemenangan dalam melawan hawa nafsu, ego, keserakahan, dan bersikap tidak jujur. Atau setidaknya itu adalah hasil jawaban yang didapat ketika saya googling mencari makna bulan puasa.

Tapi apakah betul semua itu? Mari kita cek satu-satu.

  • Apakah di bulan puasa ini kita bisa menahan hawa nafsu tidak memegang ponsel untuk kepo mengintip medsos orang lain dan membicarakan orang lain?
  • Apakah kita lebih tertib di jalan atau ketika sedang mengantri?
  • Apakah di bulan puasa ini kita berhenti membawa kendaraan padahal kita sedang tidak punya SIM atau masa berlakunya habis?
  • Apakah postingan di linimasa medsos lebih baik di bulan puasa ini?

Yang ada biasanya sebaliknya. Kepo dan gosip jalan terus, mengantri pun tergantung suasana, tertib di jalan cuma berlaku sampai jam 4 sore. Sisanya boleh kesetanan demi sampai di tempat tujuan berbuka. Kita juga tetap membawa kendaraan meski SIM habis, dan postingan di linimasa medsos kita juga sama saja riuhnya hamipir tidak berbeda dengan bulan sebelumnya.

Tapi dari hasil googling saya juga menemukan kalau puasa itu adalah ibadah kasat mata yang begitu personal antara kita dengan yang di atas. Maka diterima tidaknya ibadah puasa dan pahala seseorang tidak ada yang tahu kecuali sang pencipta dan orang yang berpuasa. Jadi sudah betul atau belum dan diterima atau tidak puasa seseorang, semuanya kembali ke diri kita masing-masing.

Yang jelas di bulan menuju hari kemenangan ini kita punya pilihan untuk memperbaiki diri dan bahkan memulai ulang dari nol lagi. Menurut hasil googling lagi makna puasa dalam bahasa Arab adalah “shaum”. Yang artinya menjauhkan diri, menahan diri, dan mencegah diri dari hal-hal yang kurang baik. Ini adalah soal diri sendiri. Jadikan puasa kita sebagai ujian terhadap hal-hal tidak baik dan tak perlu mengritisi semua yang dirasa tidak berubah menjadi lebih baik di bulan puasa ini. Karena puasa sesungguhnya adalah ujian untuk diri kita sendiri.

Maka itu di bulan puasa ini marilah kita menguji diri untuk bisa mengasah kejernihan hati, ketajaman pikiran sehingga dapat memberangus sifat-sifat tercela dan dosa-dosa yang ada di dalam diri kita. Amin.

Eh iya, paragraf penutup terakhir itu hasil googling juga.

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Teks: Anto Arief