Menerawang 2023: Kalau Bisa Jadi Aldi Taher, Kenapa Harus Ahmad Dhani?

Jan 26, 2023

Tentu siapa Aldi Taher dan Ahmad Dhani tidak perlu diperkenalkan lagi. Namun bisa jadi itu masalahnya: Aldi Taher sebaiknya diperkenalkan sebagai siapa? Ia bisa jadi adalah seorang penyanyi, penulis lagu, produser musik, kreator konten, penulis, presenter atau bahkan pelawak, aktor, hingga politisi. Mungkin jika Aldi Taher hidup di zaman Yunani Kuno atau Renaisans, ia akan bersahabat dengan Aristoteles atau Leonardo da Vinci sebagai sesama “polymath”.

Pertanyaannya, mengapa Aldi Taher layak dibahas? Bahkan tidak cuma dibahas, model video klip Manusia Bodoh itu juga perlu kita wacanakan secara serius. Hal yang membuat kita perlu mendiskusikannya sungguh-sungguh adalah kenyataan bahwa Aldi Taher begitu terkenal. Berbeda dengan berita tentang artis lainnya yang musiman dan timbul tenggelam, Aldi Taher nyaris selalu  eksis, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir ini.

 

Apakah karya ataupun sosok Aldi Taher begitu gemilang sehingga pantas untuk terus diberitakan dan dibicarakan oleh netizen? Nah, ini justru titik perdebatannya, soal apa yang dimaksud dengan “gemilang”. Secara musik, misalnya, kelihatannya tidak ada yang bisa dikatakan “wow” dari karya Aldi Taher. Akornya gitu-gitu aja, liriknya sering jenaka memang, tetapi tidak ada yang sastrawi dan terdengar begitu banal (Lesti sayang Rizky Billar/ Rizky Billar sayang Lesti / Mereka saling mencintai / Kar’na Baby L). Kalaupun ada yang bisa dikatakan “wow”, bisa jadi adalah kemampuannya dalam membaca momentum terkait “apa yang sedang ramai”.

Di mana ada keramaian, di situ ada Aldi Taher: fenomena cepmek, kerumitan kisah cinta Lesti – Rizky Billar, soal Nissa Sabyan, hingga peristiwa diremasnya buah zakar Dikta, semuanya diwujudkan menjadi lagu yang hampir bisa dipastikan viral.

Di mana ada keramaian, di situ ada Aldi Taher: fenomena cepmek, kerumitan kisah cinta Lesti – Rizky Billar, soal Nissa Sabyan, hingga peristiwa diremasnya buah zakar Dikta, semuanya diwujudkan menjadi lagu yang hampir bisa dipastikan viral. Mungkin di antara kita terjadi perbedaan pendapat soal keahlian Aldi Taher yang satu ini: ada yang menganggapnya hebat, pintar cari peluang, tapi bisa juga ada yang menganggapnya tidak lebih dari seorang oportunis, hanya ikut ramainya saja, dan dia tidak mampu membuat karya monumental seperti katakanlah, yang dilakukan oleh Ahmad Dhani.

Penggemar musik Indonesia, bahkan dari generasi terkini sekalipun, rasanya tahu siapa Ahmad Dhani. Waktu Aldi Taher masih balita, Ahmad Dhani telah mendirikan grup musik rock Dewa 19 atau Dewa yang namanya masih harum hingga hari ini. Siapa tidak kenal lagu-lagu Dewa 19 atau Dewa seperti “Kirana”, “Pupus”, “Kangen”, “Cukup Siti Nurbaya”, hingga “Separuh Nafas”? Iya, itu semua ditulis oleh Ahmad Dhani dan tidak hanya laku di pasaran, tapi juga berhak menyandang status legendaris. Mereka yang mengalami masa remaja di tahun 1990-an atau 2000-an awal kemungkinan besar pernah menjadikan lagu-lagu Dewa 19 atau Dewa sebagai soundtrack hidupnya saat jatuh cinta, cemburu, atau patah hati.

Secara musik, tidak ada yang bisa dikatakan “wow” dari karya Aldi Taher. Akornya gitu-gitu aja, liriknya sering jenaka memang, tetapi tidak ada yang sastrawi dan terdengar begitu banal. Kalaupun ada yang bisa dikatakan “wow”, bisa jadi adalah kemampuannya dalam membaca momentum terkait “apa yang sedang ramai”.

Apakah berlebihan membandingkan Aldi Taher dengan Ahmad Dhani sebagai sesama penulis lagu, penyanyi, multi instrumentalis, dan ehm, oportunis? Ahmad Dhani bukannya tidak punya “sisi Aldi Taher”. Sebagai contoh, Ahmad Dhani beberapa kali bermanuver dengan membuat band proyekan. Selain itu, seperti halnya Aldi Taher yang menjadi bagian dari Partai Bulan Bintang, Ahmad Dhani juga terjun ke dunia politik praktis bersama partai Gerindra. Bahkan menurut pemberitaan yang simpang siur, keduanya siap nyalon di pilkada 2024 nanti.

Soal kontroversi, rasanya keduanya juga lekat dengan gosip-gosip miring. Deddy Corbuzier misalnya, mengaku menyesal pernah mengundang Aldi Taher karena dianggap “kurang bermutu”. Ahmad Dhani, kita tahu, sempat ramai soal hubungannya dengan, ya sudahlah, tidak perlu dibahas dalam tulisan ini.

Apakah berlebihan membandingkan Aldi Taher dengan Ahmad Dhani sebagai sesama penulis lagu, penyanyi, multi instrumentalis, dan ehm, oportunis? Perlu diingat, Ahmad Dhani bukannya tidak punya “sisi Aldi Taher”.

Jadi, apa bedanya Aldi Taher dan Ahmad Dhani? Apakah kita berani bilang bahwa Ahmad Dhani lebih skillful, musikal, dan bertalenta? Tidak juga. Aldi Taher juga bisa segala macam instrumen, ia bahkan bisa berjoged dan akting di FTV (hal yang tidak pernah kita lihat dari Ahmad Dhani). Lagu-lagu Ahmad Dhani legendaris dan terkenal, tapi lagu-lagu Aldi Taher hampir selalu viral. Kalau ada yang bilang lagu-lagu Aldi Taher “jelek” dan video klipnya lebih terkesan konyol ketimbang estetis, maka tanyakan pada diri kita sendiri: mengapa ia terus eksis dan banyak orang tetap mengonsumsinya?

Bisa jadi orang-orang sudah bosan dengan periode puluhan tahun di bawah sosok dan musik serupa Ahmad Dhani dan sejenisnya, sehingga perlu juga mengalihkan diri pada sosok dan musik serupa Aldi Taher dan sejenisnya. Apa itu persisnya “sosok dan musik serupa Ahmad Dhani dan sejenisnya”? Mungkin semacam usaha untuk membuat musik yang monumental, legendaris, dengan lirik-lirik yang puitis, diiringi instrumen musik dengan skill yang “wow”. Selain itu, Ahmad Dhani juga dicitrakan sebagai sosok yang jenius, brilian, dan super berbakat.

Ia bermusik dengan mengikuti isu apa saja yang sedang hits. Ia tahu bahwa berkarya dengan cara demikian hasilnya akan bersifat sementara, tapi bodo amat, nantinya dia tinggal membuat lagi karya yang baru dan seterusnya.

Aldi Taher tidak perlu hal-hal demikian untuk dikenang. Ia bermusik dengan mengikuti isu apa saja yang sedang hits. Ia tahu bahwa berkarya dengan cara demikian hasilnya akan bersifat sementara, tapi bodo amat, nantinya dia tinggal membuat lagi karya yang baru dan seterusnya. Lagipula, meski cuma sementara, toh pemasukan dari Youtube-nya abadi, kan? Aldi Taher tidak perlu memikirkan apakah musiknya berlirik puitis atau susah ditiru akibat skill-nya yang tinggi. Bahkan sebaliknya, kata-kata banal dengan akor seadanya sudah cukup untuk membuat orang mencacimaki sambil tetap menyaksikan hingga akhir.

Aldi Taher selalu viral dan dikonsumsi, karena kita merasa lebih dekat dengannya ketimbang Ahmad Dhani yang seolah bersinggasana di atas langit. Kita perlu idola baru yang dekat dengan kepandiran. Kepandiran adalah kita.

 

Menerawang Nasib Aldi Taher di tahun 2023

Tahun politik masih setahun lagi, tapi kita tahu, masyarakat kita pasti sudah mulai diramaikan oleh kampanye tipis-tipis dari calon-calon yang siap bertarung di pemilu 2024. Kita akan kembali pada tesis awal: Dimana ada keramaian, di situ ada Aldi Taher. Aldi Taher kemungkinan besar akan semakin giat membuat karya, baik dalam rangka kampanye politik kecil-kecilan (jika dia jadi nyalon) atau mengarahkan pendukungnya pada pandangan politik tertentu.

Aldi Taher masih akan cemerlang di tahun ini dan bahkan di tahun depan. Buktinya sudah terlihat setidaknya dari tiga single yang ia rilis di awal tahun 2023 ini yakni “Joget Lato Lato”, “Dear Ria Ricis”, dan “Janda Kaya”.

Misalnya, jika ia berpihak pada partai berhaluan agama, ia akan membuat lebih banyak karya religius; jika ia berpihak pada partai nasionalis, ia akan menulis lagu tentang NKRI; jika ia berpihak pada partai buruh, ia akan mengarensemen ulang lagu “The Internationale” versi koplo. Bagi Aldi Taher, tidak ada yang tidak mungkin.

Selain itu, meski kondisi pandemi kian membaik, orang-orang masih perlu waktu untuk memulihkan keadaan setelah badai ekonomi yang begitu berat. Untuk mengiringi transisi menuju pemulihan ini, mereka tidak perlu lagu yang berat-berat nan puitis, cukup yang ringan-ringan, konyol, apa adanya, seperti yang biasa ditulis oleh Aldi Taher. Kita butuh lebih banyak tertawa, termasuk menertawakan diri kita yang sebagiannya ada pada Aldi Taher.

Jadi, percayalah, Aldi Taher masih akan cemerlang di tahun ini dan bahkan di tahun depan. Buktinya sudah terlihat setidaknya dari tiga single yang ia rilis di awal tahun 2023 ini yakni “Joget Lato Lato”, “Dear Ria Ricis, dan “Janda Kaya”. Mungkin setelah pemilu 2024, barulah ia harus merumuskan ulang strategi brandingnya supaya tetap eksis di mata publik. Saran saya, karena isu air bersih nantinya akan makin mengemuka, ada baiknya per 2025, Aldi Taher kembali naik panggung bersama Trio Ubur-Ubur.


 

Penulis
Syarif Maulana
Pengajar di Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, mahasiswa doktoral di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, dan inisiator kelas belajar filsafat Kelas Isolasi
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
Ade maryadi
Ade maryadi
1 year ago

Cakep mas analisanya. Ga melulu semua tentang Ahmad Dhani

Eksplor konten lain Pophariini

Spontanitas dan Eksplorasi Jadi Kunci Album Baru Sal Priadi

Mundur dari target akan beredar 2 tahun lalu, Sal Priadi akhirnya memantapkan diri untuk segera melepas album penuh kedua MARKERS AND SUCH PENS FLASHDISK akhir Maret 2024. Sebelum bisa didengarkan secara penuh, Sal memberikan …

Teddy Adhitya Ciptakan Kapsul Waktu dalam Videoklip Kembalikanku

Teddy Adhitya kembali merilis videoklip baru dari album semua, semua. berjudul “Kembalikanku” via kanal YouTube teddyadhitya hari Jumat (23/02) menyusul perilisan videoklip “Seperti Setiap Hari” dan “Caraku, Caramu”.   Lagu “Kembalikanku” merupakan trek ke-6 …