141

Menikmati Topik-topik Bergizi di Archipelago Festival 2018

Rhoma Irama
Raja Dangdut: Rhoma Irama bicara soal Dangdut Nusantara di Archipelago Fest, Minggu (13/9) / foto: Pohan.

“Jaman dulu kalau Soneta manggung selalu terjadi macam-macam, panggung ditimpuki batu, dikencingin …. ” ungkap Rhoma Irama, mengenang awal-awal meniti revolusi musik orkes melayu dan rock atau yang disebut dangdut bersama Soneta, grup musik dangdut yang dipimpinnya.

Perseteruannya dengan para rockers (begitu bang Haji menyebutnya) memang memilukan kalau dibayangkan dan dikenang; berkali-kali Soneta mendapat perlakuan kasar setiap kali mereka manggung, belum termasuk ditolak produser musik atau dikatai kata-kata kotor oleh para rocker sampai ditulis di media, dan lain sebagainya, memilukan sekali.

Rhoma Irama
Rhoma Irama berdiri mempraktekan joged dangdut / foto: Pohan.

Selama dua jam, Rhoma Irama membahas soal akar musik dangdut juga pengalamannya bersama Soneta yang berhasil merevolusi melayu, mencampurkannya dengan musik rock hingga akhirnya muncul aliran musik yang kita kenal sebagai dangdut.

Baca juga:  Kelompok Penerbang Roket Terbang ke Limunas

Dipandu Felix Wimono, topik dangdut dan Rhoma Irama adalah bagian dari talkshow seru dari seluruh rangkaian talkshow Archipelago Festival yang digelar Sabtu (13/9) di Soehanna Hall, SCBD Jakarta Selatan.

Indra Lesmana dan Nikita Dompas membahas soal Jazz Nusantara / foto: Pohan.

Dimulai dari jam satu siang, beragam topik diskusi yang keren digelar, menampilkan pembicara-pembicara yang ciamik juga. Indra Lesmana dan Nikita Dompas membahas jazz nusantara. Addie MS dan Ricky Virgana mengulik soal pentingnya sekolah musik.

Di sesi yang lain, peserta festival diajak buat membahas soal pajak musisi bersama Dirjen Pajak, ada juga obrolan seru soal hak cipta dan royalti bersama Meidi Ferialdi dari Wami dan tERe selaku musisi dan konsultan HKI, semua topik berlangsung dengan seru.

Baca juga:  Siapa Suruh Datang Jakarta?
Bincang seru masalah Hak Cipta bersama Meidi Ferialdi dari Wami / foto: Pohan.

Salah satu yang ditunggu juga adalah talkshow dengan Simon Raymonde, musisi eks-band Cocteau Twins juga pendiri label Bella Union yang bercerita soal 21 tahun perjalanan karier label yang menjadi rumah dari nama-nama seperti Father John Misty, Beach House, Explosions in the Sky, Mercury Rev sampai Fleet Foxes.

Pentingnya sekolah musik bersama Ricky Virgana dan Addie MS / foto: Pohan.

Archipelago Festival sendiri digelar selama 3 hari, dari 11-13 Oktober. Sebelum talkshow sebagai puncak festival ini, di hari Kamis dan Jumat digelar showcase musik yang menampilkan band-band lokal yang keren. Digelar di Taman Kemang, festival ini berlangsung unik karena digelar di banyak bar dan tempat di sekitaran kompleks taman kemang tersebut. Dari Jangar, Glaskaca, Murphy Radio, Soloensis, Heals, Bedchamber sampai Mater Mos dan Dipha Barus, showcase dua hari itu berjalan lancar dan ramai dipadati penonton.

Baca juga:  Belajar dari Masa Lalu: Kisah Label Independen FFWD, Aksara Records dan Demajors
Penampilan sangar dari Jangar dari Bali / dok. jangar_official (instagram).
Penampilan sangar dari Jangar dari Bali / dok. jangar_official (instagram).

Meski ironisnya, jumlah peserta talkshow di hari Sabtunya memang terlihat mengalami penurunan ketimbang tahun kemarin. Ini bisa jadi disebabkan pemisahan antara talkshow dan showcase musiknya. Berbeda dengan tahun lalu antara showcase dan musik digabung di hari yang sama.

wakil rock dari Bali: Zat Kimia / foto: zatkimia (instagram).

Meski demikian jika dihitung secara keseluruhan, jumlah penonton yang datang ke rangkaian Archipelago Festival tahun ini jelas lebih banyak ketimbang tahun kemarin.

indierock kota kembang: Heals di Archipelago Fest 2018 / healsmusic (instagram).

Semoga ke depannya, Archipelago Festival sebagai satu-satunya festival di Indonesia yang menghadirkan menu talkshow dan showcase musik bisa menampilkan hidangan musik dan talkshow dengan rumusan yang lebih baik lagi.

foto-foto conference ciamik jepretan oleh Pohan