Menimbang Jaminan Sosial untuk Musisi

228

Kabar sakitnya musisi legendaris Yockie Suryoprayogo mendorong beberapa pihak melakukan inisiasi penggalangan dana. Lewat situs penggalangan dana dan donasi online, https://kitabisa.com/ , kampanye A Tribute to Yockie Suryo Prayogo yang digagas jurnalis Adib Hidayat sampai artikel ini dibuat berhasil mengumpulkan dana Rp 146.657.440. Sementara musisi-musisi Bandung seperti Java Jive dan Pure Saturday menggelar konser amal bertajuk From Bandung With Love: A Charity For Yockie Suryo Prayogo pada Rabu (15/11) lalu.

Solidaritas antarmusisi ini bukan sekali dua kali dilakukan. Di tengah persaingan ketat industri musik, masih ada rasa tenggang rasa untuk sejawatnya yang membutuhkan pertolongan. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap niat mulia untuk membantu sesama, muncul pertanyaan: perlukah musisi memiliki jaminan sosial?

Cerita musisi-musisi senior yang mesti hidup kesusahan di hari tua menjadi kisah lawas yang terus menerus berulang. Pemandangan Paul Mc Cartney menghabiskan waktu dalam yacht mewahnya di resor Ibiza mungkin agak sulit ditemui jika berbicara di ranah musisi Indonesia. Saat Paul Mc Cartney bisa dengan tenang menerima aliran uang royalti karya-karyanya, musisi Indonesia mesti mengatur siasat bertahan hidup di hari tua.

Royalti awalnya bukan konsep yang umum dijalankan pelaku industri musik Indonesia. Sebelum geger masalah pembajakan album Live Aid yang membuat Bob Geldof mencak-mencak ke pemerintah Indonesia, skema jual putus jadi mekanisme umum yang dijalankan pelaku industri musik. Album meledak sekian juta kopi, musisi hanya bisa pasrah menerima bayaran di muka berupa uang tunai atau sepeda motor dan mobil yang nilai ekonominya terus menurun. Baru setelah era 80-an konsep royalti mulai dijalankan, meski harus diakui masalah transparansinya masih jadi perdebatan pihak-pihak yang terkait sampai hari ini.

Niatan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendorong para musisi mendaftarkan diri menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Ketenagakerjaan patut mendapat apresiasi, meski saat ini baru terbatas di kota Bandung saja. Dengan tercatat sebagai peserta BPJS, musisi akan mendapatkan keringanan biaya rumah sakit, baik saat sakit maupun kecelakaan, termasuk menerima jaminan hari tua.

Idealnya jaminan kesehatan dan sosial jadi klausul tak terpisahkan dalam kontrak kerjasama antara musisi dengan pihak yang “mempekerjakannya”, dalam hal ini bisa label rekaman, penerbit musik, atau promotor pertunjukan.  Mekanisme pembayarannya bisa dipotong dari pembayaran royalti atau honor pementasan. Jika berbicara dalam ranah yang lebih mikro, skema jaminan melalui BPJS ini juga bisa diterapkan oleh manajemen artist ke kru-krunya.

Berkaca dari situasi di industri musik yang serba tak pasti, musisi juga perlu melakukan investasi untuk memastikan pendapatan mereka tetap aman meski masa produktif berkarya sudah lewat. Eric “Slowhand” Clapton menanamkan duitnya di penyewaan kapal pesiar, sementara Bono vokalis U2 memiliki investasi bidang properti. Di Indonesia yang jamak ditemui adalah sektor merchandise, seperti Jerinx, penggebuk drum Superman Is Dead, yang memiliki clothing line Rumble atau distro Lawless milik vokalis Seringai, Arian 13. Beberapa bergerak di sektor kuliner seperti Akhdiyat Duta vokalis Sheila On 7 yang punya pizzeria Il Mondo dan kedai pasta Meglio, Endah Widiastuti dan Rhesa Aditya dari Endah n Rhesa yang membuka coofeshop earHouse,  Leon Legoh, yang menjalankan bisnis rumah makan Legoh di sela kesibukan sebagai drummer grup industrial rock Koil, juga yang terbaru adalah Lawless Burgerbar hasil kongsi Arian 13 dengan beberapa kawannya.