Depresi dan Bunuh Diri yang Rentan Di Musisi

Oct 10, 2021
Depresi Musisi

Musisi dan Depresi di Era Media Sosial

Banyak alasan yang membuat pekerja seni dan musisi rentan depresi dan frustrasi. Contoh yang paling dekat yakni bagaimana mereka berhadapan dengan media sosial. Ketika pencapaian dan penghargaan terhadap manusia digiring melulu pada popularitas, maka persaingan utama terletak pada sensasi dan bagaimana menjadi dominan. Fenomena kemunculan tokoh, membuat konten, dan menjadi viral; semua ditujukan untuk terus dibicarakan secara temporer.

Mengais rupiah dan bertahan hidup bagi pekerja seni hari ini tidak cukup melalui karya dan menyerahkan begitu saja pada manajemen keartisan. Pekerja seni seolah dituntut harus selalu muncul menjadi perbincangan dan apapun yang mereka lakukan jika perlu akan disadur berkali-kali dalam bentuk karikatur khas zaman kiwari: meme, komik singkat, dan utas.

Berikut sebuah amatan yang dapat disanggah: bahwa konten-konten yang cenderung mudah viral akan memberi celah berkomentar agar menjadi buah bibir, bergulir tak berkesudahan hingga memiliki begitu banyak versi pemikiran dan ragam perseteruan. Pemikiran dan perseteruan yang berjibun itu bahkan berakhir tidak menjadi apa-apa di keesokan hari. Kita bisa melihat bahwa isu hanyalah alat, poin utamanya: siapa yang muncul dan dipercaya membuat konten menarik selanjutnya? Ini bukan soal kualitas; ini soal bagaimana caranya untuk dapat diingat. Media sosial seolah sebuah transformasi acara gosip televisi era 90-an, di mana selebriti akan berlomba untuk terus hadir di permukaan.

Ketika seluruh pekerja seni dipukul rata perlu melakukan kerja-kerja eksploitatif seperti itu? Yang mana kemunculan dan sensasi identik dilakukan oleh pelaku industri arus utama, tidak pada pekerja seni akar rumput. Sayangnya kenyataan bicara lain karena media sosial selain memberi ilmu, ia juga memberi hidup yang pasif bagi penggunanya. Tentu kebiasaan ini tak begitu cocok bagi pelaku seni akar rumput yang membutuhkan gerak dan kesadaran secara nyata. Maka untuk menumbuhkan kesadaran partisipatif? Pada akhirnya pelaku seni akar rumput menyeret diri ikut hadir dalam lautan luas media sosial untuk dapat mempertahankan lingkungannya tetap sehat: memberi pemahaman akan batasan,  membagikan pengetahuan kerja-kerja kultural, dan etika.

Pekerja seni seolah dituntut harus selalu muncul menjadi perbincangan dan apapun yang mereka lakukan jika perlu akan disadur berkali-kali dalam bentuk karikatur khas zaman kiwari: meme, komik singkat, dan utas

Tentu saja segala yang ditulis di atas, merupakan gambaran bagaimana eksploitasi telah menjadi bagian kebudayaan toxic itu sendiri bagi pekerja seni (musisi ada di dalamnya) yang menyebabkan frustrasi, depresi, dan mungkin… dapat menyebabkan bunuh dirinya pekerja seni. Karena mereka tidak hanya bekerja untuk karya, kini mereka bekerja tanpa disebut pekerjaan: sebagai netizen itu sendiri. Saya pikir semestinya netizen adalah pekerjaan. Ketika menekan tombol loves, retweeted, shared, dan likes? Saya telah menjadi pekerja tanpa perlu dibayar, tak sadar telah dimanfaatkan, dan bekerja secara kolektif demi kepuasan konsumen. Sepandir jutaan nasib para ayam potong untuk restoran siap saji.

Yang Samar dan Tabu

Tak asing jika bunuh diri musisi dan penulis akibat depresi sering kita dengar; terdokumentasi dalam biografi, obituari, dan dokumenter. Di sini perlu penekanan tegas, bahwa kisah depresi dan bunuh diri tersebut datang dari Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Apakah di Indonesia ada? Bagaimana kalau diceritakan a’la kisah fiksi saja. Saya tulis seperti ini:

Di sebuah kafe, terdengar perbincangan samar tak jauh dari meja saya. Seolah saya ini detektif yang memperkirakan mereka tak lain adalah sekumpulan remaja-remaji perantauan yang datang mengadu nasib ke ibukota. Agaknya mereka terdiri dari beberapa band yang personilnya berteman sangat dekat,

Ia menyikapkan kedua lengan di atas meja dan menjulurkan wajah, “Off the records aja. Sebagian kita udah tau ‘kan? Dia depresi dan bunuh diri.Tapi pihak keluarga gak mau berita ini kedengeran. Gue yakin kita-kita juga maunya almarhum dikenang baik sama semua orang dan bukan jadi obrolan gak enak kayak gini.”

“Are you sure about this?” tanya temannya meyakinkan. Mata menyipit tak mempercayai. Suasana hening sementara.

Lalu, teman lain menimpali, “Nggak ah! Nggak gitu yang gue denger!”

Kita simpan percakapan fiktif di atas. Kita bertualang mundur memakai mesin waktu untuk melihat lebih rinci bagaimana depresi yang dialami seniman atau musisi, hingga kemungkinan mereka bunuh diri. Untuk itu saya akan membahas tabu, karena merinci bunuh diri pada pelaku seni di Indonesia atau di Asia cukuplah pelik.

Tentu saja segala yang ditulis di atas, merupakan gambaran bagaimana eksploitasi telah menjadi bagian kebudayaan toxic itu sendiri bagi pekerja seni (musisi ada di dalamnya)

Dalam sejarah dan apa yang didapat dari naskah masa lampau, pujangga kerajaan ketika bicara soal kenyataan pahit? Misal pada kasus kesewenang-wenangan yang dilakukan para priyayi kerajaan Surakarta dan Yogyakarta? Dicatat dengan simbol dan dikisahkan sebagai mitos.[1] Apa yang dialami Ranggawarsita di dua ratus tahun lalu: ia disingkirkan sebagai pujangga dan priyayi kerajaan. Ranggawarsita dibungkam atas nama kesopanan, harga diri, dan nama baik. Karena telah menuliskan wejangan yang dinyanyikan, seperti: Kalabendhu dan Kalatidha. Kedua wejangan itu membahas bagaimana priyayi-priyayi menelanjangi hak-hak rakyat, semau diri menjadikan perempuan sebagai properti atau gundik, melanggengkan nepotisme, dan membudayakan korupsi.[2]

Yang menyebalkan dari tabu atau hal yang ditutupi, yakni selalu saja erat hubungannya dengan relasi kuasa. Terkesan tak pantas dan tak etis dilakukan oleh orang yang memiliki posisi istimewa, usaha menutupinya adalah penyangkalan dan penyingkiran pada yang menyuarakan. Sebuah kesopanan yang telah menutupi banyak persoalan dan sejarah asli. Perlu usaha lebih dan ada kemungkinan akan menemukan risiko kontra dari masyarakat ketika membongkarnya, karena dianggap mencederai.

Contoh lain yang datang lebih kuno di abad ke-14, yakni dongeng Nini Anteh [3] di tanah Sunda yang kelak dijadikan lagu di tahun 1976: Bulan Tok.[4] Anteh memanjat pohon nibung yang meninggi dan pergi mengasingkan diri ke bulan, tak lain disebabkan kecemburuan dan penyiksaan ibu tiri terhadap Anteh dan Chandramawa (kucing yang melahirkan Anteh akibat meminum air kencing di gayung batok kelapa).

Kisah kehamilan kucing yang meminum air kencing pemburu (suami ibu tiri Anteh) di gayung batok bagi saya? Sangat ganjil! Namun tak mampu memastikan apakah memang hamil dari air kencingkah? Atau memang benar-benar simbol relasi kuasa yang meniadakan sosok manusia menjadi makhluk lain sebagai simbol alienasi terhadap hal yang dianggap dapat menjatuhkan harga diri manusia (lebih tepatnya lelaki).

Kita bertualang mundur memakai mesin waktu untuk melihat lebih rinci bagaimana depresi yang dialami seniman atau musisi, hingga kemungkinan mereka bunuh diri. Untuk itu saya akan membahas tabu, karena merinci bunuh diri pada pelaku seni di Indonesia atau di Asia cukuplah pelik

Tentu saya tidak sembarangan melihat hal tersebut. Karena jika mengingat kisah-kisah hantu perempuan di Indonesia atau di Asia yang menangis dan tertawa adalah korban perkosaan. Mereka bahkan hingga mati, tak mampu bicara bagaimana relasi kuasa telah menjadikan mereka sesosok hantu yang hanya mampu menangisi nasib dan dibuat gila; bahkan hantu itu dihantui penilaian-penilaian buruk masyarakat. Eufimisme dan kesopanan, telah salin rupa menjadi mitos dan dongeng yang menyimpan misteri tabu: bagaimana manusia dieksploitasi lalu ditutupi kenyataan pahitnya.

Menyingkirkan Tabu

Perlu diingat. Meski penghasilannya kecil, ditindas oleh industri digital platform, dan lapisan berikutnya seperti sponsor rokok. Di Indonesia, musisi tetap diperlakukan sebagai orang-orang yang memiliki posisi istimewa di masyarakat berkultur komunal yang menjunjung tinggi ramah-tamah dan nama baik kelompok.

Pemusik adalah priyayinya masyarakat. Seniman seringkali dianggap manusia santai yang hidup dalam kemapanan. Di Eropah, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat? Musisi dalam posisi yang jelas: buruh. Usaha memahami dan membicarakan terus-menerus bahwa musisi adalah buruh, akan menyingkirkan ketidakpahaman tentang kehidupan yang dialami musisi dan seniman lain di mata masyarakat. Karena konsentrasi akan sangat fokus membahas hak-hak yang perlu didapatkan musisi atau seniman. Dengan begitu tabu akan menyingkir cepat atau lambat.

Budaya penuh kesungkanan dan ramah-tamah ini telah melaburkan banyak sekali kenyataan yang akhirnya sulit dipelajari. Kematian akibat depresi dan bunuh diri jika melihat budaya masyarakat di Indonesia? Dengan referensi sejarah tadi? Maka cenderung merawat nama baik karena dianggapi aib, demi ketenangan keluarga, menutupi ketidakberpihakan, dan hidup yang dipalsukan bagi Si Mati.

Pemusik adalah priyayinya masyarakat. Seniman seringkali dianggap manusia santai yang hidup dalam kemapanan. Di Eropah, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat? Musisi dalam posisi yang jelas: buruh

Sedangkan, bibit persoalan yang dituntut Si Mati? Tak kunjung dibahas, bahwa: musisi depresi, musisi bunuh diri? Tak lain disebabkan eksploitasi industri yang tak pernah berpihak dan waras memperlakukan mereka sebagai manusia, sebagai pekerja, dan sebagai individu.

Musisi dipaksa menjual dirinya yang sama sekali tak memiliki hubungan dengan karya seni pita suara dan alat musik. Memaksa musisi aktif membuka kehidupan privat yang seringkali palsu di dua dunia: nyata dan maya. Akibatnya musisi menjadi profesi yang rentan sakit akibat: lingkungan hidup, cara kerja yang toxic, penilaian masyarakat, dan harapan hidup layak yang tak mampu terjawab.

Industri seni hari ini bak restoran ayam goreng siap saji; yang penting tampilannya bersih dan menggiurkan. Urusan di balik itu? Tentu saja ada jutaan ayam yang dibuat untuk siap potong, terus-menerus bertelur

Lagipula kapitalisme tidak pernah suka dirinya menjadi kotor di mata konsumen. Kalau perlu yang disalahkan adalah gaya hidup musisi yang tak sehat, namun tak pernah menanyakan mengapa mereka sebegitu tak sehatnya? Akibat apa?

Industri seni hari ini bak restoran ayam goreng siap saji; yang penting tampilannya bersih dan menggiurkan. Urusan di balik itu? Tentu saja ada jutaan ayam yang dibuat untuk siap potong, terus-menerus bertelur, tak peduli tentang kesehatan tubuhnya, mentalnya pun hancur, hidup seperti zombi, dan kelak mati mengenaskan.

Musisi? Seperti ayam itulah.

Yang pasti jika ingin menekan tingkat depresi dan ingin hidup dengan mental yang sehat? Maka perlu ada kesadaran saling mendukung cara-cara kerja kultural yang tak eksploitatif, baik di arus utama dan arus bawah. Berjejaring dan menyingkirkan snobisme yang membutakan kebaruan yang seringkali ditemukan di arus bawah. Membentuk serikat kerja musisi untuk saling berbagi keresahan atau persoalan. Syukur-syukur usaha saling dukung itu bisa merealisasikan revolusi para ayam potong melawan eksploitasi yang dilakukan pemilik francise restoran ayam goreng siap saji. 🙂

 


 

[1] Karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Ranggawarsita ini berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Berupa kidung atau tembang yang menceritakan kehancuran, ketamakan, dan korupsi para pejabat pemerintah.[Apakah Lagu Anak Masih Diperlukan?, JurnalRuang, 2017].

[2] idem

[3] Rolland Burrage Dixon, Mythology of All Races. Vol 9: Oceania. Spinning Nini Anteh and Her Cat. Cambridge Massachusetts, 1916. Hlm 238-239.

[4] Wahyu Wibisana. Purna Drama: Geber-Geber Hihid Aing. Pelita Masa, 1976. Hlm. 79.

Penulis
Galih Nugraha Su
Galih Nugraha Su, dikenal dengan nama lain Deugalih. Musikus, kritikus pendidikan, esais musik. Buku yang telah diterbitkan: Esai-Esai Galih Nugraha Su (2019, zine), Pendidikan yang Menjajah (2020, Osiris), Berita Kehilangan (2021, Kumpulan Cerpen, Ultimus). Kini sedang menulis buku kritik pendidikan dan kumpulan esai tentang musik untuk diterbitkan selanjutnya.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Dari Belanda Hingga Jerman, Voice of Baceprot Umumkan Jadwal Tur Eropa!

Trio nu-metal beranggotakan Marsya, Widi dan Sitti ini baru saja mengumumkan jadwal tur Eropa Voice of Baceprot yang nantinya akan melewati beberapa negara.

Holy City Rollers Bocorkan Single Baru “Blister”. Dengarkan Perdana di Sini

Holy City Rollers (HCR), akan merilis lagu terbaru mereka yang berjudul “Blister”. Pophariini beruntung mendapatkan ijin buat kasih denger duluan.