Menyiasati “Hari Akhir” Berkembangnya Selera Musik: Tanggapan Terhadap “Kenapa Selera Musik Kita Mentok di Usia 30 Tahun”

• Jun 9, 2021

Bayangkan adegan ini: kamu adalah seseorang 20 something, yang berada di jajaran Generasi Z. Salah satu kegemaran kamu di waktu luang tentunya adalah menikmati musik di streaming service, menyusun berbagai playlist yang kamu tahu akan mendulang likes, karena dengan pengikut Spotify kamu yang mencapai bilangan dua digit dan selera musik yang kamu anggap beda dari yang lain itu, pede hal itu bisa terjadi.

Tapi, ketika kamu lagi seneng-senengnya menelaah berbagai jenis musik, ada seseorang berkepala tiga di luar sana yang sama sekali tidak kamu kenali, bilang kalau selera musik kamu bakal mentok di umur 30 dalam sebuah artikel sepanjang 1,226 kata. Tidak kurang tidak lebih. Katanya, kamu cuma punya 10 tahun lagi buat eksplorasi jenis-jenis musik yang kamu belum pernah denger. Cuma punya 10 tahun lagi sampai akhirnya nanti kamu nggak bisa memperbarui playlist kamu lagi.

Layaknya guillotine, artikel tersebut seperti bilah pisau yang menohok kamu dengan instan. Itu hal yang persis saya rasakan sesaat setelah beres menyelami keseluruhan 3 halaman artikel “Kenapa Selera Musik Kita Mentok di Usia 30 Tahun” gubahan mas Aris Setyawan.

Sebetulnya yang paling menyesakkan buat saya bukan perihal masa penelusuran musik yang seakan diberi timer –walaupun hal ini membuat saya sedikit geram karena om om mana yang berhak memberitahu kapan selera musik saya akan berhenti berkembang? Tapi karena beberapa hal yang disampaikan menurut saya juga benar adanya. Sebuah pil pahit yang sulit ditelan.

Di masa dimana musik semakin mudah diciptakan dan begitu pula dikonsumsi, sebagai pendengar pasti kewalahan dengan keramaian arus konten yang datang secara bersamaan. Mengurut lagu atau album mana yang dihinggapi terlebih dahulu, Menikmati berbagai lagu satu-satu sampai akhirnya menemukan hanya satu lagu yang kamu rasa hanya sekedar “ah oke” dari ratusan rilisan baru yang terbit di minggu itu sampai-sampai jatah skips layanan streaming edisi gratis kamu habis. Sebuah lingkaran setan yang melelahkan dalam basis mingguan.

Sehingga hal yang paling nyaman untuk dilakukan adalah dengan kembali ke zona nyaman yang familiar, menikmati lagu-lagu yang kamu tau kamu suka, kabur dari tekanan harus selalu mengikuti yang teranyar. Ibadah jumat saya setiap minggu pun (baca: buka Release Radar), hanya sebatas mencari rilisan terbaru artis yang udah tau saya suka, karena udah mager (baca: males denger), menghabiskan tenaga buat keluaran terhangat musisi lain. Karena sejatinya musik adalah sarana pelarian bukan? Buat apa mendengarkan musik jika mendapat konsekuensi tekanan yang lebih? Sedih sekali memang, keinginan untuk terus berjelajah malah sudah kian menipis di kisaran umur 20 ini.

Tapi garis kesepakatan terhadap artikel itu saya tarik cukup sampai di sana. Mentok? saya rasa pilihan kata tersebut terlalu ekstrim. Mentok yang menurut KBBI menghimpun arti: tidak dapat terus atau buntu. Masih sebuah misteri apakah judul tersebut dibuat dalam rangka clickbait atau bukan. Menurut saya, umur bukan menjadi penghalang. Klise memang, tapi saya percaya peribahasa tidak ada kata telat dan jika ada niat, pasti ada jalan. Umur 30 tahun masih terlalu awal untuk akhirnya berhenti menjelajahi jagat musik yang kian meluas dan mutakhir. Berhentinya eksplorasi jenis musik tidak seharusnya menjadi komponen dari sebuah quarter life crisis.

Sebutlah saya seorang penyangkal, tapi saya menolak untuk percaya bahwa ketika saya menua nanti, akan terlalu sibuk untuk mengeruk jenis-jenis musik baru. Malah saya rasa hal itu akan menjadi sesuatu yang segar dan menjadi media untuk menghindari rutinitas yang membosankan.

Memang, tidak bisa dipungkiri mungkin nantinya saya akan terjebak di lingkaran setan tadi. Namun saya dengan optimis akan menyertakan beberapa metode yang sekiranya dapat menyiasati hal tersebut, walau tanpa disertai bukti dari sebuah studi atau jurnal apapun.

 

Konsultasi Kepada Teman
Dewasa ini, gengsi sudah jadi sifat yang amat sangat basi. Tidak ada salahnya meminta bantuan atau usulan kepada teman. Merujuk kembali kepada peribahasa yang sudah usang juga yaitu malu bertanya sesat di jalan, jika tidak meminta bantuan maka akan selalu stagnan dan tidak mengalami pergerakan apapun.

Penulis
Gattar Fath Athallah
Mahasiswa Televisi dan Film, Fikom Universitas Padjajaran. Iri sama yang bisa main musik, tapi cuma bisa nulis tentang mereka. Aslinya kalau di chat, nulisnya nggak pake titik koma. Penganut serius 2 botol Y*kult setiap hari. Sementara menulis untuk Gilanada.com dan juga
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Terkait

Eksplor konten lain Pophariini

Resensi: Sunwich – Storage

jika anda penyuka katalog gelombang baru band indiepop vokalis perempuan, anda harus memberikan Sunwich kesempatan untuk dipasang kencang-kencang.

Mau Tau Banget?: Mentor Interview – Laleilmanino

Selamat datang di edisi perdana Mentor Interview! Sekilas mengenai Mentor Interview, kami berkeliling menemui nama-nama yang sudah tidak asing lagi di industri musik Indonesia saat ini. Nama-nama yang kami temui, mempunyai keahliannya masing-masing di …