“Menyusuri 15 Lagu Piringan Hitam Kiri Kanan” Oleh Harlan Boer

Mar 1, 2022
Harlan Boer

Halo pembaca, nama saya Harlan Boer. Selain penulis (mungkin Anda pernah mendapati tulisan-tulisan saya di Pophariini), saya juga seorang singer-songwriter. Sejak 2012, bersama berbagai indie label (di antaranya Rain Dogs Records, Nanaba Records, Lamunai Records, Langen Srawa Records, RRREC, SRM, Paviliun Records, Cathysri Records) saya telah merilis sejumlah single, mini album, live EP, album penuh, album kompilasi, album ganda, split album, dan proyek kolaborasi, baik dalam format kaset, CD, maupun digital. Kumpulan video musik saya pun telah dirilis dalam format kaset video VHS oleh HFMF Records.

Kali ini, di penghujung 2021, saya merilis album kompilasi dalam format piringan hitam. Ajakan ini datang dari Andre Yuliawan yang kemudian mendirikan Cathysri Records. Andre yang banyak memilih lagu dalam album ini, dan saya setuju dengan senang hati. Album ini memuat 15 lagu pilihan dari katalog saya dengan nama Harlan Boer sejak mini album Sakit Generik pada 2012 hingga album Bila Lapar Melukis pada 2018.

Album kompilasi ini kemudian diberi judul Kiri Kanan, diambil dari lagu yang pertama kali saya upload di Soundcloud saya, Harlan Boer pada 2012 silam.  Andre mengusulkan untuk menambah sisipan berupa buku chord gitar dan lirik sebagai paket kemasan piringan hitam ini. Desain buku tersebut dikerjakan oleh Ratta Bill dan Nadine Hanisya dari Tiny Studio. Foto sampul piringan hitam oleh Andre “Kubil” Idris, desain oleh deni Taufiq Adi.

Berikut saya ingin mengajak Anda menyusuri apa yang ada pada dua sisi piringan hitam Kiri Kanan.

Piringan Hitam Kiri Kanan Harlan Boer

 

SIDE A

Kiri Kanan

Ambil sepatu
Pasang di kaki
Kita bejalan-jalan lagi

Menuju malam
Pergi ke depan
Pulang ke belakang
Bertemu terang

Sepatu menginjak rumput
Sepatu melangkah ke bukit
Sepatu terbenam lumpur
Sepatu, kuikat talinya dulu

Pada lagu ini saya mengajak Stephanie Eka untuk berduet, seperti ingin memadukan indie pop Belle And Sebastian dan duet Jane Birkin-Serge Gainsbourg dalam versi strip down (saya bahkan sempat meminta seorang teman untuk mentranslasi liriknya menjadi bahasa Prancis). Hanya gitar akustik dan vokal, sugesti akan cuaca yang cerah, memori akan ilustrasi sampul buku Lima Sekawan (The Famous Five), dan kegemaran abadi pada lagu anak-anak ciptaaan A.T. Mahmud.

 

Sakit Generik

Sarapan ciuman
Panas bukan terang
Sendu perjalanan
Rumah hanya teman
Yang meninggal

Di mana hiburan?
Lampu-lampu padam
Dalam layu malam
Esok kan berulang
Oh, datar…

Lawan terus sakitmu hingga kebal di kota Jakarta
Tawa keras sampai lupa
Tawa keras sementara

Sebelum warasmu mencari badut atau karaoke
Cuci muka

Macetnya jalanan yang semakin “nggak kira-kira” dan rumah-rumah keluarga baru yang semakin di pinggir menjadikan klise Jakarta yang keras jadi semakin keras, bahkan bagi kalangan kelas menengah. Pekerja semakin dini berangkat mencari nafkah dan semakin larut malam tiba di kediaman. Anak dan istri sudah tidur saat pekerja pulang dan kuyu. Besoknya, sama saja. Mungkin semua punya sakit yang sama.

Untuk musik, saya terpengaruh oleh “koor alternative” pada The Flaming Lips sampai Fleet Foxes yang justru saya jadikan solo agar tambah melankolinya untuk dinyanyikan oleh Stephanie Eka. Saya bernyanyi dengan notasi sedikit-sedikit, mungkin itu terpengaruh “Perfect Day” dari Lou Reed atau lagu-lagu awal Rumahsakit. Saya juga butuh interlude yang syahdunya sedikit kacau bagaikan sepotong free jazz dalam hembusan trumpet pop yang amatir, ditiup oleh Reza “Asung” Afrisina, seorang seniman performans dan vokalis hardcore punk, Be Quiet.

 

Lalu Ada Sedih

Bangun pagi
Belek di hati
Mimpi-mimpi sudah jauh pergi

Habis makan
Tidur lagi
Bangun sore lalu mandi pagi

Tak ada kerjaan
Lalu ada sedih
Sepanjang malam kuterjaga

Hanya gitar kopong, juga vokal gusar yang lemah, untuk episode kehidupan anak muda yang gelap saat dirasa tapi selalu menarik untuk dilihat lagi. Jam tidur dan makan yang payah, tak ada kerjaan, lalu ada sedih. Purusha Irma dari l’alphalpha saya undang untuk menghibur langkah yang berat dengan bermain biola pada koda.

 

David Tarigan

Isi kurun bunyi ruang
Di studio dan di kolam ikan
Di sawah tadah hujan
Merekah cintamu bersama David Tarigan

Senar putus satu di bawah
Dan di atas karatan
Ceritanya masih panjang
Kau jelang pagimu bersama David Tarigan

Saya sempat menjalankan penerbitan independen tentang musik dan seni bernama Majalah Cobra. Saat menentukan sosok untuk sampul, nama David Tarigan, seorang teman yang kerap dijuluki sebagai “ensiklopedia musik berjalan”, sering tercetus walau ternyata tak pernah terjadi juga. Yang terjadi malah saya membuat lagu tentang dia. Mungkin tersugesti oleh David Bowie menyanyikan “Andy Warhol”, progresi verse lagu ini bergulir seperti Bowie lainnya, semisal “Life On Mars” yang dipangkas. Saya memainkan sedikit potongan pianika untuk aksen di tengah lagu dan Olivia Imelda menjadi penyanyi tamu untuk aksen bagian refainnya.

 

Jajan Rock

Pusing mikirin vinyl
Giat ngumpulin plat
Cari nafkah demi sesuap nasi dan piring-piring hitam

Minggu sore… Jajan rock
Makan siang… Jajan rock
Pulang kantor… Jajan rock
Depan internet… Jajan rock

Begitu menyukai musik The Velvet Underground, vokal a la Lou Reed menyusup masuk (bahkan sebagian besar lagu ini saya tulis sambil mengenakan kaca mata gelap) bersama daya tarik piringan hitam yang meledak-ledak. Betapa ingin mengumpulkan album-album favorit, setiap hari diisi dengan mengecek para pedagang musik, namun penggunaan isi rekening tak tega slebor terhadap prioritas kebutuhan keluarga. Pengaruh The Velvet Underground lainnya yang menempel di saya adalah menghadirkan Purusha Irma bagaikan John Cale bermain biola.

 

Kopi Kaleng

Minum kopi kaleng
Hari belum selesai
Masih ada detak cepat dan lelah
Masih ada manis-manis di marah

Buka pintu kulkas
Kacanya berembun
Biar dingin masuk ke dalam panas
Biar gula pecah di dalam gelap

Dekatkanlah jarak pada bahagia
Di mana pilihan?
Kami mencarinya

Kopi kaleng, bersama teh hijau dalam kemasan botol plastik, rasanya kemasan minuman modern yang sering saya konsumsi untuk melepas penat bekerja. Sambil menenggak kopi kaleng, haus mungkin hilang, tapi pertanyaan tak terhapus di kepala, ”Pekerjaan apa yang bisa dilakukan untuk mendekatkan jarak pada bahagia?”

 

Tetap Baik di Dalam Hati

Stabilo Boss berwarna hijau di meja kayu
Di dekat tumpukan berkas kerjamu
Di saat malam lampu menyala
Buku di paviliun
Dan aku melamun

Tak terasa berlalu
Hari-hari
Berjalan bersama
Hingga mata menutup

Tetap baik di dalam hati kita berdua
Walaupun tempat bertambah padat
Meskipun kata semakin tua
Esok di balik awan
Dan kita berseri

Saya begitu menyukai Belle And Sebastian. “Tetap Baik di dalam Hati” adalah satu lagi dari pengaruh itu. Sementara liriknya datang dari sering melihat istri saya bekerja dan belajar di paviliun rumah kontrakan kami. Saat itu kalau tidak salah 2013, sekitar delapan tahun sudah kami menikah, dan saya ingin kami berdua selalu baik di dalam hati.

 

SIDE B

 

Mandi

Mandi, mandi
Bikin aku segar
Mandi, mandi
Oh, mandi

Digosok
Diguyur
Sampoan
Sabunan

Mandi, mandi, mandi
Gosok gigi

Handukan

Nomor accapella singkat dari album Harlan Boer, Operasi Kecil (2017), vokal tumpuk-menumpuk di bawah pengaruh The Piper at the Gates of Dawn, debut album Pink Floyd.  Tema lirik buat saya sangat personal, mungkin terbaca remeh, namun sebenar-benarnya penting dalam kesehatan jasmani dan jiwa dalam menjalankan hari.

 

Dandan

Jangan keruhkan lagi suasana
Dinginkan hati, kompres kepala
Tak usah mengeluh pada matahari
Di depan kaca kita ceria

Dandan, dandan

Macet di jalan jangan dirasa
Suntuk di kantor, hindari saja
Atur siasat, tidur yang nyenyak
Di depan kaca, hati ceria

Dandan, dandan

Lagu impromptu dengan gitar akustik murah-meriah di tangan, kepala yang masih panas disengat sinar matahari siang, jalanan macet sebagai keseharian, dan siasat bekerja di kantor agar tak suntuk. Pembungkusnya adalah menghibur diri dengan fashion.

 

Kombinasi Rasa

Makan es krim berdua denganmu
Di suatu sore di hari Minggu
Suara lagu lama di kedai itu
Temani obrolan kita yang kaku

Es krim meleleh di dalam gelas
Aku pun berkata
la la la la la

Ini adalah lagu yang saya tulis dari era masih bersama C’mon Lennon, namun entah kenapa tak pernah dibawa ke studio latihan. Setting kisah lagu ini adalah Swensen’s di Jakarta. Saya mendapat izin dari pihak restoran untuk memutar CD Carpenters, dan mengobrol ke sana-ke mari, sesekali diam, dengan hati bersorak gelisah.

 

Tak Baik Maruk

S.E.R.A.K.A.H
Serakah
Jauh-jauh dari hati
S.E.R.A.K.A.H
Serakah
Oh, kikis

Tak baik maruk

Tak baik  maruk

Maruk tak baik

Album Scum dari Napalm Death memiliki tempat tersendiri bagi saya: penyampaian yang “otentik” untuk tema-tema korporasi dan keserakahan. Begitu pula pemakaian bahasa prokem dalam lirik lagu Godbless, “Ogut Suping”. Begitu pula bernyanyi mengeja huruf demi huruf  dalam lagu “Be Aggressive” dari Faith No More. Begitu pula keunikan dan kesederhanaan lagu anak-anak klasik yang mudah menyentuh saya. Lagu “Tak Baik Maruk”, di antara sadar dan tak sadar, merupakan perpaduan kesemuanya,

 

Kasak Kusuk Resign

Ngumpulin portfolio
Setiap hari cari info
Kasak-kusuk resign

O, O
Pingin pindah kantor

O, O
Keluar dari sini

O, O
Gaji makin tinggi

Coba-coba untuk pergi
Cukuplah sudah di tempat ini
Kasak kusuk resign

O o o o
O o o o
Kasak kusuk resign

Bagaimana jika synth-pop versi lo-fi a la Daniel Johnston mengundang Joey Ramone untuk menulis lagunya dan turut bernyanyi? Yang pasti, saat itu di studio ada keyboard, Stephanie Eka siap mengisi suara latar, dan ingatan saya pada era advertising konvensional di mana bila ingin pindah kantor terlihat sekali kasak kusuknya sebab harus mengumpulkan portfolio dalam bentuk fisik seperti proof print, kaset/CD rekaman iklan audio, dan kaset video atau DVD.

 

Kerja Itu Liburan

Es krim & tombol & kardus & bunga & topi & teman & bulan & smartphone  & iklan &
lari & taman & ASI & rumpun & batere & pistol & ngantuk & kursi & jeda & toko & siku
& tustel & kuku & jera & cucu & roda & laut & kursi & luput & obat & orang & batuk &
balon & motto & weker & jaket & ruko & jeruk & payung & takut & limun
& tissue & air & gurat & gulat & long sleeve & kelas & sifat & nama & kabur & kotak &
pohon & kenyal & agar & akan & hanyut & tenang & akal & khayal & jedut & sudut &
ciri & serum & kenyang & murung & babak & rusak & telur & kerak & bisnis &
nganggur & jalan & ketus & gedung & roboh & betul & pikun & bawah & tanah &
posting & pucat
Kerja itu liburan
Mau sendiri tak ada ruang
Kerja itu liburan
Mau sendiri tak ada ruang
Kerja itu liburan
Mau sendiri tak ada ruang
Kerja itu liburan
Mau sendiri tak ada ruang
Tidak enak badan tapi otak tenang
Tidak enak badan tapi otak tenang
Kerja itu liburan
Mau sendiri tak ada ruang
Kerja itu liburan
Mau sendiri tak ada ruang
Kerja Itu Liburan

Es krim & tombol & kardus & bunga & topi & teman & bulan & smartphone & iklan &
lari & taman & ASI & rumpun & batere & pistol & ngantuk & kursi & jeda & toko &
siku & tustel & kuku & jera & cucu & roda & laut & kursi & luput & obat & orang &
batuk & balon & motto & weker & jaket & ruko & jeruk & payung & takut & limun
& tissue & air & gurat & gulat & long sleeve & kelas & sifat & nama & kabur & kotak
& pohon & kenyal & agar & akan & hanyut & tenang & akal & khayal & jedut & sudut
& ciri & serum & kenyang & murung & babak & rusak & telur & kerak & bisnis &
nganggur & jalan & ketus & gedung & roboh & betul & pikun & bawah & tanah & posting & pucat

Kerja itu liburan
Mau sendiri tak ada ruang
Tidak enak badan tapi otak tenang

Lagu ini saya buat di studio setelah larut memutar CD Songs of Drella dari John Cale dan Lou Reed di perjalanan. Setengahnya lagi mungkin potekan antara Sutardji Calzoum Bachri (sulit melupakan sensasi membaca trilogi “O, Amuk, Kapak” di masa kuliah) dan keresahan metode dan hasil bekerja. Dan saya masih ingat lirik “akal & khayal” di sana terinspirasi dari buku kumpulan tulisan Buya Hamka.

 

Bila Lapar Melukis

Bila lapar melukis
Dalam sekali duduk
Selesailah karya

Bila lapar melukis
Tanganmu celemotan
Ekspresi kehidupan

Potret diri sendiri
Dari mata
Main rasa

Inspirasi datang bahkan sebelum buku biografi Affandi itu rampung dibaca. Rasanya tercampur dengan kesan yang tak pernah hilang dari mengunjungi Museum Affandi di Yogyakarta saat SMA dahulu. Langsung ambil gitar: notasi dan lirik lagu itu keluar.

 

Jatuh Cinta Diam Diam

Semenjak dekat temenan
Terbit rasa makin nyata
Seperti bunga bersayap jalan-jalan
Khayalan menembus bintang

Lidah pun membius huruf
Agar pulas tak bicara
Sekiranya grogiku reda sejenak
Sudah kubongkar rahasia

Jatuh cinta tapi aku diam-diam
Jatuh cinta La la la

Sejak menonton Koes Bersaudara menyanyikan “Di Dalam Bui” dalam film Ambisi via rental video Betamax pada saat saya sekitar kelas 3 SD, saya langsung berburu kaset Koes Bersaudara/Plus, dan ternyata belum pergi juga meninggalkannya sampai hari ini. “Jatuh Cinta Diam Diam” saya karang tanpa alat musik saat menunggu jadwal sound check di sebuah pertunjukan. Notasi itu, pasti pengaruh utamanya adalah Koes Plus yang mengendap. Lirik itu, terinspirasi dari isi WA group SMA yang membahas kasus-kasus “cinta colongan” alias pernah suka tapi tak pernah disampaikan.

Demikianlah kurang lebih isi piringan hitam album kompilasi Kiri Kanan. Saya Harlan Boer, selamat menikmati.


 

Penulis
Harlan Boer
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

5 Pertanyaan: Kiki Ucup, Festival Director Pestapora

Kami berkesempatan berbincang singkat dengan Kiki Ucup, Festival Director dari Pestapora mengenai ragam aspek sebuah festival musik.

Morgensoll Terbang ke Belgia untuk dunk!fest 2023

Selain dua titik yang sudah disebutkan di awal, Morgensoll juga sedang merencanakan titik-titik lainnya dalam lawatan mereka ke Eropa.