771

Mosi Tidak Percaya Musisi Soal RUU Permusikan

Ilustrasi @abkadakab

Draft RUU Permusikan sepertinya menelorkan bukan polemik tapi pertanyaan dan penolakan dari sejumlah musisi terhadap musik, hal dasar yang menjadi kecintaan dan sumber penghidupan mereka.

Sejak akun twitter Billboard Indonesia pertama kali mengunggah draft Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan lalu di retweet oleh khalayak ramai, seperti bola salju timbul keramaian di linimasa yang berisi soal penolakan dari sejumlah musisi terhadap Rancangan RUU Permusikan ini.

Ada banyak pasal yang dikritisi oleh musisi, diantaranya pasal 5 dan pasal 50 serta pasal 32 – 35 yang dicurigai sebagai ‘pasal karet’ dan mengekang kebebasan berpendapat.

“Pasal 5 & 50 di RUU Permusikan juga sudah bertentangan dengan pasal 28 UUD 1945 juga tuh: “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang,” kata Arian, vokalis Seringai yang keberatan dengan Draft RUU Permusikan ini di akun twitternya.

Menurut Arian, draft RUU Permusikan ini tidak perlu mengingat soal industri musik, hak cipya, perdagangan sudah diatur.

Baca juga:  Kolaborasi The Brandals x Agan Harahap
Seringai di Festival Soundrenaline 2017 / Achmad Soni Adiffa.

“RUU Permusikan buat gue gak perlu. masalah industri musik, hak cipta, perdagangan, & lainnya kan sudah ada UU-nya juga, disempurnakanlah. apalagi dalam RUU Permusikan banyak pasal2 karet yang mengekang kreativitas. di negara2 lain gak ada UU sejenis, karena memang gak perlu,” tambahnya.

Senada dengan Arian, Iwan Fals lewat akun twitternya juga turut bereaksi soal pasal 5 dan 50 yang dinilainya mengundang banyak pertanyaan.

makin tua makin bijak: Iwan Fals / dok. Evelyn Pritt (iwanfals/instagram).

“Ini maksudnya gimana ya, dgn mendorong, memuat, memprovokasi, menistakan, mendorong, membawa pengaruh negatif & merendahkan…(RUU Permusikan),” ungkap Iwan Fals.

Sementara Burgerkill dengan jelas menolak RUU Permusikan.

Selain pasal 5 dan 50, pasal 32-25 yang mengatur soal sertifikasi dan uji kompetensi musisi juga menjadi bahan pertanyaan juga tertawaan oleh sejumlah musisi. .

Baca juga:  "Chatterbox" Lokakarya Perdana Kuassa Tentang Produksi Musik

 

Baskara dan Adnan / @wordfangs (instagram).

Feast, band rock asal Jakarta ini bereaksi keras soal pasal sertifikasi ini.

Unit indierock ‏Polka Wars juga menyentil keras pasal soal sertifikasi ini dengan pernyataan-pernyataan parodi satir.

Glenn Fredly: Kami keberatan 

Tak hanya penolakan musisi di media sosial, reaksi sejenis juga diutarakan oleh musisi Glenn Fredly. Bersama rekan-rekannya di Kami Musik Indonesia (KAMI) yang tahun lalu sukses menggelar Konferensi Musik Indonesia di Ambon, ia terlibat langsung dalam pembahasan awal soal RUU Permusikan ini.

Baca juga:  Merilis Lagu Bersama di Ajang Release Day

“Intinya adalah sejak awal saat ada Wacana RUU Permusikan dari DPR ini saat KAMI diundang dengar pendapat saat itu, usulan utama adalah pembenahan Tata Kelola Industri Musik,” ungkap Glenn kepada PHI, Kamis (31/1/2019).

Foto: KAMI 2018

Dari sini, Glenn dan rekan-rekan KAMI mengundang banyak stakeholder untuk membicarakan soal wacana RUU Permusikan ini dalam pertemuan demi pertemuan. Hasilnya adalah Naskah Akademik (NA) yang telah diserahkan kepada DPR.

“Nah NA yang pernah dibuat itukan sebagai usulan, tapi semua wewenang dan usulan tetap datang dari DPR, mereka buat tim sendiri untuk menyusun NA versi mereka,” jelas Glenn.

Seperti juga dengan musisi-musisi lain, Glenn Fredly sendiri juga menolak ketika NA yang diajukan kemudian berujung kepada Draft RUU Permusikan yang mengundang banyak penolakan keras.