Musik Afro-American di Bawah Langit Sore Jakarta Selatan

535

Apa ada yang terlalu tua atau terlalu muda untuk menikmati musik Afro-American (black music)? Buah budaya Afrika-Amerika paling populer yang lahir dari kisah asimilasi tersukses umat manusia. Mungkin saja kakekmu masih menyimpan kepingan vinyl Chuck Berry yang berdebu, sedang Ibu dan Bapakmu bertemu di lantai dansa saat disjoki memutarkan lagu Barry White dan hari ini kamu kebingungan melihat adikmu yang setiap hari belajar mumble rap di kamarnya.

Secara praktis dan kasual, kita yang hidup di bawah langit dua musim memang telah lama berdampingan dengan karya-karya musik berlabel Afro-American. Soul, funk, jazz dan hip hop, misalnya.

Terinspirasi dan lalu menginspirasi. Umur panjang berbagai gaya black music di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kepiawaian para musisi Indonesia yang menggaungkannya sejak beberapa dekade lalu. Jauh sebelum Iwa Kusuma berhasil membuat cetak biru rap berbahasa Indonesia, grup-grup musik yang besar di era 70-an seperti The Rollies, Black Brothers, dan AKA juga telah menginjeksi elemen funk dalam karya-karyanya.

Black music begitu lentur. Ia bukan hanya mampu bertahan melintas zaman, tapi juga dapat dipresentasikan dalam berbagai bentuk dan format. Di televisi, mendiang Glenn Fredly kerap tampil meleburkan soul dalam sejumlah komposisi romantisnya yang begitu populer. Di panggung utama berbagai festival besar, Maliq & D’essentials juga menghasut penonton untuk berdansa kecil mengikuti groove yang jelas betul diilhami dari black music (terutama abum-album awalnya). Ingin yang lebih kental? Coba cek Jamie Aditya yang mungkin juga tampil di festival yang sama.

Jauh sebelum Iwa K membuat cetak biru rap berbahasa Indonesia, Di Era 70-an The Rollies, Black Brothers, dan AKA juga telah menginjeksi elemen funk dalam musik-musiknya

Namun yang juga menarik, adalah mereka yang memilih untuk mempresentasikan Black Music dengan cara yang lebih nge-roots. Lintas format, dari live band hingga DJ set– sederet label, kolektif, dan bentuk entitas lain lebih suka dengan cara bagaimana Black Music sejatinya dirayakan.

Salah satunya adalah Soul Menace, kolektif musik urban yang sudah lebih 20 tahun berdiri. Diinisiasi oleh DJ Cream dan P Double, dalam kurun waktu tersebut mereka sudah menggelar begitu banyak pesta musik R&B dan hip hop yang tentunya mengadopsi elemen-elemen perayan Afro-American music dari tanah kelahirannya. “Sebagian besar memang yang kita adopt dari Black culture itu adalah format DJs and R&B events di klub itu sendiri,” ungkap Kyriz Boogieman, MC untuk Soul Menace yang juga merangkap sebagai A&R dari label mereka, Soul Menace Music Group- rumah bagi Yarra Rai, Rrrend, Fang Tatis, dan Popsickle.

Tidak akan cukup jari ini untuk menghitung banyaknya kolektif dan label yang bercitra musik Afro-American di Indonesia. Selain Soul Menace, ada juga Vurplay, sindikat musisi dan audio engineer dengan spirit serupa. Lahir dari kesamaan minat terhadap gaya musik tertentu, Vurplay rupanya terlalu produktif untuk disebut sebagai tongkrongan. Di tangan mereka telah lahir karya-karya milik Kenny Gabriel, Neonomora, Abirowo (Jidho), dan masih banyak lagi.

mendiang Glenn Fredly kerap meleburkan soul dalam sejumlah komposisi romantisnya yang begitu populer.

Menariknya, dua entitas di atas baru-baru ini merilis sebuah klip live session yang menunjuk Kenny Gabriel sebagai pemeran utamanya. Berdurasi 1 jam, video ini diberi titel “Kenny Gabriel – The Playground Live Session”.

Kenny Gabriel sendiri merupakan seorang multi-instrumentalist muda yang lebih banyak dikenal lewat keberhasilannya menjuarai “The Remix Season 2” di tahun 2016, sebuah ajang kompetisi DJ yang diadakan di salah satu stasiun TV swasta. Namun sebenarnya gaya bermusik Kenny tidak bisa disimpulkan dari momentum tersebut.