Musik Afro-American di Bawah Langit Sore Jakarta Selatan

358

Apa ada yang terlalu tua atau terlalu muda untuk menikmati musik Afro-American (black music)? Buah budaya Afrika-Amerika paling populer yang lahir dari kisah asimilasi tersukses umat manusia. Mungkin saja kakekmu masih menyimpan kepingan vinyl Chuck Berry yang berdebu, sedang Ibu dan Bapakmu bertemu di lantai dansa saat disjoki memutarkan lagu Barry White dan hari ini kamu kebingungan melihat adikmu yang setiap hari belajar mumble rap di kamarnya.

Secara praktis dan kasual, kita yang hidup di bawah langit dua musim memang telah lama berdampingan dengan karya-karya musik berlabel Afro-American. Soul, funk, jazz dan hip hop, misalnya.

Terinspirasi dan lalu menginspirasi. Umur panjang berbagai gaya black music di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kepiawaian para musisi Indonesia yang menggaungkannya sejak beberapa dekade lalu. Jauh sebelum Iwa Kusuma berhasil membuat cetak biru rap berbahasa Indonesia, grup-grup musik yang besar di era 70-an seperti The Rollies, Black Brothers, dan AKA juga telah menginjeksi elemen funk dalam karya-karyanya.

Black music begitu lentur. Ia bukan hanya mampu bertahan melintas zaman, tapi juga dapat dipresentasikan dalam berbagai bentuk dan format. Di televisi, mendiang Glenn Fredly kerap tampil meleburkan soul dalam sejumlah komposisi romantisnya yang begitu populer. Di panggung utama berbagai festival besar, Maliq & D’essentials juga menghasut penonton untuk berdansa kecil mengikuti groove yang jelas betul diilhami dari black music (terutama abum-album awalnya). Ingin yang lebih kental? Coba cek Jamie Aditya yang mungkin juga tampil di festival yang sama.

Jauh sebelum Iwa K membuat cetak biru rap berbahasa Indonesia, Di Era 70-an The Rollies, Black Brothers, dan AKA juga telah menginjeksi elemen funk dalam musik-musiknya

Namun yang juga menarik, adalah mereka yang memilih untuk mempresentasikan Black Music dengan cara yang lebih nge-roots. Lintas format, dari live band hingga DJ set– sederet label, kolektif, dan bentuk entitas lain lebih suka dengan cara bagaimana Black Music sejatinya dirayakan.

Salah satunya adalah Soul Menace, kolektif musik urban yang sudah lebih 20 tahun berdiri. Diinisiasi oleh DJ Cream dan P Double, dalam kurun waktu tersebut mereka sudah menggelar begitu banyak pesta musik R&B dan hip hop yang tentunya mengadopsi elemen-elemen perayan Afro-American music dari tanah kelahirannya. “Sebagian besar memang yang kita adopt dari Black culture itu adalah format DJs and R&B events di klub itu sendiri,” ungkap Kyriz Boogieman, MC untuk Soul Menace yang juga merangkap sebagai A&R dari label mereka, Soul Menace Music Group- rumah bagi Yarra Rai, Rrrend, Fang Tatis, dan Popsickle.

Tidak akan cukup jari ini untuk menghitung banyaknya kolektif dan label yang bercitra musik Afro-American di Indonesia. Selain Soul Menace, ada juga Vurplay, sindikat musisi dan audio engineer dengan spirit serupa. Lahir dari kesamaan minat terhadap gaya musik tertentu, Vurplay rupanya terlalu produktif untuk disebut sebagai tongkrongan. Di tangan mereka telah lahir karya-karya milik Kenny Gabriel, Neonomora, Abirowo (Jidho), dan masih banyak lagi.

mendiang Glenn Fredly kerap meleburkan soul dalam sejumlah komposisi romantisnya yang begitu populer.

Menariknya, dua entitas di atas baru-baru ini merilis sebuah klip live session yang menunjuk Kenny Gabriel sebagai pemeran utamanya. Berdurasi 1 jam, video ini diberi titel “Kenny Gabriel – The Playground Live Session”.

Kenny Gabriel sendiri merupakan seorang multi-instrumentalist muda yang lebih banyak dikenal lewat keberhasilannya menjuarai “The Remix Season 2” di tahun 2016, sebuah ajang kompetisi DJ yang diadakan di salah satu stasiun TV swasta. Namun sebenarnya gaya bermusik Kenny tidak bisa disimpulkan dari momentum tersebut.

Adalah lebih tepat untuk merangkum musikalitas Kenny lewat karya-karya originalnya hari ini, seperti nomor “Ex-Cuses” yang diramaikan oleh Rizkia Laras dan Kara Chenoa. Atau mungkin sentuhannya dari bangku produser untuk banyak musisi lain seperti Teddy Adhitya, Adrian Khalif, Svmmerdose, dan lain-lain.

Soul Menace, kolektif musik urban yang sudah lebih 20 tahun berdiri. Diinisiasi oleh DJ Cream dan P Double, serta Vurplay, sindikat musisi dan audio engineer dengan spirit serupa

Memasuki usianya yang ke-25, Kenny Gabriel punya cara untuk tidak hanya memantapkan eksistensinya, tapi juga merayakan cintanya pada black music bersama teman-teman yang spiritnya sama. Tepatnya dengan membuat sebuah live session.

“Jadi suatu hari Kenny cerita pengen bikin acara kecil-kecilan buat ulang tahunnya, semacam live session gitu lah. Awalnya kita mikir cuma bakal kecil aja kayak yang ada di konten-konten media. Setelah kita list temen-temen kolaborator yang mau diajak manggung ternyata scalenya jadi membesar,” ungkap Adityar Zulhyandra, Managing Director Vurplay dan Executive Producer untuk proyek ini. “Kita akhirnya memutuskan untuk bikin session dengan konsep yang lebih proper,” tambahnya.

Menariknya, dua entitas ini merilis sebuah klip live session yang menunjuk Kenny Gabriel, diberi titel “Kenny Gabriel – The Playground Live Session”

Alasan lain terjadinya The Playground Live Session dilontarkan Kyriz Boogieman. “Anak-anak tuh emang udah pada kangen manggung,” ceritanya tegas. Ia juga menceritakan kalau belakangan Kenny Gabriel sedang aktif membuat konten The Playground Session yang berkolaborasi dengan banyak musisi. Hal itu menginspirasi Soul Menace dan Vurplay untuk memproduksinya dengan kualitas yang naik kelas.

Ada beberapa faktor yang membuat “Kenny Gabriel – The Playground Live Session” menarik. Seperti banyaknya kolaborator penyanyi, rapper, dan musisi yang terlibat seperti Teza Sumendra, Winky Wiryawan, Fang Tatis, Teddy Adhitya, Rizkia Laras, Kara Chenoa, Killapopsicle, dan masih banyak lagi. Tidak ketinggalan Doni Joesran, yang secara khusus dipanggil maju oleh Kenny di tengah pertunjukan. “Gue mau ngundang senior gue, guru besar, mas Doni Joesran. Respect!” ungkapnya.

Multi-Instrumentalist Kenny Gabriel lebih banyak dikenal Karena menjuarai “The Remix Season 2” di tahun 2016, di salah satu stasiun TV swasta

Pertunjukan mengalir begitu smooth. Baik bagi para talent yang berganti-gantian naik ke panggung dan mengestafet mic, juga untuk kita yang menontonnya dari layar. Experience menonton yang terasa intim ini tidak bisa dilepaskan dari keputusan bijak sutradara Satria Lingga dan produser Adityar Zulhyandra. Dengan teknik follow shots audiens di depan layar seolah berada di ruang yang sama. Mengingatkan kita pada dokumentasi penampilan unit f   unk asal Michigan, Vulfpeck di Madison Square Garden.

Di akhir video, langit sore yang terhalang pohon-pohon masih menyisakan ruang untuk senyum lebar Kenny yang mengisyaratkan keberhasilan. Ia juga dikelilingi senyuman-senyuman lain penanda The Playground Live Session berjalan memuaskan.

Semua terbukti, merayakan Afro-American music adalah tentang kebersamaan. Dan tidak ada yang terlalu tua atau muda untuk itu.

Video berdurasi 1 jam “Kenny Gabriel – The Playground Live Session” ini sudah bisa disimak di akun Youtube di bawah ini

 

____