675

Musik Dalam Pemilu Indonesia: Dulu dan Sekarang

Ilustrasi Rosyad A.

Lagu resmi pemilu Indonesia pertama lahir di tahun 1955, yang didapatkan melalui sayembara. Lagunya berjudul “Pemilihan Umum” hasil karya bersama Marius Ramis Dajoh (penulis lirik), Ismail Marzuki (melodi dan aransemen), dan GWR Tjok Sinsu (penggubah). Baru ketika Orde Baru berkuasa di tahun 1971, lagu resmi pemilu diperbarui. Mochtar Embut, komponis dan penulis lagu adalah pencipta lagu “Mars Pemilihan Umum”. Dan lagu ini dipakai terus-menerus selama 6 kali di masa pemerintahan Orde Baru, sehingga menjadi lagu pemilu yang paling kita akrabi hingga sekarang.

Pada tahun 1999, setelah Orde Baru berganti, lagu pemilu diganti lagu “Mars Pemilihan Umum” yang terus dipakai hingga Pemilu 2014. Di Tahun ini suasana pemilu lebih semarak terutama karena kebebasan dan keterbukaa paska era reformasi yang berhasil menumbangkan rezim Orde Baru. Hal ini nampak dengan begitu banyaknya musisi yang memeriahkan pemilu. Baik itu maju sebagai calon legislatif ataupun menyatakan dukungan secara terang-terangan ke salah satu kubu politik dan calon presiden dan wakilnya.

Baca juga:  Kritak Kritik dalam Musik, Perlukah?

Meskipun Pemilu 2014 membuka era baru musisi berpolitik dan turut memeriahkan pesta demokrasi paska Orde Baru runtuh, namun harus diakui keterlibatan artis dalam pemilu ini tidak akan terjadi bila bukan karena era Orde baru. Karena Orde Baru dengan partai Golkar adalah yang pertama kali memakai musisi/artis untuk mensosialisasikan kemunculan partai baru itu. Situs Historia.id menulis: Penggunaan jasa artis untuk kali pertama dilakukan pada Pemilu 1971, pemilu pertama di masa Orde Baru. Terutama oleh Golkar, partai penguasa. Sebagai partai baru, Golkar harus menyosialisasikan lambang beringin. Maka, mereka mengajak para artis musik untuk ikut berkampanye.

Souvernir Pemilu ’71: Kompilasi Golkar-Ku, Golkar-Mu. Sumber: Historia.id

Sebagai pemenang pemilu berturut-turut selama 5 periode, tidak heran bila kemudian banyak musisi yang merapat dan memberikan dukungannya kepada pemerintahan pada saat itu. Termasuk sang raja dangdut, Rhoma Irama yang terjun ke dunia politik di era awal orde baru. Beliau pun sempat merilis lagu berjudul “Pemilu” pada tahun 1982. Meskipun begitu Rhoma Irama sempat dicekal karena mengkritik pemerintah serta berpihak dan menjadi maskot partai Islam PPP. Terlbeih Rhoma selalu menolak diajak bergabung pada partai terbesar pada saat itu, Golkar. Meskipun pada tahun 1996, Rhoma mengejutkan para fansnya dengan bergabung dengan partai tersebut.

Baca juga:  Mei '98 Dalam Kenangan Musik Indonesia

Selain Rhoma Irama yang sempat kritis pada pemerintah Orde Baru, rocker asal gang Potlot yang terkenal nyeleneh dan selalu kritis pada isu sosial dan politik dalam lagu-lagunya merilis album Mata Hati Reformasi pada 1999. Salah satu lagunya “Siapa Yang Salah” merupakan lagu yang dicekal oleh Orde Baru di album sebelumnya, Tujuh. Sehingga lagu tersebut tidak jadi dimasukan ke album.