Musik Eksperimental Indonesia: Akankah Bermuara?

1427

Berbicara musik eksperimental di Indonesia, referensi yang mungkin dijadikan bahan acuan akan terpaku pada dua nama: Harry Roesli dan Guruh Gipsy. Tidak bisa dielakkan bahwa merekalah yang berani memulai untuk membikin sebuah karya musik dengan durasi panjang dan terbagi ke dalam beberapa sesi permainan dengan menggunakan instrumen musik berbeda dan bahkan tak lazim digunakan di lagu-lagu secara umum.

Selain itu, kedua nama ini adalah orang yang sangat berani melakukan hal yang tak lazim dilakukan musisi di era analog. Saat itu teknologi masih sangat terbatas sehingga hampir tidak mungkin kalau bisa membikin karya yang serba “wah”. Rasanya, kita harus berterimakasih kepada Harry Roesli dan Guruh Gipsy yang telah berjasa memberikan kita pengalaman baru dalam menikmati musik.

Tanggal 12 Maret kemarin, album masterpiece Harry Roesli berjudul Titik Api resmi dirilis ulang untuk pertama kali dalam bentuk piringan hitam 12 inci di bawah naungan Lamunai Records. Ini merupakan akhir dari trilogi album awal Harry Roesli (Philosophy Gang, Titik Api, dan Ken Arok) yang dirilis kembali dalam format piringan hitam oleh label yang sama pula. Trilogi album awal Harry Roesli yang rilis pada medio pertengahan era 70’an ini memang merupakan sebuah fenomena. Selain karena dirilis oleh label independen yang saat ini sudah tidak eksis lagi, ketiga album ini adalah cikal bakal dari perkembangan musik eksperimental di Indonesia yang sampai hari ini sulit (bahkan tidak bisa) ditemukan tandingannya. Tentunya, bagi para kolektor piringan hitam, sudah menjadi ‘kewajiban’ untuk memiliki album Titik Api dalam bentuk piringan hitam. Karena –mau tidak mau– ini akan kembali mengulang formula yang sama: rare and collectable items!

Sampul piringan hitam Harry Roesli Titik Hitam rilisan Lamunai records, 2020 / Foto: harryroesligang.bandcamp.com

Bagi saya, eksperimentasi yang dilakukan Harry Roesli maupun Guruh Gipsy boleh jadi lahir dan berkembang di saat yang tepat. Lahir di saat yang tepat karena saya yakin kedua nama ini paham betul apa yang seharusnya menjadi aset bangsa Indonesia, yaitu sebuah mahakarya yang terdengar sangat membawa entitas negara Indonesia: menggabungkan musik tradisional dengan musik modern. Terlepas dari sifat close-minded sebagian besar masyarakat Indonesia era 70’an yang hanya ingin termanjakan oleh lagu-lagu pop melayu, baik Harry Roesli maupun Guruh Gipsy punya cara tersendiri untuk memandang akan seperti apa masa depan Indonesia (coba dengarkan lirik Indonesia Maharddika dari Guruh Gipsy yang mencoba menggambarkan masa depan Indonesia yang cerah dan gemilang).

Harry Roesli dan Guruh Gipsy berani memulai sebuah Karya musik dengan durasi panjang dengan menggunakan instrumen musik berbeda dan bahkan tak lazim

Dan ternyata, kalimat masa depan Indonesia yang cerah dan gemilang itu nampaknya memang perlahan mulai terbukti adanya. Satu persatu bakat menakjubkan bermunculan, berkembang, dan mendapat apresiasi mengesankan. Dalam konteks musik eksperimental, mulai terlihat bibit-bibit baru yang siap untuk menggebrak Indonesia, bahkan dunia. Karenanya, hal ini berimbas kepada karya-karya seperti Harry Roesli dan Guruh Gipsy yang saat ini berkembang cukup pesat di kalangan anak muda. Banyak anak muda memuja-muja karya mereka dengan membeli rilisan fisiknya (kaset dan piringan hitam) yang semakin hari semakin susah dicari dan semakin diberi harga mahal. Meskipun di era awal perilisannya kurang mendapat sambutan yang kurang baik, tapi saya pikir karya Harry Roesli maupun Guruh Gipsy perlahan bisa survive di era industri 4.0 ini. Terutama dengan bantuan dari para anak muda kekinian (hipster).