534

Musik Pop di Indonesia dan Kontrol Negara

ilustrasi @abkadakab

Tentang Negara dan pemerintah yang represif pada budaya pop di Indonesia, khususnya musik dan fashion yang menyertainya, cerita bisa dimulai dari banyak titik waktu, tapi entah kenapa saya ingin memulainya dengan salah satu lagu Iwan Fals yang tak pernah ada versi rekaman resminya, konon lagu ini dia mainkan pada 1988 saat sebuah jumpa pers . Lagu Fals bernostalgia dengan masa lalunya yang urakan, sambil menyisipkan cap apa yang bisa diberikan Negara untuk seniman yang suka protes. Simak lagu “Kembali ke Masa Lalu” di sini

Aku paling suka cari perhatian
Segala cara aku lakukan
Tak ada beban, tak ada dosa
Tak ada yang aku risaukan
Paling-paling hanya hari depan
Dan dituduh PKI

Tapi kalau pembaca ingin memulainya dari keriuhan Pemilu, Fals punya sesuatu dari era Orde Baru, lagi-lagi tak pernah ada versi rekaman resminya. Namun dari liriknya, diketahui ini setelah Presiden Soeharto empat periode berkuasa.  Lagu “Oh, Indonesia” diakhiri dengan cuplikan musik “Cicak Cicak di Dinding”. Lirik sepanjang lagu begitu subversif, namun komedi hitam yang “hardcore” adalah saat celoteh Fals sampai di bait berikut ini:

Baca juga:  20 Tahun Kilas Balik dan Titik Balik GIGI

Orang ingin presiden ganti, tapi orang juga mau Soeharto terus
Orang sudah bosan tapi orang juga bingung cari pengganti
Lantas aku berpikir kalau Soeharto mati
Apa jadinya Republik atau Kerajaan ini?
Pasti orang berkelahi untuk cari pengganti
Lebih baik Soeharto dijadidkan mummy dan didudukkan di kursi

Silakan dengarkan lagunya di sini

 

Sedangkan saya, dengan jiwa bapak-bapaknya, merasa bergitu tersentuh dengan “Annisa”, nampaknya lagu ini membuat gentar pemilik modal rekaman musik untuk memuatnya ke dalam kaset.  Pada bait-bait awal, Fals bertutur tentang capeknya dijamu polisi melulu. Pada 1984, Iwan memang pernah berurusan intens dengan aparat di mana dia diinterogasi setiap hari selama sekitar 2 minggu, akibat membawakan lagu-lagunya semacam “Pola Sederhana”, “Demokrasi Nasi” dan “Tini”.

Baca juga:  Pangalo! Dan Katalog Funk Indonesia Yang Malu-Malu

Baik, kita beralih dulu. Kalau Iwan Fals diteruskan, bisa habis semua halaman  Kita mundur ke era Presiden Sukarno berkuasa. Saya masih ingat cerita ayah tentang bagaimana dahulu terjadi razia celana jengki (dari kata “yankee”), yaitu celana ketat yang dipopulerkan oleh The Beatles. Selain itu, celana jeans pun dilarang. Diadakanlah razia di jalan-jalan. Polisi membawa botol bir, bila leher botol gagal masuk dari bawah celana si anak muda, maka celana itu akan langsung digunting. Di masa Orde Baru, giliran rambut gondrong dilarang tampil di TVRI.

Trio Bimbo pernah menulis protes terbuka di sebuah surat kabar karena sebagai pemenang sebuah festival lagu pop, mereka tak pernah ditampilkan di layar kaca, sementara para musisi urutan di bawahnya  bisa hadir di televisi. Bimbo juga pernah tersangkut kasus pencekalan karena lirik lagu “Tante Sun” yang dipermasalahkan oleh pemerintah.

Baca juga:  Di Dalam Musik yang Sehat Terdapat Nada yang Kuat

Tante Sun, oh, Tante Sun, tante yang manis
Tiap pagi giat berolah raga
Pergi bermain golf hingga datangnya siang
Terus ke salon untuk mandi susu

Batu Zamrud berlian dan kerikil
Emas hingga besi beton bisnisnya

Cukong cukong dan tauke
Direktur dan makelar ,
Tekuk lutut karena Tante Sun

Simak lagunya di sini

1
2
Comments
Previous articleBagi Humania Semuanya Sama Saja
Next articleAsmara Beroda Milik Moustache and Beard
mm
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)