Musik Pop di Tangan Anak Muda Remaja

937

Menurut Wikipedia, W.R. Supratman menciptakan lagu “Indonesia Raya” di saat ia berusia 21 tahun pada 1924 di Bandung. Yang jelas, sejarah mencatat bahwa pada 28 Oktober 1928, di sebuah kongres pemuda, “Indonesia Raya” dimainkan secara instrumentalia olehnya dengan biola.

Itulah getaran seniman muda di eranya. W.R. Supratman tergerak untuk menggubah lagu, yang kemudian menjadi “Indonesia Raya” setelah ia membaca sebuah karangan dalam majalah Timbul yang menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan.

Jauh ke depan, cerita tentang tantangan yang dialamatkan ke anak muda, juga terjadi pada Eros Djarot, hingga kemudian tercipta album soundtrack film Badai Pasti Berlalu. Konon ini tentang Eros mengomentari sutradara Teguh Karya tentang soundtrack filmnya, dan Karya menantang Eros untuk membuktikan karyanya.  Selain itu, jangan lepaskan juga terlibatnya romansa khas anak muda. Eros sedang mabuk kepayang pada seorang gadis kala itu– faktor penting yang jadi dorongan gubahannya. Jika bukan di pundak hati anak muda, mungkin memang sulit mengemban inspirasi lagu cinta puitis semenggebu-gebu itu. Pada lirik-liriknya, kita bisa membaca didih darahnya. Masterpiece pun tercipta.

Ada lagi anak muda, barangkali saat itu belum 20, yang bukan cuma seperti tertantang, bahkan ia membuat manifesto—musik dan lirik—“Selangkah ke Seberang”.  Fariz, kemudian diusulkan oleh Chrisye untuk memakai identitas “nama beken” Fariz RM , tidak main-main dengan komposisi dan kata-katanya yang memang nyebrang jalan musik pop Indonesia umumnya pada saat itu. Fariz memang sejak kecil dekat dengan musik, dengan alat-alat band, dengan piano, namun hasrat anak muda untuk mendobrak bisa jadi kuncinya.

Masih di kisaran era yang sama, Guruh dan Keenan, keduanya saat usia awal 20an, bersama Gipsy membuat album Guruh Gipsy yang super istimewa! Nampaknya tidak perlu ada yang diceritakan lagi tentang album ini. Hasrat anak muda untuk berbeda, beridentitas, jelas terasa. Kesemuanya dieksekusi dengan sebuah proyek yang ambisius. Masa muda menang sekali lagi.

Meskipun begitu, tentunya lagu bagus, inovasi, tidak hanya bisa diciptakan oleh anak muda. Tentu banyak juga yang “tua-tua keladi” Namun sulit dipungkiri, bahwa semangat anak muda punya tenaga yang dapat muncul tak terkira.

Lalu, tentu saja Iwan Fals. Usia 13, Fals sudah mulai ngamen di Bandung, pemberontakan datang pagi-pagi. Pada album debut  Sarjana Muda, di saat umur Iwan sendiri belum mencukupi untuk gelar itu, masih 20 tahun, lagu-lagunya menebarkan protes dengan cara yang badung, namun tetap matang dan dewasa. Anak muda bahaya!

Kalau di wilayah jazz? Hey, sampai bangkotan pun umur musik jazz di Indonesia, pasti selalu disebut nama prodigy kita: Indra Lesmana. Saat bocah, Indra sudah jago. Ketika jadi anak muda, Lesmana rekaman dan hasil bunyinya rupawan.

Masih banyak lagi contoh bagaimana anak muda mendobrak dengan ragam estetikanya. Ada lagu “Dan” dari Sheila on 7, album debut mereka beredar pada 1999, di saat Eros masih 20 dan Duta di 19. Bagaimana So7 meramu lagu-lagunya, hingga bisa jadi sedemikian khasnya itu, jelas tidak bisa dilepaskan dari konteks mereka sebagai anak muda 1990an di Yogyakarta.

Di kota yang sama, tampil lagi anak muda berikutnya. Namanya Lani. Dia pemudi. Awalnya bermain di band surf rock Southern Beach Terror, hingga pada 2010, di usia 20 tahun, ia merilis debut album solonya, Starlit Carousel yang sangat mengesankan. Datanglah rasa minimalis yang menawan, dengan nama Frau.