Musisi Baru Harus Baca Ini: Dilema Memilih Manajer Band, Orang Dekat Atau Luar?

• Jun 3, 2021
Memilih manajer band

Ada sebuah adegan dalam film drama/komedi/petualangan Amerika Serikat tentang jurnalisme musik berjudul, Almost Famous (2000). Kondisinya, band yang menjadi perhatian utama dalam film ini disambangi oleh orang yang ingin menjadi manajer  band mereka. Datang dengan arogan, orang tersebut menjabarkan dengan gaya parlente beribu keuntungan yang akan didapat kalau band tersebut memilih jasanya sebagai manajer. Tak lupa, ia mendikte kekurangan yang manajer terkini mereka miliki.

Tontonan lainnya adalah dokumenter Motley Crue, The Dirt (2019). Di sana juga ditunjukan sisi profesionalitas, gaul, serta multi talenta dalam diri seorang manajer musik yang harus disegani dalam industri ini. Sangat merangsang pertanyaan: mengapa manajer dalam dua film ini diwakilkan oleh sosok yang profesional, multi talenta, dan tidak sembarangan? Sementara itu pemandangan musisi yang dimanajeri oleh teman sepermainan hingga anggota keluarga sendiri, masih dapat kita saksikan di belantika musik Indonesia. Keduanya tentu datang umumnya tanpa latar belakang pendidikan dan kerja yang mendukung jabatan tersebut.

Manajerial band adalah seputar peningkatan taraf hidup dan keadilan bagi para musisi

Tak mau terus dihantui pertanyaan ini, saya menyasar Tania Anggarda Paramita, penemu dan kepala TAP Projects, sekaligus manajer Nadin Amizah. Juga Satria Ramadhan, nama kawakan untuk urusan per-manajerial-an ini serta Ilham Fahrie, Music Director Jak Fm sekaligus bagian dari Gelombang Maju Jaya, dan Bobby Irfan, pawang dari satuan Pop Turbo kebanggan Jakarta, Hursa sekaligus rekan Ilham di Gelombang Maju Jaya.

 “Sesuai dengan titelnya, manajer ya me-manage“ Kesimpulan gamblang tersebut disebut oleh Tania Anggarda setelah sebelumnya ia menceritakan sosok mendiang Glenn Fredly dan nilai-nilai yang almarhum perjuangkan semasa hidupnya. Seputar peningkatan taraf hidup dan keadilan bagi para musisi. Dalam kasus ini, Tania Anggarda selaku kepala dari TAP Projects membawa spirit ini kedalam urusan manajerial. Bagaimana ia berharap dan berevolusi dengan menciptakan ekosistem yang akan terus menghasilkan manajer-manajer baru untuk mengurus nama-nama baru yang terus bermunculan.

Memilih manajer band

Tania Anggarda Pendiri TAP Projects dan manajer Nadin Amizah / Foto: dok pribadi

“Gue pengen orang tau, gue lagi ngerjain band, namanya Hursa. Ilham lagi bantuin artis, di situ kan sebenernya udah diluar mental manajerial, tapi human aja, passion lo, lo ceritain.” Jawab Bobby saat ditanya soal seberapa sering menyebut profesi sebagai manajer musik saat ditanya perihal lini pekerjaan yang ia geluti. “Mengatur tugasnya.” Jawaban sederhana tersebut jelas jadi kesepakatan yang sahih saat perbincangan beredar kepada apa sejatinya tugas dari seorang manajer. “Mengatur, mengumpulkan orang yang sekira mungkin dapat bekerjasama, palugada, memikirkan next akan bikin apa, campaignnya seperti apa, tergantung dari apa yang terjadi di industry sekarang ini.” Jawab Ilham menambahkan pendapat pribadinya mengenai tugas seorang manajer.

“Manajer band indie mah kerjanya serabutan!” Lepas Satria Ramadhan dengan tawa yang membuat saya ikut terkekeh. Seolah-olah mengerjakan tugas yang dikerjakan oleh satu tim besar dari major label adalah analogi yang saya celetukan dan disambut dengan anggukan setuju oleh pria yang mencicipi posisi fotografer dari Ballads Of The Cliché, merengsek naik menjadi seorang roadman, lalu menempati posisi pamungkas, memanajeri band tersebut.

“Gue kayaknya selalu jadi outsider untuk semua band yang gue manajerin. Gak ada yang keluargaan sama gue. Haha.” Melihat skala pertemanan internasional, referensi musik yang bernas, sampai pergerakannya dalam skena musik independent negeri ini, merekrut Satria Ramadhan sebagai seorang manajer jelas jadi opsi mudah yang tak perlu dipertimbangkan repot-repot.

Memilih manajer band

Satria Ramadhan “SRM management” / Foto: dok pribadi

Tania pun sama. Ia datang dengan membawa pengalaman kerja dan pendidikan yang jelas-jelas mengarah ke hal ini. Uniknya, manajer Nadin sebelumnya, adalah orang yang secara harfiah mempertaruhkan hidupnya untuk Nadin. Intan Gurnita, ibu Nadin sendiri. “Pada saat itu Nadin senang berkarya, diawalin dari cover-cover di Instagram, terus dia ada tawaran nyanyi, pada saat itu dia gak tahu industri musik seperti apa. Otomatis bundanya yang emang in-charge untuk itu. Sebenarnya yang paling terdekat aja sih sebenarnya. Ketika sekarang aku pun masuk menjadi seorang business manager-nya Nadin, bundanya tetap in-charge.” Penjelasan tersebut ia lontarkan terkait pertanyaan dibalik pemilihan ibu untuk menjadi manajer bagi awal perjalanan karir bermusik Nadin Amizah. Mengedepankan alasan bahwasanya Nadin adalah seorang family person, pemilihan tersebut jadi sangat masuk di akal. Menambahkan, ternyata masih tersisa goresan pena sang bunda di tiap tindakan yang diluncurkan oleh labelnya, Sorai.

Penulis
Hillfrom Timotius
Lulus SMA saat pandemi Covid-19 dan mengikuti Ospek di depan layar laptop. Pembaca dan penulis. Mendirikan School For Cool. Fans berat serial How I Met Your Mother, Bakmie Cong Sim, dan Nuran Wibisono. Oh ya, kalau nama saya terlalu sulit, kamu bisa memanggil saya Ipom. Salam kenal.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Resensi: Sunwich – Storage

jika anda penyuka katalog gelombang baru band indiepop vokalis perempuan, anda harus memberikan Sunwich kesempatan untuk dipasang kencang-kencang.

Mau Tau Banget?: Mentor Interview – Laleilmanino

Selamat datang di edisi perdana Mentor Interview! Sekilas mengenai Mentor Interview, kami berkeliling menemui nama-nama yang sudah tidak asing lagi di industri musik Indonesia saat ini. Nama-nama yang kami temui, mempunyai keahliannya masing-masing di …