Musisi Diskusi Santuy #ReformasiDikorupsi

97

Belum lama ini pada pertengahan Bulan September, sebuah gerakan massal dengan tagar #ReformasiDikorupsi berkumandang. Berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, buruh, tani, kelas pekerja, sampai pelajar dari pelbagai kota berbondong-bondong turun ke jalan. Mulai dari Banda Aceh, Papua, Riau, Medan, Palembang, Lampung, Bogor, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Makassar, Manado, Kendari, Palu, Tarakan, Samarinda dan tentu saja Ibu Kota Jakarta, bersama-sama meneriakkan #ReformasiDikorupsi: Mosi Tidak Percaya. 

“Musisi memang bukan ahli hukum, tetapi itu tidak lantas menjadi alasan untuk diam saja”

Pada 9 Oktober 2019 lalu, para musisi yang hadir di sebuah cafe di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan mengadakan sebuah pertemuan diskusi yang membahas tentang 3 hal penting dari gerakan massal ini, di antaranya adalah: 

  • Asap kebakaran hutan #KARHUTLA
  • Pelemahan KPK
  • DPR yang memfasilitasi produk-produk legislasi yang menyengsarakan warganya
    sendiri, sementara payung hukum yang dibutuhkan malah tidak kunjung disahkan, seperti RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). 

Mengingat kembali di awal tahun ini di mana sempat terjadi kisruh seputar RUU Permusikan. Melalui RUU ini, diduga terjadi perampasan hak-hak Musisi dalam membuat Karya. Melalui gerakan yang sangat masif dari para musisi, maka RUU Permusikan ini pun pada akhirnya batal disahkan. Melihat fenomena ini, Danto ‘Sisir Tanah’ menekankan “Musisi itu juga rakyat, jadi ketika ada RUU yang tidak berpihak pada rakyat, semua rakyat termasuk di dalamnya adalah musisi perlu mengambil sikap, misalnya dengan mendorong supaya RUU tersebut dibatalkan. Ini bukan hanya RUU Permusikan yang terkait langsung dengan profesi musisi. Musisi memang bukan ahli hukum, tetapi itu tidak lantas menjadi alasan untuk diam saja karena kita bisa belajar dari pihak-pihak yang mengkajinya sehingga kita tahu apa masalahnya dan bagaimana harus bersikap.”

Jason Ranti, akrab disapa Jeje, menyentil peserta yang hadir tentang tuntutan-tuntutan masyarakat luas soal aksi damai. “Seberapa banyak sih aksi-aksi massa selama ini yang membuahkan hasil atau memberikan dampak dan perubahan? Justru kemudian pertanyaannya adalah apakah karya-karya kami ini mampu memberikan dampak bagi gerakan?”

Iksan Skuter menekankan “Lirik dalam lagu yang dilahirkan oleh musisi seperti kami ini menjadi respon pemantik agar kita berpikir kritis dan dapat membangun solidaritas dalam gerakan, termasuk #ReformasiDikorupsi. Kita harus terus berkarya untuk membangun nalar kritis dalam situasi di mana kita menghadapi dua permasalahan besar, yakni kemiskinan dan kebodohan. Bodoh kemudian dimiskinkan dan miskin kemudian dibodohkan, siklus ini terus saja berulang.” 

Rara Sekar mempertanyakan para musisi arus utama Anti korupsi yang di saat-saat seperti ini justru tidak hadir.

Fajar Merah menyatakan “Lirik lagu bernuansa kritik yang dinyanyikan oleh musisi-musisi sebenarnya juga menjadi penyemangat bagi masyarakat untuk bergerak. Saya malah takut teman- teman musisi saya yang menyanyikan lagu kritis justru ditembak mati seperti yang dialami John Lennon.”

Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca, menggugah para musisi “Aktivisme riil yang dilakukan musisi paling terlihat di RUU Permusikan. Hal itu bisa jadi bukti bahwa musisi memiliki kekuatan untuk mendesak dan menyuarakan pendapat mereka. Beberapa musisi mulai bersuara untuk hal yang mudah mereka pahami, seperti RKUHP, tapi masih kurang. Musisi miskin imajinasi padahal seharusnya kita mau tidak mau ikut dalam proses demokrasi, dan kita harus berjuang bersama sebagai manusia. Saya setuju dengan Jeje bahwa kita punya cara masing-masing untuk berjuang tapi pada titik situasi tertentu kita harus bersama-sama turun ke jalan melakukan protes untuk mempertahankan tatanan demokrasi yang kini kita nikmati.”