Musisi-Musisi Perempuan di Bali yang Wajib Disimak

Dec 19, 2023

Membicarakan perempuan tentu tergantung di mana kita berpijak. Lain tanah lain pula kebiasaan tradisi dan budayanya. Sebagaimana Bali, misalnya. Bali memiliki pola kehidupan sendiri menyoal adat istiadat yang masih dijalankan hingga hari ini, maka Bali memiliki nafasnya sendiri. Dalam keseharian orang Bali, perempuan tidak hanya dipandang sebagai orang dapur saja. Banyak peranan yang bisa dilakukan oleh perempuan Bali sejak dulu, termasuk bertani, pengerajin, menari dan melakukan kegiatan seni lainnya.

Kemudian hari ini Bali cukup cair dalam menghadapi kecepatan keluar masuknya referensi hal baru yang berlalu lalang, Bali tidak kehilangan akar mereka dalam berkeyakinan tapi tak menutup mata juga terhadap hal yang baru. Sebenarnya ketika membicarakan perempuan dalam sudut pandang masyarakat Bali dari jauh waktu sudah memiliki kesetaraan dengan laki-laki, gender bukan masalah yang krusial dalam menjalankan adat istiadat Bali. Dari dulu sudah banyak seniman-seniman perempuan Bali yang lahir baik dari tari bahkan musik.

Tapi pada hari ini ketika membicarakan posisi perempuan itu sendiri ada hal yang kemudian bergeser dari fitrah kesetaraan yang dikenal oleh masyarakat Bali sendiri. Mungkin karena faktor di luar esensi adat istiadat yang kemudian menciptakan norma baru dalam memperlakukan perempuan, perempuan dianggap minoritas dalam melakukan hal-hal tertentu. Muncul kesepakatan-kesepakatan baru soal kerja laki-laki dan kerja perempuan, entah dari mana aturan itu datang masyarakat umum hari ini menyepakati itu.

Kemudian faktor dukungan keluarga menjadi penting untuk mendukung kerja-kerja proses kreatif seniman perempuan termasuk musisi perempuan yang ada di Bali. Ketika saya temui dan melakukan wawancara singkat dengan musisi perempuan muda yang ada di Bali, rata-rata memang mereka mengalami keresahan yang sama ketika menjadi musisi perempuan, seperti situasi crowd, adanya pelecehan dan lain-lain. Tapi tentu saja mereka mendapat dukungan dari lingkungan sekitar termasuk keluarga untuk mengambil jalan menjadi musisi, yang kemudian harus dibantu pula oleh dukungan teman-teman band mereka untuk saling support dan memberikan porsi yang pas.

Ada banyak musisi perempuan di Bali, dengan berbagai macam bentukan genre musik yang mereka mainkan. Dengan scene dan ruang yang berbeda-beda, namun cukup memberikan warna yang beragam untuk menghiasi kancah musik di Bali. Selain musisi perempuan, sebenarnya ada juga peranan lain perempuan dalam kancah musik Bali yaitu di bidang photographer, Dewi Andriani adalah seorang pengabadi momen manggung beberapa band lokal di Bali. Dan Dewi Andriani juga sempat menerbitkan Photo Documentary Zine berjudul “Alerta!”, yang mengcapture scene, band dan moshpit di Bali, beberapa kota di Pulau Jawa, Sumatera, Malaysia bahkan hingga Singapura.

Tapi saya juga akan tetap merangkum beberapa musisi perempuan di Bali yang menghiasi beragam scene dan ruang proses kreatif bermusik di Bali. Mungkin hanya sedikit dan saya tidak mengetahui cukup banyak musisi perempuan di Bali, tapi jika semisal teman-teman pembaca mengetahui musisi perempuan di Bali di luar yang saya rangkum, itu artinya perempuan juga berhak untuk mengekpresikan dirinya sedemikian seperti yang dia inginkan.


Nadya Narita

Vokalis dari band Milledenials ini lahir dan besar di Bali. Bermusik sejak duduk di bangku SMP kemudian sempat vakum ketika sudah lulus. Sebelum bertemu dengan Milledenials, Nadya juga sempat memiliki band hanya saja band untuk mengikuti audisi-audisi, kemudian Nadya bertemu dengan teman-teman Milledenials yang kebetulan membutuhkan vokalis perempuan. Mungkin agar karakteristik band agar menjadi lebih unik ketika vokalisnya perempuan. Nadya memiliki karakteristik suara yang tinggi. Saya sendiri kagum ketika Nadya menyanyikan salah satu single Milledenials berjudul “Kenneth” dalam EP 5 Stage of Doomed Romance.

Dengan tempo punk rock dan vokal yang menghentak disertai dengan musik yang mengawang-ngawang karena latar belakang band mereka bergenre Emogaze, memberikan kesan yang kompelks. Antara marah, sedih dan tidak ingin tau apa yang ingin terjadi ke depan, seolah pasrah.

Sama seperti musisi perempuan kebanyakan, Nadya juga memiliki keresahan menyoal keamanan crowd dalam gigs, Nadya mengungkapkan masih belum berani semisal melakukan stage dive karena maraknya kasus pelecehan seksual dalam gigs.

 

Assia Keva

Penyanyi dan penulis lagu Pop/R&B Soul berusia 19 tahun Assia Keva berasal dari Bali, Indonesia. Assia Keva pertama kali mulai mencari dan mengeksplorasi musik dan artis yang berbeda pada usia 16 tahun untuk menemukan minat artistiknya sendiri, yang akhirnya membawanya memasuki genre R&B/Soul, yang membuatnya sangat tertarik.

Menyusul perilisan single resmi Assia Keva—”Goodbye”, “Only You”, “Cool Me Down”, dan “There’s Nothing Else” — yang telah menerima tanggapan luar biasa dari jumlah penontonnya yang terus bertambah. Proyek terbesar Assia Keva saat ini adalah EP debutnya “2004” yang diberi nama untuk menghormati tahun kelahirannya, yang telah dia kerjakan dengan penuh semangat sejak usia 17 tahun. “2004” bukan hanya sebuah EP; ini adalah ekspresi artistik yang mendalam, permadani cerita, dan jembatan antar generasi.

 

Marisa

Marisa atau yang lebih akrab dipanggil Risa adalah vokalis dari band Leave, bergenre Hardcore/Punk. Risa lahir di Bogor, meski bukan asli orang Bali, Risa berdomisili di Denpasar, Bali. Risa sendiri juga memiliki projek solo Harsh Noise bernama Madharupa.

Dalam praktik artistiknya bermusik sejak tahun 2018 Risa sudah melahirkan karya bersama teman-temannya di Leave yaitu sebuah EP berjudul “Show Time”. Bagi Risa sendiri EP “Show Time” juga memiliki isu keresahannya pribadi dan teman-teman personil Leave lainnya, karena membahas soal pelecehan seksual yang sering terjadi di ruang publik dan juga isu kekerasan lain yang masih kerap terjadi di dalam gigs. Leave baru saja mengumumkan kalau EP pertama mereka bertajuk Show Time telah hadir. Dirilis per 4 November 2023 kemarin via digital dan bisa disimak di laman Bandcamp leavehc.bandcamp.com dan juga di platform digital lainnya. Show Time menghadirkan lima track yang straight tanpa basa-basi. Di sini, mereka bertujuan untuk mengajak dan mengingatkan diri mereka sendiri dan juga pendengar untuk tetap peduli terhadap satu sama lain.

 

Amelia

Pemudi asal Gianyar, Bali ini tumbuh kembang sedari kecil di Bali dan kedekatan keluarganya terhadap seni kemudian menurun kepadanya. Amelia tergabung dalam sebuah band Dream Pop/Shoegaze bernama Concise sebagai bassis., meski posisi bassist tetap saja peranan dirinya dalam praktik artistik sebuah band harus diperhitungkan.

Bagi Amelia, karena keluarganya sendiri juga berkesenian akhirnya bermusik bukan menjadi sebuah larangan untuk dilakukan olehnya. Hanya saja tetap, bagi Amelia keresahan selalu ada meski sereceh ketakukan di jalan pulang karena terlalu malam usai mengisi sebuah gigs. Tentu saja dalam peranan ini perlu banyak support dari berbagai lini dan tidak hanya keluarga dalam menjaga kelangsung karir bermusiknya. Concise sendiri beranggotakan 4 orang, yaitu; Mang Artha pada gitar dan vocal, Wahyu pada gitar, Yudisthira pada drum dan tentunya Amelia pada bass.

Dalam beberapa waktu mendatang ketika saya jumpai Amelia untuk hanya sekedar mengobrol santai, Concise sendiri akan merilis sebuah EP. Entah judulnya apa dan berisi berapa track di dalamnya, sangat patut dinantikan karya mereka selanjutnya.

 

Pingkan Tumbelaka

Pingkan, adalah salah satu vokalis band shoegaze asal Bali bernama Dive Collate. Terbentuk pada awal tahun 2018, Dive Collate adalah Pingkan Tumbelaka (main vocal, guitar rhythm), Putu Dedy Pradiska (lead guitar), dan Andreas Dimas (drum). Dengan kehadiran Pingkan sebagai vokalis perempuan dalam Dive Collate ini memberi gambaran vokal yang cukup menarik, vokal yang cenderung mengawang lalu ditambah dengan musikalitas yang terkesan noise, cukup mengantarkan kita menuju ruang-ruang hayal yang begitu dingin.

 

Gung Nanda


Gung Nanda adalah vokalis dari sebuah band dream pop bernama Somethink asal kota kecil di Bali bagian utara, yaitu Singaraja. Lagu-lagu mereka yang begitu catchy dan mudah didengar membuat beberapa pelaku musik di ibu kota Bali sering membicarakannya. Saya sebagai orang yang berasal dari domisili yang sama dengan Somethink juga mengakui bahwa warna musiknya cukup memberi ragam lain dalam ruang kreatif bermusik di kota Singaraja, Bali.

Band Somethink sendiri beranggotakan 4 orang, yaitu; Sahadewa pada gitar, Nakula pada drum, Oka pada synths/backing vokal dan Gung Nanda pada gitar dan vocal. Karya-karya mereka sudah cukup banyak ada 1 EP dan 3 Single, bisa dilihat dan didengarkan dalam diskografi platform digital musik mereka di Spotify.

Lyta Lautner

Lyta adalah vokalis dari band asal Bali, yaitu Soulfood band trio Soul/R&B beranggotakan Bam Goerge (gitar), Lyta Lautner (vocal) dan Palel Atmoko (drum) ini adalah salah satu band yang sangat menjanjikan juga asal kota Denpasar.

Dengan suara vocal Lyta yang ala raggae dan kadang terkesan rap, ditambah dengan sentuhan musik mereka yang catchy menjadikan Lyta dan bandnya cukup memiliki karakter di kancah musik di Bali. Ya, memang tidak banyak yang mempercayai band ini berasal dari Bali. Mereka berada di bawah naungan Pohon Tua Creatorium.

 

Jessica

Jessica adalah perempuan kelahiran Doha, Qatar. Meski dia adalah perempuan asli Indonesia, namun masa kecilnya banyak menghabiskan di tempat kelahirannya, kemudian pindah ke Bali sekitar dua tahun lalu. Jessica tergabung sebagai vokalis dan gitar dalam band Sourmilk bersama teman-teman lainnya Faiz pada gitar, Yudi Septyan pada bass dan Noriz Kiki pada drum. Sourmilk sendiri adalah band rock alternatife/indie pop, asal Denpasar, Bali.

Meskipun merupakan band yang relatif baru, Sourmilk telah membuat gebrakan di kancah musik lokal, berkat suara mereka yang mentah dan kadang-kadang lucu yang meminjam dari kegelisahan rock alternatif tahun 90an. Bagi Jessica, awalnya dia mengira bermusik hanya untuk bersenang-senang kemudian seiring berjalannya waktu, ternyata teman-teman dan keluarganya menikmati musiknya bersama Sourmilk, yang terus mendorongnya untuk merilis lebih banyak lagu. Dan mulai saat itu mereka mengambil segala sesuatunya dengan lebih serius dan mencoba membangun nama kami di pulau ini (Bali).

 

Aik Krisnayanti

Aik Krisnayanti atau dikenal juga dengan Mbak Soul, adalah perempuan kelahiran asal Denpasar. Menggeluti dunia musik sedari duduk di bangku SMP, awalnya mengikuti ekstra mekidung (Sinden Bali) di sekolahnya lalu kemudian mulai serius bernyanyi pada tahun 2012. Aik juga memiliki beberapa project, di antaranya; projek solo bernama Aik Krisnayanti, projek band alternative pop bernama Soul And Kith dan projek band grindcore bernama Nialisis.

Ketika saya melakukan wawancara singkat dengannya lewat pesan singkat untuk menanyakan bagaimana perjalanan karir bermusiknya sebagai perempuan. Begini jawabnya, “Proses/perjalanan karir di musik tentunya ada naik turunnya. Sebelum jauh serius “bernyanyi” pernah ada satu momen (+/- tahun 2006/2007) yang membuat mentalku drop dan takut bernyanyi. Sebuah kalimat “kamu tidak layak menjadi seorang penyanyi” yang terlontar langsung dari seorang guru vocal yang membuatku takut untuk menyentuh mic lagi. Lalu 2012 oleh sahabatku Gus Wira, ia meyakinkanku untuk mulai bernyanyi lagi. Hingga akhirnya konsisten di bernyanyi dan bermusik sampai saat ini. Dan aku rasa aku mendapat perlakuan yang seimbang tanpa memperdulikan gender baik itu perempuan atau laki-laki.” Dari sini kita bisa melihat bagaimana sebenarnya lingkungan sekitar adalah faktor utama dalam pembentukan karakter seseorang untuk melatih dan mengasah kemampuannya.

 

Yuniorika

Musisi perempuan satu ini mengawali karirnya lewat komunitas teater di sekolahnya pada tahun 2007, lalu kemudian setahun kemudian pada tahun 2008 Yuniorika tergabung sebagai vokalis ke dalam band Emo asal Bali bernama Ice Cream Attack, band yang cukup berjaya di masanya ini cukup mengantarkan Yuniorika dan teman-teman bandnya menjadi band yang cukup populer di masa itu. Tapi perjalanan Rika sebagai vokalis Ice Cream Attack usai pada tahun 2012. Lalu kemudian Yuniorika tetap bernyanyi dari cafe ke cafe, hingga pada tahun 2015 Rika kembali membentuk projek duo bernama Drome. Drome sendiri berisikan emosional-emosional dan perasaan pribadi Yuniorika sendiri. Sekarang Yuniorika masih dalam lintasan praktik artistik musik, hanya saja menggunakan artistik yang berbeda. Kali ini dia bisa dikatakan menjadi selekta atau dj. Tapi ke depannya ketika saya temui dan mengobrol sebentar, dia akan merampungkan satu projek kolaborasi yang akan dirampungkan pada tahun 2024 mendatang.

 

Komunitas Nayakanari

Merupakan sebuah perkumpulan untuk memajukan kesenian khususnya dalam seni karawitan Bali di Kota Denpasar.  Anggota komunitas ini terdiri dari para kaum wanita remaja yang memiliki kemampuan dalam bermain gamelan Bali. Komunitas ini terbentuk pada tahun 2016 tepatnya pada saat mewakili Gong Kebyar Wanita Duta Kota Denpasar yang diketuai oleh Ni Komang Tika Apsari Wijaya.

Seringnya komunitas ini mengisi acara baik dalam upacara agama maupun even-even kesenian lainnya, maka ketua komunitas ini tergugah untuk membuat suatu nama panggung yaitu Black Kobra. Nama Black Kobra terinspirasi dari ular kobra yang terdapat di leher Dewa Siwa sebagai simbol Dewa Kesenian. Selain itu Black Kobra juga digambarkan seekor hewan yang tenang namun mematikan. Hal tersebut sesuai dengan karakter yang dimiliki oleh Komunitas Nayakanari yaitu lembut namun tajam saat performance. Tujuan Komunitas Nayakanari dibentuk untuk melestarikan seni dan budaya yang terdapat khususnya di Kotra Denpasar. Selain itu, komunitas ini juga ingin menunjukkan bahwa kaum wanita mampu bersaing dengan para kaum laki-laki dalam bidang kesenian khususnya seni karawitan Bali.

__

Dari sekian deretan musisi perempuan di atas saya yakin adalah sebuah upaya untuk menyeimbangkan kenyataan bahwa sesungguhnya perempuan juga punya hak ruang yang sama seperti laki-laki. Saya berharap semakin banyaknya ada musisi-musisi perempuan di berbagai tempat, tak hanya di Bali tapi di seluruh Indonesia. Selama masih ada isu perempuan yang dibicarakan selama itu juga usaha untuk memberikan ruang yang setara untuk perempuan.

 

Ilustrasi oleh Agung Abdul Basith.


 

Penulis
Agus Noval Rivaldi
Agus Noval Rivaldi (Aguk), adalah penulis/pengangguran yang suka menulis musik, teater dan budaya dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di Tatkala.co, Sudutkantin.com, Jurnalmusikmagz.medium.com dan beberapa zine yang diterbitkan oleh kolektif lokal Bali.
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
anonymous
anonymous
6 months ago

Mantap, sering sering share musik Bali atau coba bahas SID kayanya bolehhh

Eksplor konten lain Pophariini

Afgan Merilis Karya yang Paling Personal Berjudul Sonder

Selang empat bulan dari perilisan single “Shallow Water”, Afgan akhirnya melepas album berbahasa Inggris kedua berjudul Sonder tanggal 21 Juni lalu sesuai yang direncanakan. Album mini tersebut menampilkan total 5 lagu dengan trek fokus …

Gagasan Perayaan Risky Summerbee & The Honeythief di Single Carnivalesque

Berjarak 2 bulan dari perilisan “Perennial”, Risky Summerbee & The Honeythief kembali lagi membawa yang terbaru dalam tajuk “Carnivalesque” hari Jumat (14/06).   Rizky Sasono yang menuliskan lirik lagu ini dengan mengangkat tema perayaan …