758

Nasionalisme Seorang Pelaut Handal Bernama Rich Brian

Ilustrasi @abkadakab

Brian Imanuel, dikenal dengan nama Rich Brian, kini telah menjadi seorang ‘pelaut’ handal. Album terbarunya, The Sailor, kian meroketkan namanya. Bukan lagi sebagai meme era “Dat $tick”, atau sosok sentimental seperti di “History”. Brian sekarang berdiri tegak di Times Square, merepresentasikan budaya Asia sejalan dengan visi labelnya, 88rising, dan tentunya membanggakan kampung halamannya, Indonesia.

Negara ini memang selalu sumringah ketika ada “putra anak bangsa” yang berhasil mengukir prestasi internasional. Ada rasa nasionalisme yang kembali mekar, harapan yang tumbuh merekah. Rasa-rasanya, momen ini patut dirayakan di tengah masa peringatan Hari Kemerdekaan yang masih terasa.

Namun kisah Brian tidaklah seperti Laskar Pelangi. Lain daripada itu, ia adalah seorang internet-geek sejak umur 10 tahun. Brian ‘terlatih’ menghabiskan berjam-jam harinya menyelami dunia maya, membuat konten-konten shitposting di media sosial, belajar kosakata slang Bahasa Inggris lewat channel Rubrick’s Cube, hingga menemukan ketertarikan terhadap hip-hop dari lagu “Thrift Shop” milik Macklemore. Keseharian tersebut didukung oleh keputusan orang tuanya yang mendaftarkan Brian dalam homeschooling, sehingga waktunya banyak dilewatkan di rumah.

Baca juga:  Jejak Rock ‘n Roll Indonesia Dalam 2 Dekade Terakhir

Barangkali latar belakang itulah yang mendasari lirik-lirik ‘nyeleneh’ seperti “I don’t give a f*ck about a mothaf*ckin’ po. I’ma pull up with dat stick and hit yo’ mothaf*ckin’ do” pada “Dat $tick”. Frontal sekaligus menggelitik, politis sekaligus humoris. Barangkali Brian tidak berupaya menyuarakan pemberontakan, seperti semangat kulit hitam yang menjadi pelatuk terciptanya budaya hip-hop. Tetapi publik tetap terkejut melihat penampakan anak muda berkaus polo pink dengan tas pinggang, menuang minuman keras di tengah jalan aspal bersama teman-temannya. Tidak terkecuali rapper-rapper ternama seperti 21 Savage, Desiigner, hingga Ghostface.

Brian tidak menempuh jalur “konvensional”, seperti atlet olahraga atau kompetisi akademik untuk “mengharumkan nama bangsa”

Fenomena ini, pada akhirnya sampai juga ke telinga seorang pemuda bernama Sean Miyashiro, CEO dari 88rising.

Baca juga:  PHI Kaleidospop: Cuplikan Promosi Band Indonesia 2018

I thought his Twitter was genius, from the future, just crazy. And like, just the sh*t he was saying, like the memes he was making. But I didn’t know he rap or anything like that. I really didn’t, and he came up with Dat $tick like two weeks later,” kenang Sean dalam sebuah wawancara di media Bloomberg.

Kerjasama Brian dan 88rising membuahkan sederet singel, proyek kolaborasi, hingga album debut bertajuk Amen. Berkat album tersebut, Brian sempat mencicipi berada di puncak tangga lagu hip-hop iTunes. Semuanya direngkuh ketika usia Brian belum mencapai 18 tahun.

Tetapi Amen adalah masa di mana Brian masih senang berceloteh tentang tema-tema yang acak. Terasa jelas identitasnya sedang dibentuk. Baru di album keduanya, The Sailor, Brian mulai berani mengangkat tema sosial-kultural yang sangat dekat dengan budaya Asia, terutama negara asalnya, Indonesia. Tidak hanya dari segi tema, Brian juga bereksplorasi dengan memasukkan unsur-unsur boom-bap klasik yang dikemas secara modern, sentuhan emo-rap, bahkan psychedelic rock.

Baca juga:  PHI Kaleidospop: Potret Jurnalisme Musik di 2018

***

Seaneh apapun kita mendengar kisah seorang Brian Imanuel, ia adalah epitome generasi masa kini yang dibesarkan oleh internet. Dengan jarinya sendiri, ia mempelajari dan menginternalisasi pola pikir orang Amerika, lebih dari sekadar fasih berbahasa Inggris. Meski begitu, bukan berarti ia tidak mengalami culture shock ketika pertama kali datang ke Negari Paman Sam.

“It was when I first came to a Trader Joe’s and every single white person looked at me. That was like ‘oh, sh*t. I’m in a completely different country right now’,” tutur Brian dalam sebuah wawancara bersama Sean Evans.