Para Pahlawan Gitar yang Terabaikan dan Ditinggalkan

Sep 27, 2018

Pada 2007, David Fricke, editor senior Rolling Stone, menulis artikel berjudul “The New Guitar Gods”. Banyak harapan bertebaran di sekujur tubuh tulisan itu. Para dewa gitar baru ini, tulis Fricke, adalah pewaris Hendrix, Clapton, Allman, juga Page. Yang disebut juga memang punya skill yang membuat mereka layak disembah bagai dewa. Mulai John Frusciante, John Mayer, hingga Derek Trucks.

Dari tulisan Fricke, rasanya rock n roll dan industri gitar masih akan punya napas panjang.

Hitung maju satu dasawarsa kemudian, The Washington Post menulis berkebalikan dengan nada optimisme Fricke. Dalam artikel berjudul “The Death of Electric Guitar” itu, Geoff Edgers bilang bahwa gitar listrik ada di titik nadir. Dengan sub-judul bikin ngilu, “the slow, secret death of the six-string electric. And why you should care”, Edgers menunjukkan bagaimana Fender dan Gibson, dua perusahaan gitar listrik terbesar dunia, mulai sesak napas karena penjualan gitar yang terus merosot.

Setahun setelah artikel itu terbit, Gibson, perusahaan yang gitarnya dipakai oleh Page, Angus Young, Slash, dan ratusan ribu gitaris lain, menyatakan diri bangkrut. Utang mereka mencapai 100 juta dolar, dan bisa melonjak hingga 500 juta dolar.

Guitar heroes, pahlawan gitar, adalah orang yang menginspirasi orang lain untuk ikut main gitar. Persona mereka melampaui tataran teknis.

Salah satu narasumber Edgers adalah George Gruhn, penjual gitar yang punya klien seperti Eric Clapton, Paul McCartney, dan Neil Young. Menurutnya, apa yang sekarang terjadi di industri gitar listrik ini menarik. Makin banyak perusahaan gitar yang bermunculan, namun tak banyak lagi yang mengandalkan gitar listrik sebagai alat musik utama. Gruhn menyebut, bisnis gitar listrik sudah tak lagi sustainable, tak berkesinambungan.

“Yang kita butuhkan sekarang itu adalah guitar heroes,” kata Gruhn.

Perkataan Gruhn ini memantik perdebatan di banyak tempat. Tentu saja dunia tak pernah kekurangan stok gitaris hebat. Mulai yang melodius, berjari ultra cepat, soulful, atau yang punya pengikut banyak di Instagram atau Youtube bermodalkan lagu cover. Tapi, menurut saya, definisi guitar heroes tak pernah sesempit di tataran teknis.

1
2
3
Penulis
Nuran Wibisono
Nuran Wibisono adalah penulis buku musik "Nice Boys Don't Write Rock N Roll” yang diterbitkan oleh EA Books tahun 2017 lalu. Berbagai tulisannya mudah ditemukan di dunia maya, karena pengalamannya menulis di berbagai media on-line. Kini ia bekerja sebagai editor di Tirto.id.

Eksplor konten lain Pophariini

Menggemparkan! Ini 8 Line Up Terbaru Soundrenaline 2022

Festival musik terbesar di Tanah Air, Soundrenaline 2022 baru saja mengumumkan lagi delapan line up terbarunya

Earhouse Songwriting Club Bernyanyi Bersama di “Karya-Karya”

Earhouse Songwriting Club akan merayakan hadirnya mini album ini di gelaran Synchronize Festival, tepatnya pada hari terakhir penyelenggaraan (09/10).