Penyeimbang Itu Bernama Erwin Prasetya

4093
Erwin Prasetya / Ilustrasi: @abkadakab

Kabar lelayu seperti belum berhenti menyapa kancah industri musik Indonesia di tahun ini. Erwin Prasetya, bassist yang membesarkan Dewa 19 meninggal dunia pada Sabtu (2/5) akibat perdarahan lambung.

Lahir di Surabaya, 29 Januari 48 tahun silam, Erwin adalah founding fathers Dewa 19 bersama Andra Ramadhan, Wawan Juniarso, dan tentu saja si maskot: Ahmad Dhani.

Saat dibentuk pertama pada tahun 1986, anak-anak SMP Negeri 6 Surabaya itu menjadikan Down Beat sebagai nama band, meminjam nama  dari majalah khusus musik jazz asal Amerika Serikat. Ketika Ari Lasso masuk, nama kemudian berubah menjadi Dewa 19, mengambil dari penggalan nama depan masing-masing personel.

Dewa 19 selalu dianggap sebagai manifesto dari dua sosok: Dhani dan Andra. Anggapan ini boleh jadi karena selain pengaruhnya yang dominan, praktis tinggal dua orang inilah personel yang masih berjalan beriringan.

Bahkan di proyek-proyek sempalan seperti Ahmad Band juga OST. Kuldesak (sebagai Ahmad Dhani & Andra Ramadhan). Jika Andra dianggap sebagai penerjemah kemauan-kemauan si Master Mister, maka sosok Erwin adalah penyeimbang dari ego-ego besar Dhani.

Erwin Prasetya
Suasana pemakaman Alm. Erwin Prasetya / dok. @wa2n_juniarso (instagram)

Pengaruh kuat dari Jaco Pastorius (anak pertama Erwin bernama Jaco Ahmad Prasetya) menjadikan Erwin peniup corak jazz dan fusion yang kuat ala Casiopea dan Uzeb dalam dominasi rock saat-saat Dewa19 mulai mentas.

Album pertama Dewa 19 diikuti Format Masa Depan mungkin hanya jadi album biasa tanpa kontribusi kuat Erwin. Tanpa mengecilkan personel selain Dhani, jejak Erwin di “Dewa dan Si Mata Uang” serta “Still I’m Sure We’ll Love Again” menjadikan Dewa 19 bisa berdiri tegak antara dominasi kutub Slank dan KLa Project yang saat itu sedang sukses membetot perhatian publik.

Erwin membangun sebuah pondasi untuk menopang kegilaan aransemen rajutan Dhani

Dewa 19 mengimbangi Slank dengan rock yang lebih punya taste “manis”. Sementara kadar sophisticated dalam aransemen pop KLa, dituturkan dengan lebih bersahaja oleh Dhani dan rekan-rekan sejawatnya. Mereka ada di tengah.

Sampul album Dewa 19 Terbaik Terbaik

Album Terbaik Terbaik dan Pandawa Lima yang berurutan perilisannya adalah pencapaian artistik dari Dewa 19. Dan Erwin memberi pengaruh yang lebih signifikan. Di Terbaik Terbaik, album yang menurut Ari Lasso dibuat dalam keadaan hampir semua personil termasuk session player-nya teler, Erwin memberikan pernyataan personal yang kuat di “Cukup Siti Nurbaya”.

Erwin membangun sebuah pondasi untuk menopang kegilaan aransemen rajutan Dhani. Permainan bass-nya yang melodius meliuk-liuk dengan mulus dan elegan. Bagian interlude adalah bagaimana Erwin menjadi sosok hangat yang menaungi keliaran permainan Andra.  Sama seperti yang dilakukan dalam “Restoe Boemi”, Erwin menjadi sosok kawan santun yang tahu diri dan memberi alas nan nyaman bagi Dhani.

Sampul album Dewa 19 Pandawa Lima

Pandawa Lima menjadi puncak sumbangsih Erwin. Album rilisan tahun 1997 ini dibuka dan ditutup dengan hits single yang kesemuanya berhutang besar pada kontribusi Erwin: “Kirana” dan ‘Kamulah Satu-Satunya”.  Keduanya diaransemen oleh Erwin dengan lirik ditulis Dhani. Kehadiran “Kirana” adalah sebuah anomali saat muncul pertama kali di tahun 1997. Bagaimana lagu gloomy, dingin, dan ganjil itu justru kencang menguasai airplay program musik di televisi dan chart radio.

Album pertama Dewa 19 diikuti Format Masa Depan mungkin hanya jadi album biasa tanpa kontribusi kuat Erwin.

Sedangkan “Kamulah Satu-Satunya” seperti memberi sasmita akan perubahan aransemen Dewa 19 di album berikutnya yang lebih ngerock. Pengaruh Gin Blossoms terlihat cukup dominan. Erwin juga punya andil besar dalam “Sebelum Kau Terlelap”. Erwin eperti menemukan jodoh yang tepat sebagai penjaga tempo dalam diri Aksan.