Perjalanan Menemukan Band Rock 60an Indonesia

Oct 18, 2022

Musik telah menjadi bagian dari hidup saya, terutama musik rock. Berawal dari mengenal The Beatles oleh orang tua, saya ingat betul dengan salah satu tembangnya yaitu “Twist and Shout”. Menurut saya, lagu ini mempunyai soul tersendiri. Ketika mendengarkannya, tanpa disadari, saya menggerakkan kepala seperti John Lennon dan Paul McCartney ketika bernyanyi. Di situ, saya mulai menyukai musik seperti itu, rock 60s.

Sebelumnya, kancah musik rock telah mendapatkan panggungnya sendiri pada era 50. Ditandai dengan Elvis Presley yang membuat dunia mengenal musik rock hingga dijuluki king of rock n roll. Namun, Elvis hanya berkembang pesat di pasar Amerika Serikat saja. Ia tidak sempat melakukan tur dunia yang jauh dari negaranya. Konser terjauhnya saja, hanya di Canada.

Elvis memainkan musik blues yang dipercepat sebagai cikal bakal musik rock. Saat itu, musik rock juga masih cukup sederhana dan belum memakai distorsi. Aksi panggungnya yang liar, cambang yang lebat, rambut jambul seperti Alex Turner jika diibaratkan pada masa sekarang, menjadi ciri khas darinya. Rock n roll berutang banyak dengan Elvis Presley yang membuat genre ini lebih dikenal.

Namun, dari semua lagu yang ia mainkan, tidak ada satu pun yang ia tulis sendiri. Jika Elvis berkarir pada masa sekarang, mungkin bisa disandingkan seperti Felix Irwan Ha Ha.

Menurut saya, julukan king of rock and roll lebih pantas disematkan kepada Chuck Berry. Musisi ternama saja memberikan opininya terkait mengapa julukan tersebut lebih pantas diberikan kepada Chuck Berry. Personel The Beatles, John Lennon mengatakan jika rock and roll memiliki nama lain, beri nama Chuck Berry. Selain itu, menurut Bob Dylan, Chuck Berry adalah seorang Shakespeare rock and roll.

Tidak hanya itu, The Rolling Stones juga menaruh hormat kepadanya yang telah memberikan inspirasi pada mereka. Pertemuan Keith Richards dengan Mick Jagger yang sedang membawa vinyl Chuck Berry memberikan berkah. Peristiwa tersebut sebagai cikal bakal The Rolling Stones karena keduanya menyukai genre yang sama. Saya merasa jika Chuck Berry lebih pantas sebagai pencipta rock and roll. Namun, pada masa itu rasisme masih terjadi dalan industri musik, sehingga didominasi oleh musisi kulit putih.

Setelah masa Perang Dunia, industri musik berkembang pesat. Ketika masa perang, kebanyakan orang tidak sempat bermain musik. Mungkin hanya segelintir orang dan hanya dapat dinikmati sesaat. Untuk menikmati saja susah, apalagi memikirkan bagaimana industri musik berkembang. Mereka disibukkan dengan latihan militer atau bertahan hidup dari kejamnya perang. Setelah Perang Dunia II, situasi kembali aman dengan tidak mewajibkan lagi remaja untuk latihan militer. Era baru telah dimulai.

Perkembangan musik begitu cepat. Eksistensi Elvis Presley dan Chuck Berry menjadi alasan bagi musisi di era baru untuk berkarir. Dimulai dari The Beatles yang namanya diagungkan di berbagai belahan dunia. Mereka mengatakan bahwa musik mereka banyak dipengaruhi oleh tersebut. Band yang berasal dari Liverpool mencetak sejarah baru dengan keberhasilannya menggebrak industri musik Amerika yang dikenal British Invasion. Hal itu merupakan masa ketika musik rock berjaya kala itu. Kiblat industri musik berada di Amerika Serikat, karena segalanya lebih modern, sehingga jika ingin dikenal dunia, maka harus sukses di sana terlebih dahulu.

Kemunculan The Beatles dianggap telah membuka jalan bagi musisi Inggris untuk berkarir di Amerika Serikat. Revolusi musik telah terjadi, ditambah permainan musik menjadi lebih kompleks. Musisi lain yang berasal dari Inggris mulai mengikuti jalannya, seperti The Rolling Stones atau The Kinks. Pada 1960-an, hampir seluruh band menggunakan nama depan “the”, seperti The Who, The Animals, The Yardbirds, dan masih banyak lagi. Entah, apa alasannya.

Adanya British Invasion, membuat Inggris dan Amerika Serikat berdampingan memajukan industri musik, meskipun terdapat perbedaan kultur di antara keduanya. Perbedaan tersebut dapat dilihat menurut analisis abal-abal saya yaitu jika kebanyakan musisi Inggris memiliki pendidikan tinggi atau menamatkan pendidikannya, seperti Brian May. Mereka bermain musik sembari memfokuskan diri untuk segera lulus. Jika karir cukup menjanjikan, barulah mereka mulai melakukan hobi dengan serius.

Sudah cukup dengan perkenalan rock 60s. Saatnya, membahas apa yang terjadi dengan fenomenal hidupnya kembali rock 60s di Indonesia. Dahulu, Indonesia memiliki band yang bergenre rock 60s dan memiliki kemiripan dengan The Beatles. Namun, sedikit modifikasi dengan penggunaan lirik bahasa Indonesia. Siapa lagi kalo bukan, Koes Plus. Modifikasi tersebut dilakukan karena adanya pelarangan memainkan musik barat yang menggunakan bahasa Inggris dan berpenampilan ala Barat. Di balik pembatasan tersebut, negara kita yang baru seumur jagung bermaksud untuk memajukan musik nasional.

Akhir-akhir ini, saya kembali sering mendengarkan rock 60s. Terlintas dalam benak, kapan ya Indonesia memiliki band dengan tone rock 60s kembali?

Membawa semangat 60s seperti The Beatles atau The Rolling Stones. Bisa dikatakan, saya sedang jatuh cinta dengan tone gitar reverb dan sedikit distorsi. Saya pernah iseng mencari band lokal sambil berharap menemukan rock 60s. Saat itu, pencarian dibantu oleh platform dengan logo wifi berwarna hijau.

Dalam playlist yang disajikan, ada yang menarik perhatian dari namanya, tertuju pada nama Indische Party. Terdengar keren dan vintage. Nama ini sangat menarik perhatian karena merupakan plesetan dari partai politik pertama di Indonesia. Partai yang dimakusd adalah Indische Partij. Jujur saja, konsep ini keren bung! Menggabungkan unsur sejarah dalam permusikan.

By the way, saya adalah seseorang yang menyukai sejarah. Band ini juga memiliki logo ayam jago dengan microphone. Hal ini mengingatkan orang pada logo mangkuk ayam. Sekali melihat, pasti akan terkenang terus. Hal ini yang saya lihat dalam penggambaran logo Indische Party menjadikan mereka lebih ikonik. Mungkin mereka juga ingin seperti The Rolling Stones yang meninggalkan warisan dengan logonya.

“I Wanna Dance” menjadi lagu pertama yang saya dengarkan. Harmonika di bagian awal membuat saya ketagihan mendengarkannya. Racun sekali. Sangat jarang, terdapat band seperti ini di Indonesia. Dengan rasa penasaran, saya mengulik Indische Party dengan mendengarkan album pertamanya berjudul Self Titled. Saya akui, ini merupakan nama yang keren. Biasanya menggunakan nama band untuk album pertama dan itulah yang disebut dengan self titled.

Mendengar album ini, rasanya seperti mendengarkan The Doors. Alunan keyboard cukup mendapatkan perhatian lebih di album ini, terutama lagu “No More”. Permainan harmonika di beberapa lagu menambahkan kesan elegan. Hal lainnya yang menarik perhatian yaitu dalam lagu “Waiting For You”, terdapat part ketika vokalis seperti berdialog, mirip seperti Mick Jagger berdialog dalam “If You Need Me”.

Sebagai album pertama, Indische Party berhasil membawakan jiwa zaman rock 60s. Sebuah fondasi yang bagus.

Album kedua lahir pada 2016 setelah tiga tahun penantian yang panjang. Album ini semakin kental dengan rock 60s, ditambah dengan sound seperti The Rolling Stones era Brian Jones. Album kedua dapat terlihat inovasi yang disajikan, seperti permainan surf rock pada lagu “Serigala”. Artikulasinya british tidak jelas pada “Terkapar Sudah”, tetapi justru menjadi nilai plus. Jika dinyayikan seperti itu, saya yakin orang pasti akan mencari liriknya.

Japs Shadiq, sang vokalis memiliki aura bintang, dilihat dari performance panggung, hingga ia disebut sebagai Mick Jagger Indonesia. Ada yang mengatakan sayang tidak original karena sangat mirip dengan seseorang. Menurut saya, setiap pelaku seni pasti melakukan sesuatu berdasakan pengaruh, sudah tidak ada yang original, semua bersifat repetitif atau pengulangan.

Album Analog bisa dikatakan sangat sukses dibanding sebelumnya karena mampu menaikkan nama Indische Party. Tembang “Ingin Dekatmu” menjadi lagu andalan. Jika diteliti pada album ini, terdapat satu lagu yang memiliki kemiripan dengan album 12 x 5 milik The Rolling Stones. Lagu tersebut adalah “Time is on My Side” dengan “Have You Ever Cried” milik Indische Party. Kemiripan ini terdapat di awal bagian lagu, nada yang dimainkan sangat mirip. Namun, untungnya hanya mirip pada part tersebut, jadi tidak bisa dikatakan plagiat, karena terdapat beberapa part yang berbeda. Hal ini merupakan bukti nyata jika band ini memiliki kiblat The Rolling Stones.

Pada album Analog, dua lagu terakhir yang disajikan rasanya berbeda yaitu “Atlantis 2015” dan “Paula Abdul”. Dirasa penggarapannya kurang serius, hanya menebak saja ya. Dengan satu lagu instrumental dan lagu bukan stereo, entah bagaimana konsep yang ditawarkan, Terkesan seperti ingin cepat rilis atau memang sudah buntu. Setelah itu, Indische Party juga merilis beberapa single seperti The “Highest Stars”, “Duka Akhir Kemarau”, dan “Tell Me What You to Do”. Menurut saya, album selanjutnya akan lebih pecah karena terdapat ramuan baru dalam musiknya. Karakternya sangat kuat dan easy listening bagi saya.

Tidak hanya Indische Party, saya juga menemukan Fleur!. Sebuah band yang beranggotakan tiga wanita dengan semangat menghidupkan kembali rock 60s. Band yang terbentuk karena sebuah momen yaitu dipertemukan untuk mengisi tribute to Dara Puspita, seorang legenda musik rock Indonesia.

Pada awalnya, mereka menamai grup dengan nama Flower Girls. Seiringnya waktu, berevolusi menjadi Fleur! sebagai trio rock n roll. Pada masa sekarang, sangat jarang band beranggotakan wanita semua. Saya hanya mengetahui Fleur! The Dare, dan Voice of Baceprot. Kebanyakan, band beranggotakan wanita yang menjadi vokalis. Sebut saja Grrrl Gang.

Belum lama ini, Fleur! meluncurkan albumnya dan mengadakan showcase di dua kota, yaitu Jakarta dan Bandung. Penggarapan album diketahui selama tiga tahun. Wow, membutuhkan waktu yang sangat lama. Namun, hasilnya jelas memuaskan. Strategi mereka dalam merilis album, yaitu dengan merilis single terlebih dahulu agar mendapatkan pendengar terlebih dahulu. Selain itu, kerap menjadi langganan official playlist. Band ini memang mempunyai soul tersendiri, khususnya gebukan drum dan bassnya yang danceable atau bergoyang tipis khas era 60. Hal itu yang membuat band ini menjadi hidup.

Satu lagi, saya ditemukan dengan Erratic Moody, sebuah band berasal dari Jatinangor. Kebetulan, saya pernah menontonnya secara langsung pada acara kampus. Saat itu, saya hanya melihat sekilas saja. Namun, ketika memainkan lagu “Necis”, wah calon bintang sih ini! Band yang berasal dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran ini cukup menarik perhatian, karena menyajikan permainan bass “berjalan”. Menurut saya, hal itu yang membuat band ini menjadi berbeda dan hidup. Jika mereka konsisten, saya rasa tidak akan lama lagi akan mendapat kesempatan untuk manggung di Synchronize.

Begitulah perjalanan saya menemukan band rock Indonesia masa kini yang mengusung semangat era 60.


 

Penulis: Ariz Rahman

“Seseorang yang menyukai hal klasik, karena dirasa mempunyai nilai tersendiri. Mirip seperti Wine, semakin lama, akan semakin nikmat. Menurut saya, semua hal yang ada di dunia merupakan pengulangan, sudah tidak ada yang original. Oleh karena itu, saya lebih menyukai musik jaman dahulu, terutama musik rock. Dimulai dari mengenal The Beatles hingga Kadavar. Saya senang mengulik lagu untuk menjadi referensi bermain musik.”

Temui Ariz di @arizrahman_.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Foreseen Rilis Album Perdana, Suspended Reality

Foreseen juga menampilkan dua kolaborator untuk mengisi beberapa bagian lagu, mereka adalah Gabriela Fernandez dan Endro Trilaksono.

Akhiri Masa Vakum, Sheila Anandara Rilis Single Terbaru

Terakhir merilis single “Kereta” dua tahun silam, kini Sheila Anandara kembali dengan tembang berjudul “Menunda Luka” yang dilepasnya hari ini (27/01).