129

Perjuangan Caleg Serupa Musisi Independen

Ilustrasi @abkadakab

Sayup-sayup suara pengajian ibu-ibu membangunkan saya dari pulasnya tidur. Saya tidak lagi heran apalagi terganggu karena bersyukur dengan posisi masjid yang persis di hadapan rumah saya.

Alunan dari koor pengajian ibu-ibu sudah terasa tak asing di telinga saya. Beruntung mereka tidak punya kebiasaan untuk teriak-teriak Takbir, jadi apa yang dikumandangkan mereka terasa lebih nyaman di telinga saya saat didengarkan.

Namun Sabtu pagi, awal Februari lalu itu tak biasa. Bukan karena perhelatan maulid dan suara pengajian, tapi istri saya dengan terburu-buru meminta saya mandi dan ikut turun ke ruang tamu. “Cepat mandi, ada caleg (calon legislatif) di bawah mau kampanye di acara maulid. Minta mama matikan pengeras suara di masjid,” ujarnya. Setengah linglung, saya pun beranjak dan bergegas mandi.

Segera saya temui dia di ruang tamu. Suasana memang ramai karena rumah saya saat itu jadi basecamp untuk panitia yang menggelar acara maulid majlis taklim At-Taqwa. Perkenalan pun terjadi, baru saya ketahui tamu caleg tersebut bernama Rendhika D Harsono dari fraksi PPP, anggota Komisi B DPRP DKI yang akan maju menjajal pertarungan kursi DPR dengan wilayah pemilihan Jakarta Selatan.

“Jika Anda mau silaturahmi dan syiar di depan ibu-ibu silahkan, tapi tetap dengan pengaras suara, agar tidak ada prasangka dari tetangga. Sepanjang sejarah masjid ini belum pernah dijadikan tempat kampanye,” kata saya meladeni permintaan Rendhika yang ingin “bersilaturahmi” dengan ibu-ibu namun tanpa pengeras suara.

Suasana pun sedikit berubah jadi kurang rileks. Maklum, antara tengsin atau malah jadi salting lantaran rencana kampanyenya saya bendung dengan halus. Beruntung ada satu orang tua yang berhasil mencairkan suasana. Kami pun lanjut berbincang seputar pekerjaan dan dinamika perpolitikan. Tak sungkan pula, Rendhika meluncurkan curahatannya seputar strategi promo caleg yang kalah pamor dengan pilpres.

Baca juga:  Musik Dalam Pemilu Indonesia: Dulu dan Sekarang

“Kami (caleg) mau tidak mau harus turun menemui calon pemilih di wilayah pemilihan. Media masa dan media sosial sudah tidak berarti lagi karena perhatian netizen tergiring seputar pemilihan presiden. Informasi caleg jadi kalah seksi dengan seputar capres (calon presiden),” ungkapnya.

Segera saya buktikan lewat mesin pencarian internet degan kata kunci “Caleg 2019”. Hampir semua pemberitaan hanya memuat informasi umum saja. Tidak ada referensi yang komprehensif, kisah-kisah dan sepak terjang dari para individu yang telah masuk daftar bakal anggota legislatif juga tidak spesifik adanya. Kalaupun ada, pemberitaannya masih didominasi kasus-kasus korupsi. Sementara yang dibutuhkan adalah rujukan profil dengan prestasi.

Walaupun riwayat dan informasi dirilis di beberapa situs. Tapi itu rasanya terlalu formal untuk dapat berkenalan dengan baik sembari meyakinkan diri untuk memilih siapa yang pantas melaju ke parlemen dan dianggap paling mewakili rakyat.

“Bagi kami (para caleg) berkampanye di tengah-tengah periode kampanye capres sangat memerlukan energi lebih. Satu sisi soal popularitas pemilihan yang nyatanya semua perhatian tertuju pada capres, di sisi lain masyarakat juga tidak bisa fokus mencari calon wakil rakyat mereka yang sesuai dengan standar kualitas mereka karena lagi-lagi disibukkan menganalisa siapa presiden yang akan dipilih,” lanjut Rendhika.

Dengan kondisi seperti ini, banyak yang memutuskan untuk menjadi tidak peduli dan memilih untuk golput lantaran beralasan tidak kenal dengan caleg di daerahnya. Tak perlu jauh-jauh ke daerah, tanyalah sendiri teman sekampus atau sekantormu, apakah mereka sudah tahu caleg siapa yang akan di pilih?

Baca juga:  10 Album Terbaik Indonesia Versi Pop Hari Ini

Sampai akhirnya saya menemukan satu kanal temanrakyat.id yang menyita perhatian saya. Setidaknya ada satu rujukan untuk mengenal caleg diantara banyaknya meme dan hoax yang betebaran seputar politik.

Dalam kanal tersebut beragam konten positif dimuat untuk memanjakan para pemilih pemula agar memanfaatkan hak pilihnya. Salah satu konten yang menarik adalah #UnboxingCaleg. Konten tersebut berhasil menyajikan caleg dengan gaya review produk ala selebgram dan YouTuber. Ada pemaparan, kritikan, pujian, dan juga rekomendasi.

Ruang Publikasi dan Popularitas
Boleh dibilang, perang popularitas hampir membutakan mata hati untuk merobek etika berkampanye jika terlalu berambisi. Rendhika hanyalah secuil kisah dari banyaknya soal etika berkampanye yang – mau tidak mau – dilanggar demi menuai popularitas. Tak sedikit ruang-ruang ibadah dan ruang-ruang privasi yang sudah ditunggangi misi publikasi program kerja mereka.

Perkara publikasi dan popularitas menarik minat saya untuk menelisik perjuangan caleg yang serupa musisi independen. Mari kita uraikan.

Pertama, saat musim perilisan album tiba, di tengah puluhan Press Release yang masuk dari musisi arus pinggir dan utama, redaktur selalu meminta untuk mengutamakan mereka yang berasal dari arus utama. Alasannya sederhana, pembaca awam lebih mengenal musik arus utama. Sama halnya lebih mudah mengenal calon presiden ketimbang calon legislatif.

Kedua, Ihwal ikhtiar independen sepertinya sudah tertanam bagi para musisi independen dan caleg. Langkah publikasi mereka selalu jadi lebih masif ketika bergerak sendiri memaksimalkan banyak saluran engagement. Mulai dari aktivasi visual di media sosial hingga persekutuan gig di sana-sini.

Baca juga:  Kampungan Versus Gedongan: Bagaimana Selera Musik Kelas Menengah di Indonesia Terbentuk?

Sayangnya untuk hal ini banyak caleg kerap gagap. Tak jarang dari mereka menyajikan konten promosi persona yang minim estetika. Apalagi ditambah dengan banyak janji-janji sampai over promising, satu prinsip yang hukumnya wajib dihindari dalam pembuatan tools promo / publikasi. Sementara musisi independen selalu membuat publikasi dengan nilai estetika yang tinggi, tanpa janji-janji tapi pasti menyajikan kenikmatan dengan lagu-lagu yang dibawakan.

Ketiga, bagi caleg dan musisi independen menganggap media bukan lagi menjadi satu-satunya saluran pemberitaan. Mereka mencari alternatif saluran lain untuk publikasi. Sepak terjang mereka justru lebih tajam, tak sedikit pula yang tepat sasaran karena berhasil “tersentuh” secara langsung. Tak jarang musisi independen justru menguasai tren musik dalam mesin pencarian Google. Sayangnya hal ini belum terasa efektif dilakukan para caleg.

Keempat, skala dan cakupan pasar mereka pun terbilang serupa, populer pada wilayah tertentu saja. Bahkan mereka secara sadar hanya menjadi serpihan dari sebuah kancah di industri masing-masing.

Semur daging, sayur asam, sambal, dan ikan asin menjadi penutup yang gurih nan sedap untuk menyudahi diskusi siang itu. Baik saya, Rendhika, dan beberapa orang yang terlibat – termasuk istri saya – saat itu sepakat; memang seharusnya para caleg sadar panggung (ruang publikasi dan popularitas), memilih ruang yang tepat di mana sosok dan program unggalan mereka harus dipopulerkan.

 

____