184

Perjuangan Caleg Serupa Musisi Independen

Ilustrasi @abkadakab

Sayup-sayup suara pengajian ibu-ibu membangunkan saya dari pulasnya tidur. Saya tidak lagi heran apalagi terganggu karena bersyukur dengan posisi masjid yang persis di hadapan rumah saya.

Alunan dari koor pengajian ibu-ibu sudah terasa tak asing di telinga saya. Beruntung mereka tidak punya kebiasaan untuk teriak-teriak Takbir, jadi apa yang dikumandangkan mereka terasa lebih nyaman di telinga saya saat didengarkan.

Namun Sabtu pagi, awal Februari lalu itu tak biasa. Bukan karena perhelatan maulid dan suara pengajian, tapi istri saya dengan terburu-buru meminta saya mandi dan ikut turun ke ruang tamu. “Cepat mandi, ada caleg (calon legislatif) di bawah mau kampanye di acara maulid. Minta mama matikan pengeras suara di masjid,” ujarnya. Setengah linglung, saya pun beranjak dan bergegas mandi.

Segera saya temui dia di ruang tamu. Suasana memang ramai karena rumah saya saat itu jadi basecamp untuk panitia yang menggelar acara maulid majlis taklim At-Taqwa. Perkenalan pun terjadi, baru saya ketahui tamu caleg tersebut bernama Rendhika D Harsono dari fraksi PPP, anggota Komisi B DPRP DKI yang akan maju menjajal pertarungan kursi DPR dengan wilayah pemilihan Jakarta Selatan.

Baca juga:  Lebih Dekat dengan Dekat Lewat Numbers

“Jika Anda mau silaturahmi dan syiar di depan ibu-ibu silahkan, tapi tetap dengan pengaras suara, agar tidak ada prasangka dari tetangga. Sepanjang sejarah masjid ini belum pernah dijadikan tempat kampanye,” kata saya meladeni permintaan Rendhika yang ingin “bersilaturahmi” dengan ibu-ibu namun tanpa pengeras suara.

Suasana pun sedikit berubah jadi kurang rileks. Maklum, antara tengsin atau malah jadi salting lantaran rencana kampanyenya saya bendung dengan halus. Beruntung ada satu orang tua yang berhasil mencairkan suasana. Kami pun lanjut berbincang seputar pekerjaan dan dinamika perpolitikan. Tak sungkan pula, Rendhika meluncurkan curahatannya seputar strategi promo caleg yang kalah pamor dengan pilpres.

“Kami (caleg) mau tidak mau harus turun menemui calon pemilih di wilayah pemilihan. Media masa dan media sosial sudah tidak berarti lagi karena perhatian netizen tergiring seputar pemilihan presiden. Informasi caleg jadi kalah seksi dengan seputar capres (calon presiden),” ungkapnya.

Baca juga:  Keseriusan Eksplorasi Noise: Terima Kasih Stevi Item

Segera saya buktikan lewat mesin pencarian internet degan kata kunci “Caleg 2019”. Hampir semua pemberitaan hanya memuat informasi umum saja. Tidak ada referensi yang komprehensif, kisah-kisah dan sepak terjang dari para individu yang telah masuk daftar bakal anggota legislatif juga tidak spesifik adanya. Kalaupun ada, pemberitaannya masih didominasi kasus-kasus korupsi. Sementara yang dibutuhkan adalah rujukan profil dengan prestasi.

Walaupun riwayat dan informasi dirilis di beberapa situs. Tapi itu rasanya terlalu formal untuk dapat berkenalan dengan baik sembari meyakinkan diri untuk memilih siapa yang pantas melaju ke parlemen dan dianggap paling mewakili rakyat.

“Bagi kami (para caleg) berkampanye di tengah-tengah periode kampanye capres sangat memerlukan energi lebih. Satu sisi soal popularitas pemilihan yang nyatanya semua perhatian tertuju pada capres, di sisi lain masyarakat juga tidak bisa fokus mencari calon wakil rakyat mereka yang sesuai dengan standar kualitas mereka karena lagi-lagi disibukkan menganalisa siapa presiden yang akan dipilih,” lanjut Rendhika.

Baca juga:  Rumahsakit Album Nol Derajat: Manuver Suhu Tahun 2000

Dengan kondisi seperti ini, banyak yang memutuskan untuk menjadi tidak peduli dan memilih untuk golput lantaran beralasan tidak kenal dengan caleg di daerahnya. Tak perlu jauh-jauh ke daerah, tanyalah sendiri teman sekampus atau sekantormu, apakah mereka sudah tahu caleg siapa yang akan di pilih?