Perjuangan Caleg Serupa Musisi Independen

231

Sampai akhirnya saya menemukan satu kanal temanrakyat.id yang menyita perhatian saya. Setidaknya ada satu rujukan untuk mengenal caleg diantara banyaknya meme dan hoax yang betebaran seputar politik.

Dalam kanal tersebut beragam konten positif dimuat untuk memanjakan para pemilih pemula agar memanfaatkan hak pilihnya. Salah satu konten yang menarik adalah #UnboxingCaleg. Konten tersebut berhasil menyajikan caleg dengan gaya review produk ala selebgram dan YouTuber. Ada pemaparan, kritikan, pujian, dan juga rekomendasi.

Ruang Publikasi dan Popularitas
Boleh dibilang, perang popularitas hampir membutakan mata hati untuk merobek etika berkampanye jika terlalu berambisi. Rendhika hanyalah secuil kisah dari banyaknya soal etika berkampanye yang – mau tidak mau – dilanggar demi menuai popularitas. Tak sedikit ruang-ruang ibadah dan ruang-ruang privasi yang sudah ditunggangi misi publikasi program kerja mereka.

Perkara publikasi dan popularitas menarik minat saya untuk menelisik perjuangan caleg yang serupa musisi independen. Mari kita uraikan.

Pertama, saat musim perilisan album tiba, di tengah puluhan Press Release yang masuk dari musisi arus pinggir dan utama, redaktur selalu meminta untuk mengutamakan mereka yang berasal dari arus utama. Alasannya sederhana, pembaca awam lebih mengenal musik arus utama. Sama halnya lebih mudah mengenal calon presiden ketimbang calon legislatif.

Kedua, Ihwal ikhtiar independen sepertinya sudah tertanam bagi para musisi independen dan caleg. Langkah publikasi mereka selalu jadi lebih masif ketika bergerak sendiri memaksimalkan banyak saluran engagement. Mulai dari aktivasi visual di media sosial hingga persekutuan gig di sana-sini.

Sayangnya untuk hal ini banyak caleg kerap gagap. Tak jarang dari mereka menyajikan konten promosi persona yang minim estetika. Apalagi ditambah dengan banyak janji-janji sampai over promising, satu prinsip yang hukumnya wajib dihindari dalam pembuatan tools promo / publikasi. Sementara musisi independen selalu membuat publikasi dengan nilai estetika yang tinggi, tanpa janji-janji tapi pasti menyajikan kenikmatan dengan lagu-lagu yang dibawakan.

Ketiga, bagi caleg dan musisi independen menganggap media bukan lagi menjadi satu-satunya saluran pemberitaan. Mereka mencari alternatif saluran lain untuk publikasi. Sepak terjang mereka justru lebih tajam, tak sedikit pula yang tepat sasaran karena berhasil “tersentuh” secara langsung. Tak jarang musisi independen justru menguasai tren musik dalam mesin pencarian Google. Sayangnya hal ini belum terasa efektif dilakukan para caleg.

Keempat, skala dan cakupan pasar mereka pun terbilang serupa, populer pada wilayah tertentu saja. Bahkan mereka secara sadar hanya menjadi serpihan dari sebuah kancah di industri masing-masing.

Semur daging, sayur asam, sambal, dan ikan asin menjadi penutup yang gurih nan sedap untuk menyudahi diskusi siang itu. Baik saya, Rendhika, dan beberapa orang yang terlibat – termasuk istri saya – saat itu sepakat; memang seharusnya para caleg sadar panggung (ruang publikasi dan popularitas), memilih ruang yang tepat di mana sosok dan program unggalan mereka harus dipopulerkan.

 

____