Perpisahan hara yang Layak Dikenang

Apr 4, 2023

Rara Sekar yang hadir dengan nama panggung hara resmi mengembangkan layar untuk beranjak ke luar dan meninggalkan musik sementara dengan menggelar acara bertajuk Konser Kenduri: Layar Terkembang hari Sabtu (01/04) di Ruas Bambu Nusa, Yogyakarta.

Acara hadir dengan konsep kembali ke alam yang dihadiri penggemar dan kerabat Rara, orang-orang yang telah mendukung perjalanan bermusiknya selama ini. Tiket masuk yang dijual terbatas membuat suasana menjadi intim dan khidmat. 

Menariknya, konser berlangsung cukup pagi. Sekitar pukul 09:00 WIB calon penonton sudah memenuhi area amphitheater Ruas Bambu Nusa demi menyaksikan aksi perpisahan Rara.

Tak lama kemudian, sontak terdengar riuh tepuk tangan penonton yang mengiringi Rara beserta kuintet strings naik ke atas panggung. 

“Sebelumnya, aku mau klarifikasi. hara tuh gak bubar. Karena aku kan terkenal suka ngebubarin hal-hal ya [tertawa]. Aku kebetulan mau ada residensi bulan ini di Amerika. Udah gitu aku ikut suami aku yang akan sekolah. Jadi, aku akan jadi ibu rumah tangga,” kata Rara mengenakan pakaian etnik serba putih tentang keputusannya.

Rara memulai aksi dengan memainkan “Tembang Tandur”, nomor pertama dalam album mini Kenduri. Usai membawakan lagu di babak Berserah, Rara mengungkapkan, ia akan membawakan semua lagu dari Kenduri secara berurutan.

Rara tampil bersama kuintet strings dengan pencahayaan natural / Dok. Gerald Manuel

Usai dari babak pertama, Rara masuk ke babak yang kedua Melepaskan dengan membawakan lagu di luar album Kenduri, yaitu soundtrack film Dua Garis Biru berjudul “Growing Up”.

Dalam babak kali ini, Rara turut mengundang Lafa Pratomo untuk berkolaborasi membawakan “Seroja”. Hal ini tak asing, mengingat Lafa adalah produser untuk single lepasan hara yang rilis tahun 2022 tersebut.

Lagu “Seroja” dibawakan langsung bersama sang produser, Lafa Pratomo / Dok. Gerald Manuel

Lanjut ke babak yang ketiga Keberpihakan Politis, Rara membawakan lagu dari grup lamanya, Banda Neira berjudul “Tini dan Yanti”. Rara bercerita, bahwa lagu ditulis olehnya setelah mewawancarai salah satu tahanan politik 1965 yang diasingkan di Pulau Buru, Kepulauan Maluku.

Babak ini ditutup dengan kolaborasi bersama Leilani Hermiasih atau yang dikenal sebagai Frau dengan membawakan lagu “Kabut Putih”. Lucunya, anak dari Lani bernama Aru merengek untuk ikut ke atas panggung bersama sang Ibu. Alhasil, Rara mendapatkan kolaborator tambahan yang tak ia rencanakan di hari itu.

Aru, anak dari Lani (Frau) enggan lepas dari ibunya dan ikut ke atas panggung / Dok. Gerald Manuel

Pemilihan judul untuk babak yang selanjutnya adalah Perpisahan. Judul keempat yang dirasa sangat pas. Pasalnya, babak ini menciptakan banyak momen emosional yang dilakukan Rara maupun para kolaborator.

Perpisahan diawali dengan medley dua lagu baru yang belum resmi dirilis. Dua lagu itu berjudul “Sebuah Lagu Untuk Teman” dan “Layar Terkembang” yang dibawakan Rara bersama Febrian Mohammad atau yang dikenal dengan proyek solonya, Layur.

Hampir tiba di penghujung konser, Rara mengundang sang ibu, Luana Marpanda ke panggung. Ia sempat mengungkapkan, bahwa ini menjadi momen kembalinya sang ibu ke panggung setelah sekian lama. Kolaborasi ibu dan anak ini membawakan lagu cover “Kokoro o Komete” milik musisi Jepang Aoi Teshima.

“Ibuku nih dulu indie banget. Bisa main gitar, primadona Tegal. Bener-bener keren banget sih,” canda Rara saat memperkenalkan ibunya kepada penonton.

Penampilan Rara ditutup dengan “Ati Bolong”, single pertama hara di tahun 2020. Saat membawakan lagu ini, Rara tampil sendirian untuk memainkan synthesizer yang bunyi liuknya beradu dengan suara serangga di hutan bambu tersebut.

Usai membawakan “Ati Bolong”, penonton yang tampak belum puas berseru meminta Rara untuk membawakan satu lagu lagi. Permintaan langsung ia wujudkan.

Tidak tanggung-tanggung, Rara mengundang ibunya yang sudah kembali ke bangku penonton dan satu lagi, adiknya Isyana Sarasvati yang sejak awal menyaksikan penampilan kakaknya, untuk naik ke atas panggung.

Kolaborasi apik dari keluarga ini membawakan lagu berjudul “Edeleweiss” yang dipopulerkan oleh Richard Rodgers dalam film The Sound of Music. Lagu ini diakui Rara dan Isyana sebagai lagu kenangan dari masa kecil mereka.

Tampil sederhana, Rara beserta ibu dan adiknya bawakan lagu masa kecil / Dok. Gerald Manuel

Penampilan sederhana dengan vokal tanpa mikrofon yang diiringi petikan gitar nilon diakhiri dengan pelukan erat ibu dan anak, yang sekaligus mengakhiri penampilan musik Rara siang itu.

Usai dari menyaksikan pertunjukan musik, para penggemar bisa mengikuti beragam kegiatan seperti pembacaan tarot, pijat kilat, dan workshop kesenian. Lalu, ada juga Pasar Kaget Kenduri yang menjual banyak sekali barang mulai dari buku, kerajinan tangan, artprint, dan pastinya merchandise resmi hara.

Pengunjung dapat membeli berbagai barang dari lapak yang ada di Pasar Kaget Kenduri / Dok. Gerald Manuel

Satu kegiatan yang tak kalah unik dalam Konser Kenduri: Layar Terkembang, yaitu Tur Jalan Kaki. Para pengunjung didampingi Rara berjalan kaki dan mendapat edukasi dari penduduk setempat tentang desa yang menjadi lokasi acara ini. Perjalanan pun berakhir di Kawasan Studi dan Konservasi Burung Hantu Dusun Cancangan.

Rombongan Tur Jalan Kaki mengitari desa sekitar tempat acara / Dok. Gerald Manuel

Pertunjukan musik Konser Kenduri: Layar Terkembang benar-benar layak dijadikan kisah manis dari panggung terakhir hara. Konsep yang matang, sound yang mumpuni, kegiatan beragam, dan suasana yang hangat dan kasual adalah hal yang membuat acara ini dikenang untuk waktu yang lama. Setidaknya sampai Rara kembali lagi bermusik nanti.


 

Penulis
Gerald Manuel
Hobi musik, hobi nulis, tapi tetap melankolis.

Eksplor konten lain Pophariini

Daftar Penyanyi Latar Musisi Indonesia

Sebuah lagu yang terdengar harmonis tak lepas dari sumbangsih warna vokal yang dihasilkan oleh penyanyi latar. Peran mereka kadang tak kasatmata atau mungkin dianggap lalu. Kenyataannya, penyanyi latar tidak bisa dianggap remeh. Jika menilik …

5 Alasan MALIQ & D’Essentials Enggak Bubar

Menyambut perilisan album baru MALIQ & D’Essentials, Can Machines Fall In Love? tanggal 30 Mei 2024, kami menemui mereka di sela-sela waktu latihan hari Selasa (21/05) di studio Mad Haus.   View this post …