Pertunjukan Berhati, Terima Kasih Sal Priadi

Aug 9, 2023

Penyanyi, penulis lagu, aktor, atau saya menyebutnya sosok ini memang ‘laen’ dari musisi kebanyakan. Ia sukses menggelar pertunjukan dengan sebutan Memomemoria, dan informasi yang paling jelas adalah ini Perayaan Album Pertama Sal Priadi akhir pekan lalu. 

Sebelum perayaan tiba, saya yang sama sekali tidak pernah memerhatikan akun Instagram yang dibuat untuk menjadi pusat informasi @pertunjukanberhati, mencari keterikatan apa yang sudah saya saksikan dengan video-video petunjuk yang diunggah akun.

Tidak ingin membahas keterkaitan semua hal yang sudah disaksikan. Singkat cerita, akun yang memiliki pengurus bernama M menampilkan visual-visual beserta teks yang memberi sinyal tentang Pertunjukan Berhati. 

Saya penasaran tentang awal mula akun dengan menuruti jemari untuk sampai di unggahan pertama akun, bulan Mei 2023. Terdapat 6 foto yang diberi keterangan kenangan album Berhati dalam sesi mendengarkan 7 jam tanpa henti. 

Hadirin yang berkumpul dapat kesempatan lebih dulu mendengarkan 11 lagu album sebelum rilis keesokan harinya tanggal 20 Februari 2020. Ruangan tampak redup dengan set lampu berwarna merah atau sebut lah kamar gelap tempat mencuci film karena mengambil tempat di Soup ‘N Film, Gedung Bara Futsal yang kini sudah tutup permanen.

Tiga tahun berlalu dari sesi mendengarkan, Sal yang terakhir merilis lagu bertema penyemangatan “Besok kita pergi makan” meluangkan waktu untuk balik ke masa lalunya. Ia mempresentasikan album Berhati di lokasi  yang sangat terkonsep dan melibatkan banyak orang hebat termasuk dirinya.

Pertunjukan Berhati dipersembahkan (p) dan KawanKawan Media terlaksana tanggal 4 – 6 Agustus 2023 di Studio PFN – Perum Produksi Film Negara, Jakarta Timur. Hari pertamanya bagi undangan khusus. Hari kedua dan yang ketiga untuk pembeli tiket.

Saya datang 2 hari, yang kedua bersama teman yang memang bertugas untuk menyaksikan acara keseluruhan dan kali ini saya tidak terlambat ketinggalan aksi laki-laki dan perempuan di Sarmal, namun datang dengan asupan kopi susu yang menimbulkan kegelisahan, bukan alkohol 19,5% seperti hari pertama.

Tadinya, saya mau datang semua hari. Jaga-jaga Sal memberi kejutan di hari yang lain. Di hari kedua, saya tiba di lokasi saat matahari belum hilang. Orang-orang berbaju hitam sudah lalu lalang di trotoar. Pakaian saya juga hitam dengan setelan celana biru tua, maaf bagian ini tetap bandel enggak menuruti aturan. Boleh kan ya, asal gelap.

Selama tiga hari berturut-turut, Sal menyuguhkan adegan-adegan yang sama. Saya akan bercerita dimulai dari hari pertama ya? Ya? OK? OK? OK?

 

Catatan 4 Agustus 2023: Ketinggalan Adegan Pembuka

Mengikuti alur sebuah pertunjukan dari awal adalah inti. Tapi, saya harus merelakan adegan pembuka karena menunggu seseorang untuk melakukan sesuatu hal yang lebih penting.

Menara di Sarmal / Dok. Pohan

Album Berhati akhirnya dipanggungkan dalam tema Memomemoria, nama yang jujur ribet sekali untuk mencari tau arti sebenarnya. Tapi, memang bisa sangat paling rumit keadaan nurani, yang kemudian terwujud dalam sebuah konsep. Saya menamakan pertunjukan susah untuk fokus, mana yang paling perlu ditatap lama di ruangan.

Serba menggambarkan duka nestapa. Stan makanan Siomay Enteng Jodoh yang samar-samar terlihat dari arah saya berjalan menuju Toilet bak ledekan. Apa iya yang datang belum berjodoh seperti saya? Lalu, makan siomay jadi punya pacar. Seru sekali memikirkan hal ini saat itu.

 

Stan Siomay Enteng Jodoh di Sarmal / Dok. Pohan

Lorong berwarna merah menerangi saya berjalan menuju apa yang akan disuguhkan oleh Sal. Jalan dihiasi batu kerikil, pasir, seperti menuju sebuah peradaban hingga bertemu gedung yang menjadi tempat pelaksanaan pertunjukan. Pertunjukan yang mungkin sengaja diciptakan untuk orang yang ingin sama rasa atau beda pemikiran, bebas.

Tidak ada satu titik dalam Pertunjukan Berhati. Penonton harus melibatkan semua indra. Laki-laki bertumbuh besar entah mencari apa sempat berkeliaran. Penonton dibuat kebingungan bingungnya. Saya meraba-raba di mana keberadaannya. Panggung sementara gelap, lampu merah terus mencengkam, dan tiba-tiba di sana ada biru. 

Keluar dari ruangan, para tamu undangan saling menyapa atau basa-basi sekadar memperpanjang hubungan kerja. Hajatan musisi selalu bisa menjadi ajang silaturahmi. Sekian.

 

Catatan 5 Agustus 2023: Terima Kasih Sal Priadi

Laki-laki dengan muka cemong mengoceh di megafon dari menara. Syukur saya tidak terlambat lagi untuk menyaksikan bagian ini. Segala ocehan dilontarkan termasuk susunan kalimat yang menyelipkan iklan untuk layanan telepon seluler.

Kerumunan hitam-hitam memenuhi lokasi Sarmal / Dok. Pohan

“Kalian berpacaran? 1 tahun? Ah, sepele! Ada yang pacaran lebih dari 1 tahun di sini? Sarmal adalah tempat buat hari ini. Jangan bawa masa lalu ke sini,” begitu kira-kira kalimat-kalimat yang keluar dari mulut laki-laki sompral itu di Sarmal.

“Kalian tidak tau apa-apa. Stop. Kalian tidak tau sedikit pun tentang Memomemoria. Kalian makhluk yang menyebalkan. Jangan pernah terbelenggu kenangan yang kabur. Kalian mau ke Memomemoria? Lepaskan kenangan kalian di luar sana dan teriak bersamaku di sini. Teriak yang panjang,” menjadi ocehan tambahan yang terpisah.

Kutipan-kutipan perkataan di atas memperkuat hadirnya perempuan berkerudung yang berjalan di sekitar penonton. Perempuan ini juga tak kalah bawel sekaligus bikin tegang dengan menghampiri penonton acak. Satu-satunya kalimat yang saya ingat dari mulutnya, “Kehancuran itu menyembuhkan”.

Salah satu aksi teatrikal di Sarmal / Dok. Pohan

Sosok perempuan berkerudung yang berbaur dengan penonton / Dok. Pohan

Bagi orang yang sensitif terhadap kampanye penyembuhan, pasti tak segan menjawab kalimat seperti ini, “Hancur ya hancur. Mana bisa sembuh kalau sudah tidak berbentuk?”.

Penonton yang sejak sore berkumpul di Sarmal satu per satu menuju ruang Pertunjukan Berhati, melewati lorong merah yang hari pertama sudah saya lalui. Hari kedua saya menyebut lorong ini, hati panas sekali.

Lorong merah menuju Pertunjukan Berhati / Dok. Pohan

Sal duduk manis di ketinggian samping griya depan (FOH). Ia membiarkan kedua kakinya menggelantung. Mik di tangan untuk mengantarkan “Nyala” sebagai nyanyian pembuka. Percis sesuai urutan album Berhati, nomor yang kedua “1-2-CHA-CHA” terdengar dalam ruangan. Tak lama dari dua lagu itu, Sal melintas di kiri saya menyanyikan “Malam, Malam Ubud”.

Pertunjukan Berhati menampilkan banyak adegan, banyak suara yang mengusik. Di area penonton beberapa pasangan rangkulan, di panggung sang perempuan berlumuran cat putih oleh laki-laki yang lebih dulu kuyup. Di panggung mereka saling mengasihi dalam nyanyian “Melebur Semesta”.

Begitu “Kultusan” perempuan yang ternyata bernama M gantian melumurkan cat ke wajah sang laki-laki. Lampu sontak berkedip. Di sudut belakang Sal bernyanyi. Di sudut kiri panggung, badut sedang duduk melamun. Suara ombak berdesir kencang. Semua makin terbawa dalam perasaan. Lampu berubah biru, visual bibir muncul di kiri dan kana. Orang-orang pun menengok ke kiri dan kanan seperti menanti sesuatu.

Sal dari bawah kembali ke atas, duduk di atas sana. Ia mendekatkan bibir ke miknya lagi untuk “Ikat Aku di Tulang Belikatmu”. Saya cinta sekali dengan lirik pembuka lagu ini, “Menetap lah lebih lama dari matahari. Akan kekal semua bahagia dalam rangkum, adanya rupamu”. Bangsat seratus kali. Perempuan di panggung memeragakan tangan mengepal, memukul tembok, mencoba untuk menerobos laki-laki bertubuh besar untuk keluar dari pintu sampai berhasil. Keberhasilan itu menidurkan orang yang tadinya menjadi penghalang dan kerasnya hati selalu menghasilkan korban.

Saat “Amin Paling Serius”, masuk sepasang kekasih yang seakan sedang berada di suasana pelaminan dituntun rombongan perempuan berkostum. Kamera telepon genggam orang-orang yang ditutup mika merah melayang di udara sebagai lilin buatan, kerlip merahnya, bara semakin nyata.

Kamera melayang di udara dalam Pertunjukan Berhati / Dok. Pohan

Sal lewat depan muka saya saat “Dalam Diam” berkumandang. Tentu ia diam karena matanya yang selalu bicara, geraknya saja yang terbaca. Ia lanjut ke depan menghampiri kerumunan yang asyik berjoget dan bernyanyi di tengah. Laki-laki bertubuh tinggi yang menjadi perhatian di awal set panggung ikut menggoyangkan badan dan tiba-tiba keluar dari kerumunan.

Tak lama suara piano dari jemari Gigih melaju (rasanya percis ditikam patah hati). Suaranya mengiringi pria bertubuh besar meraung berjalan ke sana kemari di area penonton. Ia menangis aneh, mencari yang entah apa dicari.

Gigih memainkan intro “Jelita”. Tiba-tiba pria bertubuh besar itu muncul dalam visual berenang di kedalaman air. Sal menatap penonton bernyanyi dari atas panggung. Tubuh sekalnya disorot 8 lampu biru. Ia menundukkan kepala, perempuan berbaju kimono biru muda duduk di bahu laki-laki bertubuh besar di sampingnya.

Malam itu, lagu “Nyalak” yang berada di urutan terakhir album terdengar lebih jelas dari rekaman di layanan streaming musik. Pertanda Pertunjukan Berhati selesai. “Terima kasih telah menyaksikan pertunjukan berhati. Selamat malam,” menjadi kalimat satu-satunya yang terlontar dari mulut Sal selain bernyanyi.

Setiap orang dengan pengalaman yang sama dalam perasaan suka, duka, atau tak pandai bercerita mungkin terwakili oleh semua yang diberikan Sal. Selama 3 hari dengan konsep yang sama, pulang dengan berbagai rasa, pertunjukan masih menyisakan denging yang meremukkan, sulit dijelaskan, namun terima kasih, Sal.

Pulang dari pertunjukan hari kedua, penonton diberi selebaran. Tertulis siapa saja yang berkontribusi untuk Memomemoria. Sal Priadi sebagai Sutradara dan Penulis Naskah yang diawali Amerta Kusuma, Yulia Evina Bhara, Tri Wardoyo, dan Sarah Deshita yang tertulis sebagai Produser.

Tak ketinggalan nama-nama dan perannya, seperti Iskandar Muda (Penulis Naskah & Asisten Sutradara), Siko Setyanto (Koreografer), Gardika Gigih (Penata Musik), Sigit D. Pratama (Penata Artistik), Jonathan Andy Tan (Penata Kostum), Mitae (Manajer Produksi & Panggung), Ignatius “Olink” Sugiharto (Penata Cahaya), Yossy Hermans (Penata Suara), Syanindita Prameswari (M), Bartolomeus Ksatria Putra (BO), Agra Piliang (Pria Itu), Nudiandra Sarasvati (Wanita Itu), Ravi Septrian (Tujuh), Fannya Franklin (Sonet), Abu Hasan Lobubun (Abu Gray), dan lembaran terakhir juga berisi nama-nama yang tak kalah penting perannya. 


 

Penulis
Pohan
Suka kamu, ngopi, motret, ngetik, dan hari semakin tua bagi jiwa yang sepi.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Jangar – Malam (EP)

Pelafalan dan karakter vokal Gusten di EP Jangar, Malam, ini mengingatkan pada Yukie PAS band yang melantangkan lirik dengan suara bulat dan diksi lugas

5 Lagu Cinta Indonesia Pilihan Fabio Asher

Kesuksesan lagu “Rumah Singgah” dan “Bertahan Terluka” yang mendapat sambutan lebih dari 100 juta pendengar di layanan streaming musik membawa Fabio Asher sampai di titik ini. Ia juga sudah mengantongi materi baru lewat perilisan …