PHI Interview: Bongabonga

Oct 27, 2021
Bongabonga

Bongabonga adalah band metal yang hari ini mencuri perhatian banyak penikmat musik, terkhusus metal. Supergrup thrash metal yang terdiri dari orang-orang lama di kancahnya ini hadir dengan tampilan visual ‘nyeleneh’ yang berhasil membuat semua orang memalingkan kepala.

Adalah Daniel Mardhany (vokal, ex DeadSquad), Bonny Sidharta (ex DeadSquad), Welby Cahyadi (Carnivored), Alvin Eka Putra (NOXA) dan Christopher ‘Coki’ Bollemeyer (NTRL) yang berkumpul bersama dalam project yang awalnya sebagai hal iseng-iseng belaka.

Uniknya, tanpa disadari, semua nama tersebut pernah tergabung dalam unit metal DeadSquad, baik sebagai personel atau additional player. Setelah merilis singel perdana “Suara Sudra” kabarnya unit thrash Indo ini akan segera merilis singel kedua mereka.

Pophariini penasaran dan tergerak untuk mengulas lebih dalam tentang mereka. Apa latar belakang dan visi misi mereka dalam membuat grup yang secara nama jauh dari kesan seram ini.

Selengkapnya dalam PHI Interview kali ini. Mari simak bersama.


Selamat siang guys, oke langsung saja ya. Proyek Bongabonga ini boleh dibilang proyek yang tercetus sangat singkat, secepat kilat. Bener enggak? Mengapa bisa terjadi demikian? Siapa atau apa hal yang jadi pencetus dan bagiamana prosesnya?

Awalnya bulan Agustus 2020 Welby dihubungin Daniel buat ikutan kompetisi cover Lawless Vomit Crew, sebuah kompetisi lagu yang diselenggarakan oleh Lawless (toko musik di Jakarta -red), hadiahnya 5 juta waktu itu, lumayan banget buat pemasukan, karena dari awal tahun 2020 enggak ada manggung.

Singkat cerita, Welby dan Daniel kalah dalam kompetisi itu, tapi setelah kompetisi itu Daniel menyemangati Welby untuk terus lanjutin bikin lagu. Akhirnya Welby dan Daniel sepakat buat nerusin projek santai ini dan nyari drummer. Ya, langsung saja kita kontak Alvin buat main drum, tadinya sempat beberapa bulan kita ingin bertiga saja tanpa bass karena memang lebih ingin ke arah thrash punk metal crossover. Tapi kebetulan juga Boni lagi pengin bikin band thrash metal dan sedang cari personil lain, ya akhirnya kita berempat setuju untuk bersama. Lalu ketika mencari nama band, sempat kebingungan karena nama band pilihan kita seperti Rakabitor, Orgasmator yang ada akhiran -OR di belakangnya sudah ada yang pakai.

Soal ini bukan hal yang orang-orang perlu tahu, termasuk kalian sebagai media.

Kami sempat minta tolong teman-teman di media sosial untuk bantu kasih nama band ini dan kasih tenggat waktu beberapa hari dan kalau nggak ketemu nama band yang sreg, ya kita bubarin saja nih band sambil kita ngerjain lagu single pertama kami, “Suara Sudra”.

Band ini pun sempet ‘bubar’ beberapa hari karena tidak ketemu nama yang sreg sampai akhirnya kembali lagi setelah kita semua setuju untuk menamai band ini Bonga Bonga Atau Party (sampai akhirnya menjadi Bongabonga -red).

Dengan nama ini, kita merilis single pertama, “Suara Sudra”. Enggak lama setelah itu, Coki masuk karena memang tertarik sama konsep Bongabonga yang ceria ini. Proses pengerjaan album, iya betul banget sangat cepat. Di umur dua bulan band ini, kita sudah selesai rekaman untuk satu album berisi 10 Lagu dan di November 2021 nanti kita akan merilis dua single termasuk cover lagu “Pasukan Berani Mati” dari BETRAYER.

Tanpa menafikan, personil Bongabonga adalah eks dari DeadSquad, bagaimana komentar kalian tentang tujuan berdirinya band ini? Antitesis kah?

Tujuan kami hanyalah tetap berkarya dan bersenang-senang bersama teman-teman, semoga bisa juga berbagi kebahagian untuk semua orang.

Tujuannya berbagi kebahagiaan dan bila ada yang bermasalah dengan energi itu, ada masalah apa sih dalam hidupnya? Kenapa senang lihat orang susah, susah liat orang senang?

Permasalahan apa yang terjadi dengan band sebelumnya sampai kalian duduk satu ruangan menjadi Bongabonga?

Soal ini bukan hal yang orang-orang perlu tahu, termasuk kalian sebagai media.

Bongabonga

Bongabonga dalam sesi panggung virtual perdana / dok. Bongabonga

Musik thrash metal dengan imej warna-warni, cerah, ceria, balon ulang tahun, pesta, ini yang kalian tunjukan dari sosial media maupun di panggung virtual perdana kalian kemarin. Ada alasan mengapa imej ini yang dipilih? Apa pesan di balik energi visual ini?

Simply karena sudah bosan saja konsep yang serius dan harus seram. Dan orang-orang termasuk kita juga butuh sekali hiburan terutama di pandemi dua tahun ini, jadi sekalian deh. Ditambah memang kita ngejalanin band ini memang basic-nya dari senang-senang, jadi kalau mau gila-gilaan ya jangan tanggung-tanggung, mumpung belum pernah ada yang seperti ini dan ternyata banyak yang appreciated.

Dan balik lagi, tujuan kami adalah berbagi kebahagiaan dan bila ada yang bermasalah dengan energi itu, ada masalah apa sih dalam hidupnya? Kenapa senang lihat orang susah, susah liat orang senang?

Sebagai penulis lirik, “Suara Sudra” punya lirik yang menggelitik, tema apa sih yang akan diusung oleh grup ini?

Fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita dan kita alami sendiri. Kalau lagu lain sih masih seputar kritik sosial dan politik. Setidaknya kita masih memegang idiom seniman sebagai agen perubahan. Perkara ada yang berubah atau enggak, setidaknya kita bersuara melalui karya. Itu salah usaha yang kita lakukan menyikapi kehidupan di dunia yang makin enggak waras. Dengan segala macam fenomena dan segudang regulasi yang tidak berpihak pada rakyat sipil.

Kalau lagu lain sih masih seputar kritik sosial dan politik. Setidaknya kita masih memegang idiom seniman sebagai agen perubahan.

Adakah pengaruh musikal dari gaya penulisan lirik di Bongabonga?

Pendekatan gaya penulisan lirik Daniel di sini lebih kayak band-band Street Punk, Crusty Punk, D-Beat, Power Violence, Trashcore/Fastcore.

Siapa band (yang terbentuk karena) balas dendam favorit kalian (kalau ada).

Megadeth. Tapi pada akhirnya kan enggak jadi sekedar proyek balas dendam juga, kalau balas dendam masa albumnya sudah menuju ke-16.

Bagaimana kalian melihat regenerasi skena musik metal saat ini yang sekarang dipegang DeadSquad, Seringai dan Burgerkill?

Masih banyak banget band keren yang tidak terekspos. Medianya saja yang ngebahas band-band yang itu-itu saja. Media-media sekarang kayaknya kurang gaul, atau mungkin memang enggak peka sama skena atau memang bukan dari skena.

Tapi skena punya media juga kok, jadi itu bukan suatu masalah kalau media-media arus atas dan kanal YouTube “siluman” yang “nyolong” konten media sosial tanpa ngasih keterangan/credit yang jelas. Etika jurnalistik memang sedang mengalami dekadensi,
dan akhirnya Daniel buat lagu untuk menyikapi fenomena ini dengan judul “Petisi terbuka untuk kanal Musrik!”.

Megadeth. Tapi pada akhirnya kan nggak jadi sekedar proyek balas dendam juga, kalau balas dendam masa albumnya udah menuju ke 16

Buat media yang gue sindir, kalian mainnya kurang jauh atau sebatas layar handphone anda. Tidak usah bawa-bawa skena kalo bahasannya cuma itu saja! Regenenasi itu harus! Banyak band yang makin keren dari segi musik dan sound. Banyak juga band gelombang baru/gelombang setelah itu yang bagus-bagus dan berkualitas .

Bongabonga

Poster promosi untuk album debut Bongabonga / dok. Bongabonga

Ini beberapa contohnya: Avhath, Amerta, Taruk, Ametis, Exhumation, Deadly Weapon, Kandala, Incinerated, Decayed Flesh, Gerogot, Domestic Crust, Sacred Witch, Amorfati, Masakre, Iron Voltage, Godplant,  Carnivored, Pure Wrath, Fraud, Djin, Viscral, Headkrusher, Perverted Dexterity, Busuk, Buried, Taring, Consumed, SLFR, Kala, Kultus, Deathrone, Mouthless, Trojan, Parau, Bersimbah Darah, Black Hawk, Ssslothhh, Nicrov, Abonation, Intectra dan masih banyak lainnya.

Buat media yang gue sindir, kalian mainnya kurang jauh atau sebatas layar handphone saja. Tidak usah bawa-bawa skena kalo bahasannya cuma itu saja!

Cari sendiri saja, Indonesia enggak akan kehabisan stok band bagus dan memang sudah diakui dunia. Tapi balik lagi, menjadi besar adalah pilihan dan kerja keras band masing-masing.

Ngobrolin nama baru, apa pendapat tentang band seperti Voice of Baceprot Dan suara-suara miring yang datang beberapa dari komunitas metal itu sendiri?

Setiap band yang sedang banyak disorot pasti ada saja suara-suara miring, biasalah itu, normal. Hampir semua band akan mengalami ini, apalagi kalau suara miring itu datangnya dari orang yang bukan dari scene metal.

Bagaimana cara meraup generasi muda sekarang melalu musik Bongabonga yang kalian usung?

Kita enggak ada trik apapun, kita cuma ingin terus berkarya dan mainkan lagu yang kita suka, menjalankan konsep band sesuai yang kita mau. Sisanya biarkan semua berjalan secara organik saja.

Berkumpulnya bintang dalam satu band dan menyatukan ego masing-masing masing itu adalah salah satu masalah klasik supergrup. Bagaimana kalian menyiasatinya?

Kita tidak ada yang pernah ngerasa sebagai rock star. Definisi rock star buat kita mungkin minimal punya kastil dan tank kaya Bruce Dickinson-nya Iron Maiden. Kalau soal ego, kita sudah ngeband belasan tahun, temenan juga sudah belasan tahun, kita banyak belajar dari pengalaman di masa lalu.

Kita tidak ada yang pernah ngerasa sebagai rock star. Definisi rock star buat kita mungkin minimal punya kastil dan tank kaya Bruce Dickinson-nya Iron Maiden.

Kalau jenuh ya tinggal vakum/break dulu, enggak perlu dipaksain kalau vibe di band lagi enggak enak. Toh kita semua punya band lain dengan prioritas yang sama. Nanti juga kangen ngumpul lagi kalau sudah lama enggak ngumpul dan pastinya bakal lebih fresh.

Untuk masalah ego kalau masih wajar sih ya enggak masalah, namanya juga menggabungkan lima kepala. Yang penting semua diobrolin dan semua transparan. Mau gondok-gondokan di depan juga enggak masalah daripada jadi fenomena gunung es atau bom waktu. Kalau soal jadwal kita sudah komitmen dulu-duluan saja yang masuk buat nge-lock tanggal. Toleransi, pengertian dan senang-senang bersama lebih penting dari skill kalau untuk Bongabonga.


 

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Laidthis Nite Kembali dengan “It’s Gonna Be Alright”

Sembilan bulan setelah “LoveLight” diperdengarkan, Laidthis Nite kembali dengan single baru tentang hasrat dalam judul “It’s Gonna Be Alright” (12/11).

Menakar Hak Pencipta Lagu

Sebelum bicara hak pencipta lagu mari bicara soal ini. Sebagian besar musisi indie sudah mengerjakan apa yang umumnya label rekaman lakukan pada umumnya. Yaitu merekam lagunya melalui perangkat sendiri tanpa harus diberi modal besar …