PHI Interview: Holy City Rollers

Sep 30, 2021
Holy City Rollers

Situasi pandemi sekarang ini ternyata tidak selamanya menjadi musim yang buruk untuk sebagian band. Tidak sedikit band yang tetap merilis karya terbarunya meskipun di tengah situasi sulit seperti sekarang.

Ada yang berpisah dan ada yang berkumpul kembali. Di satu sisi ada band besar seperti Naif yang menyerah dan memilih bubar, musim yang buruk ini justru menjadi waktu yang tepat bagi sebagian band untuk bergabung kembali.

Salah satu dari mereka adalah Holy City Rollers, band asal Jakarta yang memilih (lebih tepatnya bertaruh) untuk berkumpul kembali dan mencoba eksis di Industri musik tanah air.

Dilahirkan dari skena side stream di pertengahan 2000an, nama mereka harum di banyak sirkuit independen Jakarta dan di kota-kota. Album satu-satunya mereka, First Chapter of Allordia mendapat banyak apresiasi dari banyak khalayak musik pada waktu itu.

Namun layaknya dinamika sebuah band dengan segenap ‘rocky moment‘-nya, mereka akhirnya pelan-pelan redup dalam kesibukan masing-masing. Kreatifitas menumpul, prioritas terpecah, mereka pun tenggelam dalam kevakuman.

Namun kini mereka kembali berkumpul, dengan ‘energi baru’ yaitu personel baru yang diharapkan mampu memanaskan mesin rock mereka dan kembali stabil di kancah musik nasional.

Namun apakah ini adalah saat yang tepat? Apa saja yang terjadi selama mereka vakum? Simak wawancara eksklusif kami dengan Mesa, Miko dan the rest of the guys dari Holy City Rollers.


Kenapa baru sekarang kalian memutuskan untuk muncul kembali di permukaan? Kapan sih kalian vakum, apa yang terjadi selama vakum?

Mesa: I guess karena kita passionate about music sih, dan baru sering-sering nongkrong lagi sama anak-anak dan mulai semangat lagi mungkin ya. Sebetulnya pas sebelum pandemi kita sudah mau release tapi kepending jadinya telat, and at that time belum dibantu Beben untuk manage kita. Vakum kalau nggak salah 2010 ya, eh benar enggak sih Mik? 

Miko: Yoi, vakum 2010. Alasan baru sebenernya kita sudah mulai aktif di 2015 dengan beberapa kali ganti gitaris yang cocok buat ganti personel yang off. Akhirnya baru masuk Alfi di 2015-an dan kita langsung fokus bikin materi dan dapetin chemistry dulu buat jalan. Transisi 2010-2015 kita fokus kerja di bidang masing masing saja. Kita baru fix kan muncul di 2021 sebenarnya planning sudah dari 2018-an, tapi kita baru dapat tim support dan akhirnya bisa bikin timeplan yang bener untuk goals nya new EP keluar dan album di tahun depan.

 

Eh iya, jadi siapa yang cabut dan siapa personil barunya sekarang?

Miko: Yang cabut gitaris awal, Ande dan soma yang main synth, personil baru gitar Alfiando.

Messa: Yoi, Alfi personil baru sekarang.

 

Materi album debut dirilis ulang dalam bentuk digital menjadi penanda kembalinya kalian, kenapa ini menjadi strategi awalnya, kenapa orang merasa harus dengerin lagi album kalian? Kenapa enggak memilih misalnya merilis single-single baru misalnya.

Messa: Ya sebetulnya supaya orang aware lagi saja sih. jump start kali ya, kalau untuk materi single baru Oktober ini akan release, nanti juga sekalian EP-nya. Sebelum next up album ya kita bakalan release single dan EP dulu.

Miko: Yap betul, awareness saja sih untuk teman-teman yang dulu tahu Holy dan mungkin teman-teman baru yang dulu belum sempat dengerin Holy, mudah-mudahan mereka bisa kulik-kulik Holy kayak gimana di tahun-tahun dulu pas lagi kurus-kurusnya. 

 

Meskipun belum lama dirilis digital adakah impact sejauh ini atas album kemarin? 

Messa: Iya sih kemarin ada beberapa teman yang DM nanyain soal rilisan [tertawa]. Dan kalau dari sosmed kayaknya bertambah ya. Mulai ada kuping baru sih pastinya, dan media-media yang dulu mungkin belum pernah kita temuin, kayak Pophariini.

Shada: Yes, followers bertambah dan ada pendengar baru yang belum pernah Holy sebelumnya juga suka dengan album pertama.

Holy City Rollers by Moses Sihombing

 

Penasaran, visi kalian ketika memutuskan utnuk balik lagi itu apa sih. Apa cuma sekadar kangen pengen balik ngeband lagi atau ada visi misi yang clear?

Miko: Duit. Money money money.

 

Ha ha ha, pastilah kalau itu.

Messa: Berkarya sih, kalau soal visi misi sih pengen ngasih legacy saja atas apa yang sudah kita bikin, yang bisa dibilang respon kita terhadap sekitar saja. 

Miko: Iya mungkin basic kita sudah suka musik saja. Dan menuangkan isi pikiran ke musik yang bikin kita nge-band lagi. Kebetulan formasi sudah klop lagi, sudah dapat chemistry dan semangatnya. Akhirnya jadi lah karya-karya baru dengan masa vakum kita itu mungkin masing-masing dapat ilmu atau inspirasi baru dalam musik. vVsi misi clear nya ya kita mau hadir lagi di industri sebagai Holy yang fresh dan meramaikan genre musik di Indonesia bahwa aliran yang nantinya dibawakan Holy masih ada dan mudah-mudahan bawa warna baru di genre musik yang ada di Indonesia sekarang. Dan ya, respon positif dari teman-teman lama kita juga di luar musisi maupun sesama musisi juga jadi semangat baru kita saja sih.

 

Menurut kalian apakah ini waktu yang tepat untuk muncul lagi?

Mesa: Mungkin kalau pertanyaanya apakah ini waktu tepat untuk release karya, mungkin jawabannya tidak ya… Tapi untuk case kita ini, rasanya nggak ada pilihan lagi saja untuk release sekarang, karena materi sudah terlalu lama tertahan juga. Dengan harapan keadaan akan segera membaik ya, supaya kita bisa perform di gig-gig lagi, tour, etc. Btw, di US dan Eropa sudah getting better, dan festival-festival sudah mulai bermunculan lagi, jadi at least di sini nggak akan lama lagi pasti bisa, we have hopes!

 

We’re all do, optimis enggak 2022 kita sudah normal lagi?

Miko: Gue sih optimis.

Messa: Optimis dong, at least new normal. Abnormal normality.

 

Kalau boleh tahu, big plan HCR di tahun ini sama tahun 2022 apa?

Shada: 2022 mudah-mudahan album kedua bisa rilis.

Mesa: Yes, album release.

Beben: Terbuka untuk berkolaborasi dan ajakan tour Sumatra – Jawa – Bali – Sulawesi.

Miko: Nah itu yang kurang mungkin, tour.

 

Wih, tur nih beneran? 

Beben: Yoi, nanti lah dikabarin detailnya lagi ya.

 

Siap, anyway, congrats and thanks ya guys, heat up the Holy Machine, welcome back.   

Mesa: Thanks Cum.

Miko: Thanks, doain ya.

Shada: Thanks mas Acum.

Beben: Thanks Cumzz.

_____

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Laidthis Nite Kembali dengan “It’s Gonna Be Alright”

Sembilan bulan setelah “LoveLight” diperdengarkan, Laidthis Nite kembali dengan single baru tentang hasrat dalam judul “It’s Gonna Be Alright” (12/11).

Menakar Hak Pencipta Lagu

Sebelum bicara hak pencipta lagu mari bicara soal ini. Sebagian besar musisi indie sudah mengerjakan apa yang umumnya label rekaman lakukan pada umumnya. Yaitu merekam lagunya melalui perangkat sendiri tanpa harus diberi modal besar …