296

Rangkuman Pemilu 2019 Berdasarkan Judul Lagu Indonesia Teranyar

Ilustrasi @abkadakab

Nama adalah doa, begitupun judul lagu. Entah kebetulan atau tidak beberapa judul lagu Indonesia yang dirilis selama periode tiga bulan sebelum pemilu walaupun secara konteks lirik bukan tergolong lagu politik namun jika dibaca hanya dari judulnya saja sedikit banyak bisa menggambarkan berbagai polemik yang terjadi selama pemilu 2019 ini.

Jika Pemilu 2019 diibaratkan sebagai sebuah film dan akan merilis album soundtrack, lagu-lagu ini mungkin tepat untuk menjadi latar yang selaras dari berbagai keriuhan yang telah terjadi sepanjang Pemilu 2019.

Bagaimanapun, di masa tenang ini mari sejenak merefleksikan berbagai peristiwa yang telah terjadi selama Pemilu 2019 melalui judul-judul lagu-lagu berikut.

 

“Adu Rayu” – Yovie, Tulus, Glenn Fredly
Para caleg dan paslon dengan berbagai cara dan strategi membujuk rayu calon pemilih. Dalam masa kampanye, semua yang dilakukan dan dilontarkan mereka akan selalu terlihat cantik sehingga mudah membuat calon pemilih terpesona. Tinggal bagaimana kita sebagai calon pemilih tetap berpikir rasional karena jangan cintai mereka apa adanya agar jangan ada sesal yang datang belakangan hingga berakibat sedih tak berujung.

Baca juga:  Keseriusan Eksplorasi Noise: Terima Kasih Stevi Item

 

“Pertikaian Kata” – Kavenda, Anda Perdana
Salah satu situasi yang umum terjadi selama masa kampanye ini adalah pertikaian dalam bentuk teks yang terjadi di grup-grup chat. Biasanya karena debat semakin panas ujung-ujungnya salah satu akan ‘left group’. Kalau masih keluar dari grup chat teman SMA atau kuliah mungkin masih tidak apa-apa. Tapi jangan sampai keluar dari grup chat keluarga. Karena harta yang paling berharga adalah keluarga.

 

“Linimasa” – Skastra
Linimasa media sosial adalah salah satu medium paling riuh yang juga kerap memanas selama masa kampanye pemilu 2019. Di linimasa jalannya cukup licin dan terjal. Salah ucap sedikit atau berbeda dari pendapat umum, dapat membuat warga net langsung menyerbu untuk lalu menggertak. Linimasa media sosial juga kerap menjadi pemisah hubungan pertemanan bagi yang berbeda kubu (sudah berapa kali kita menekan tombol unfollow selama kampanye pemilu 2019 ini?). Pada kondisi paling ekstrem dalam kehidupan sosial warga net di dunia maya, bahkan ada yang memutuskan untuk keluar dari linimasa dengan menutup akun media sosial gara-gara pemilu. Tapi ingat sebelum keluar periksalah barang bawaan Anda dan hati-hati melangkah.

Baca juga:  Cerita di Balik Tur Regenerate Endah N Rhesa

 

“Ruai” – Hursa
Hidup itu memang perkara untuk memilih. Dari hal simpel mau belanja di Alfamart atau Indomaret yang letaknya berseberangan hingga persoalan yang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti memilih caleg dan paslon yang akan menjadi perwakilan rakyat dan memimpin negeri ini hingga lima tahun mendatang. Terkadang pilihan-pilihan yang ada membuat kita begitu sulit untuk memutuskan. Berbagai perasaan berkecamuk di antara pilihan yang tersedia yang mungkin sama-sama kuat atau malah sama-sama buruk yang pada akhirnya membuat kita menjadi ruai. Dalam KKBI, ruai itu diartikan sebagai kurang kukuh atau kurang kuat.

 

“Antipati” – Reaksi
Dengan semakin panasnya suasana kampanye pemilu 2019 yang banyak dihiasi berbagai isu SARA, ujaran kebencian, fitnah atau menyajikan berita bohong (Hoax), membuat sebagian dari kita merasa antipati dengan pemilu. Terlebih bagi sebagian calon pemilih berusia muda, hubungan pertemanan yang sudah lebih lama terjalin rasanya jauh lebih penting ketimbang mendukung salah satu kubu. Sementara itu, beberapa kalangan yang memiliki kesadaran politik yang tinggi juga bisa memiliki sikap antipati terhadap para caleg dan paslon karena rekam jejak mereka atau karena muak dengan sistem politik yang oligarkis.

1
2
Comments
Previous article5 Lagu Pilihan Gabriela Fernandez
Next articleRecord Store Day Indonesia 2019 : Rilisan fisik tetap jadi idola
mm
Dimas Ario ialah seorang kurator musik yang berpengalaman bekerja untuk beberapa layanan musik streaming lokal maupun internasional dan juga kurator untuk musik yang diputar di berbagai tempat publik komersial seperti hotel dan restoran. Sejak 2016 Dimas juga aktif sebagai manager dari band Efek Rumah Kaca (ERK) sekaligus bersama keluarga besar ERK turut mengelola Kios Ojo Keos, sebuah toko buku berdikari dan ruang bersama untuk komunitas yang berdiri di bulan Mei 2018.