126

Record Store Day Indonesia 2019 : Rilisan fisik tetap jadi idola

Sebagai bentuk perayaan Hari Toko Rekaman atau Record Store Day, Record Store Day Indonesia (RSDI) kembali digelar pada tanggal 12 dan 13 April 2019 di Kuningan City, Jakarta. Di tahun kedelapannya, RSDI dimeriahkan puluhan toko rekaman independen, penampilan musisi/band, dan penjualan karya rekaman musik yang dirilis secara eksklusif.

Nama-nama band yang ikut berpartisipasi merilis CD antara lain Zeke and The Popo, Rubah di Selatan, Zigi Zaga, dan Topi Jerami. Selain CD sederet nama yang mengeluarkan kaset Pijar, The Panturas, dan High Therapy. Selain rilisan eksklusif, pengunjung juga memburu aneka piringan hitam, kaset, CD serta jualan lainnya baik yang baru maupun bekas.

Beragam aktivitas jual beli rekaman fisik di RSDI 2019 kuningan city / foto: pohan

Hari pertama, dua panggung RSDI dimeriahkan beberapa penampil yang mungkin asing bagi sebagian pengunjung tak terkecuali Saint Loco, band yang sudah cukup lama di industri musik.

Baca juga:  #TolakRUUPermusikan Bergema Dari Berbagai Daerah Indonesia

Yang spesial tentu saja penampilan Zeke And The Popo, setelah lama vakum, band memanfaatkan teknologi live streaming dalam menampilkan karyanya di atas panggung, mengingat dua personelnya Zeke Khaseli di New York dan Iman Fattah di Los Angeles. Sayang karena koneksi internet yang kurang mumpuni, penampilan mereka jadi tidak maksimal. Namun tetap saja CD terbaru mereka, The Three  EP Three Magical Penguins diburu banyak fansnya.

Penampilan spesial Zeke And The Popo tanpa Zeke Khaseli dan Iman Fattah / dok. Achmad Soni Adiffa

Seperti yang sudah-sudah, selain menikmati musik dan berbelanja, RSDI kerap menyuguhkan talkshow musik. Di tahun ini, RSDI bekerjasama dengan situs crowdfunding Kolase.com membuat talkshow bertajuk #BikinNyata Music Talks ‘Pyschical Records Vs Digital Records’. Bincang-bincang santai dipandu Akbarry ini menghadirkan pembicara Surya Fikri (The Panturas), Fandy (Agrikulture) dan Bayu (Elephant Kind).

Baca juga:  Ketika Otong Koil Buka-Bukaan
Talkshow RSDI bersama Kolase.com / foto: Pohan

Talkshow berjalan menarik, para musisi ternyata punya alasan masing-masing dalam menyebarkan karya musiknya. Surya mengatakan bahwa alasan Panturas merilis kaset adalah karena rilisan kaset itu abadi adanya. Personil band yang baru saja merilis kaset Queen of The South ini mengaku kaset yang dibeli pertama kali adalah Say No to Drum milik PHB (Pemuda Harapan Bangsa). Berbeda dengan Surya, Bayu membeli rilisan fisik perdana album Blink 182. Drumer Elephant Kind ini berpendapat, fisik dan digital merupakan medium bagi band.

“Fisik menurut gue masih penting. Tapi gue melihat digital juga penting. Masih banyak orang yang habis mendengarkan rilisan sebuah band yang mereka suka dalam bentuk digital pasti nyari fisiknya,” ujarnya.

Baca juga:  Dekat Dan Tanayu Sukses Mencuri Perhatian di Baku
Zirah, band rock perempuan dari Jakarta / foto: Pohan

Panggung utama di hari kedua terbilang ‘pecah’ dimulai dari Joko In Berlin, Later Just Find, The Wellington, Atsea, Zirah, Avhath, Pijar, Noh Salleh, The Panturas, Morfem, Zigi Zaga, hingga Agrikulture. Pemandangan crowdsurfing sudah tampak sejak Zirah dan memuncak saat Panturas dan Morfem.

Compadres bersama Ade Paloh / foto: pohan

Sementara di panggung luar dekat pintu masuk menjadi tempat bagi Gulf of Meru, GMHL, Turk N Caicos, Annemarie, Heartlings, Compadres, Orchest Stamboel, dan Lightcraft. Compadres menyajikan pertunjukan menarik ketika mereka mengajak Ade Paloh untuk bernyanyi dan mengiringi mereka dengan tiupan trumpetnya yang syahdu.