Rekomendasi: Behind The 8th Ball – Irfan Sembiring

Oct 23, 2021
Rotor Behind the 8th Ball

Literasi tentang musik metal lokal dan subkultur musik anak muda era 90an adalah hal yang selalu menarik perhatian saya pribadi. Terlebih bila mendengarkan kisahnya langsung dari penuturan sang pelaku. Tapi bila itu belum seberapa, penuturan ini ditulis langsung oleh pelakunya. Irfan Sembiring, sang pendiri, penulis lagu, gitaris/vokalis dan frontman, band Rotor. Kuartet trash metal pertama di Indonesia yang berhasil merilis album penuh Behind The 8th Ball di bawah label mayor Indonesia, Airo di tahun 1992.

Terdiri dari 200 halaman buku ini dibuka dengan pengantar dari Taufiq Rahman, sang empunya Elevation Books, juga Elevation Records yang berada di bawah payung Elevation Group. Pengantar ini tentunya dibutuhkan mengingat pendengar musik sekarang didominasi oleh remaja usia 20an yang tidak mengalami era 90an langsung. Terlebih tulisan pengantar ini juga menjadi pintu memasuki tulisan Irfan yang sangat kasual tidak formal sama sekali. Yang malah jadi terasa menyenangkan dan menarik dibaca.

Sedari bab pembuka kita sudah bisa melihat hal itu dari kelakar Irfan yang mengingatkan untuk berhati-hati akibat dari berbagai hal yang membuatnnya menempuh jalan yang ‘sesat’ yaitu ingin hidup total dari musik, dan hidup menjadi musik metal. Dari hadiah gitar mainan saat balita, duduk di sekolah diapit dua teman perempuan, salah pergaulan dengan pamannya yang membuatnya mengenal musik rock.

Ditulis langsung oleh Irfan Sembiring, frontman band Rotor. Kuartet trash metal pertama di Indonesia yang berhasil merilis album Behind The 8th Ball di bawah label mayor Airo di tahun 1992

Selebihnya kita akan terbiasa membaca penuturan Irfan yang humoris, sering mengobral istilah “ngeri” atau “ngga ngeri” untuk menggambarkan hal-hal ekstrim yang bisa dicapai musik metal. Selain juga sisi ambisius luar biasa dirinya yang berhasil membuat Rotor berdiri gagah dalam kancah musik metal Indonesia.

Sisi ambisius ini kemudian menjadi bahan bakar keseluruhan cerita buku ini. Bagaimana dengan begitu ambusius dan percaya diri Irfan merencanakan dan mengerjakan hal-hal yang di luar nalar untuk ukuran era itu, 30 tahun yang lalu. Hidup total dari musik, terlebih musik metal. Boro-boro hidup sebagai musisi metal, hidup sebagai musisi saja di era tersebut sangat tidak mudah. Hal-hal seperti ini banyak disinggung dengan menarik.

Selain tentunya kisah-kisah perkenalan Irfan dengan musik, dengan gitar elektrik, dengan musik rock dan metal, tentunya dengan komunitas metal pertama kalinya, yang berlanjut soal proses pembentukan Rotor, lengkap dengan proses perekrutan personil penulisan lagu, rekaman, ambisi untuk menjadi band metal nomor satu dengan mengincar jadi pembuka Sepultura dan tentunya, Metallica.

Sisi ambisius ini kemudian menjadi bahan bakar keseluruhan buku ini. Bagaimana dengan begitu ambusius dan percaya diri Irfan merencanakan dan mengerjakan hal-hal yang di luar nalar untuk ukuran era itu, 30 tahun yang lalu

Kisah bagaimana Rotor bisa menjadi pembuka Metallica, band metal dunia nomor satu saat itu adalah inti cerita buku yang ringan, padat dan cukup singkat ini. Dan mengagumkan bagaimana Irfan mampu menghadirkan begitu banyak detail kisah hidupnya melalui tulisannya. Juga bagaimana editor buku dan kekuatan ingatan penulis kemudian berhasil menghadirkan cerita yang begitu detail dan mengasyikan dibaca. Sehingga kita seolah bagaikan ada di lokasi. Baik itu di lokasi studio One Feel ketika Rotor banyak sekali berlatih, atau di rumah sang bos Airo records, Setiawan Djodi.

Kudos untuk editor yang mampu memilah dan memangkas tulisan-tulisan Irfan yang katanya lebih banyak lagi. Tulisan-tulisan yang beberapa sempat Irfan terbitkan di akun Facebook ini membahas lika-liku sejarah Suckerhead, Rotor, perjalanan bertemu Sepultura dan membuka konser Metallica hingga sedikit tentang kala Rotor hidup di Los Angeles. Namun buku ini khusus fokus ke album perdana Rotor, Behind the 8th Ball saja.

Poin menarik juga bagaimana Irfan menceritakan soal detail hal-hal yang berlaku saat itu. Seperti tuntutan untuk berbeda yang kemudian bermuara menemukan identitasnya dengan menjadi anak metal. Dari pakaian, rambut gondrong khas anak metal, selain mendengarkan musik metal itu sendiri. Ditambah totalitasnya latihan gitar 6 jam sehari, dan ngototnya Irfan membuat komposisi musik metal Rotor yang begitu rumit, berbeda dari semua musik metal lokal yang sudah ada saat itu sehingga menghasilkan musik -mengutip Irfan- yang harus ‘ngeri’!

Poin menarik juga bagaimana Irfan menceritakan soal detail hal-hal yang berlaku saat itu. Seperti tuntutan untuk berbeda yang kemudian bermuara menemukan identitasnya dengan menjadi anak metal.

Buku album Rotor, Behind The 8th Ball ini melengkapki katalog C-45, yaitu seri buku saku yang khusus membahas soal album penting Indonesia. Kudos untuk Elevation Books, sebagai bagian dari Elevation Group yang begitu berdedikasi dan konsisten merilis buku-buku musik lokal yang menarik.

Buku ini beserta perilisan piringan hitam album Rotor, Behind the 8th Ball oleh Elevation Records adalah bagaikan membuka kotak pandora -mengutip Irfan lagi- sejarah ‘ngeri’ musik metal Indonesia. Pasar musik metal Indonesia memang sudah dikenal hingga ke penjuru dunia. Dari band-band-nya, penghargaan yang diterima, para pendengarnya, festival musiknya hingga industri dan komunitasnya semua sudah bergaung begitu kencang ke penjuru dunia.

Dan bagaimana semua itu bisa terbentuk tentu memiliki sejarah panjang menarik yang perlahan mulai terdokumentasikan dengan baik. Dan buku ini tentunya berhasil menjadi salah satu bagian dan elemen penting hal tersebut.

 


 

Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Laidthis Nite Kembali dengan “It’s Gonna Be Alright”

Sembilan bulan setelah “LoveLight” diperdengarkan, Laidthis Nite kembali dengan single baru tentang hasrat dalam judul “It’s Gonna Be Alright” (12/11).

Menakar Hak Pencipta Lagu

Sebelum bicara hak pencipta lagu mari bicara soal ini. Sebagian besar musisi indie sudah mengerjakan apa yang umumnya label rekaman lakukan pada umumnya. Yaitu merekam lagunya melalui perangkat sendiri tanpa harus diberi modal besar …