DAM DAM POP! — S/T

96

Artis: Dam Dam Pop!
Album: S/T
Label: SRM

Tertulis Harlan Boer dan Bangkutaman sebagai pemilik album ini dengan mengambil jalan tengah, Dam Dam Pop!. Pada sampul, kertas warna sudah digunting sebagai tempat ‘Dam Dam’ dan ‘Pop!’. 

Sebanyak tujuh lagu di dalamnya mengambil tema ugal-ugalan pikiran yang dibuka Dam Dam Pop!. Lagu yang bisa menggantikan daftar nostalgia Blur-mu karena ini belum sampai di “Song Two”. 

Namanya kolaborasi, penting memiliki kedekatan. Bukan seberapa akrab, seberapa jauh perjalanan. Paling tidak, isi dari empat kepala tidak gagal bisa sampai di satu tujuan. 

Satu per satu lagu yang didengar terasa hanya bermodalkan senang-senang. Buktinya, format live di studio mereka ini membuat teman saya menuliskan: “Lagu-lagu effortless. Gak butuh banyak usaha buat dengernya.”

Masuk lagu kedua, dahi dibuat mengernyit. Pertanyaannya, siapa yang rela berbagi permen kapas? Setelah susah payah mengantre untuk mendapatkannya. Agak sulit mencerna makna “Permen Kapas”. Nasib baik lagu diakhiri la.. la.. la.. la.. la.. serta melodi samar-samar menggelintik. Kita tahu yang mana yang manis pasti habis.

Begitu “Terdampar di Ring Tinju”, kaki ikut bergoyang seakan ikut menginjak pedal drum. Lagi-lagi tanpa beban dalam mencurahkan permasalahan. Misalnya, sarung yang gagal mengering bekas pertandingan akhirnya berhasil jua dikalahkan waktu.  

Masih adakah yang memegang surat kertas sambil meneteskan airmata sebagai tanda perpisahan? “Tak bisa kuterka hari yang jauh. Kasih yang mengalir seolah prosa”. Lagu “Seolah Prosa” ini bakal seru dinyanyikan bareng penonton.

Na.. na.. na.. na.. na.. sebenarnya lagu “Damai Sudah Biasa” menggambarkan perdebatan yang berulang. Kemenangan sebuah hubungan karena berbeda sikap dan pendapat itu akhirnya tetap jalan bersama. 

Sudah lama tidak melihat stiker TDK, BASF, Maxell, atau Sony yang ditempelkan pada kaset. Kini sudah terganti menjadi PLAYLISTS di layanan musik streaming. Dulu remaja sibuk memberikan hadiah pacarnya “C60” yang bisa menjadi pendamping bunga atau cokelat di Hari Kasih Sayang.

“Magazine” kedengaran sangat personal. Penutup yang mewakili kebesaran era cetak untuk dikoleksi. Melihat idola dalam bentuk poster atau mejeng di sampul majalah. Magazine! Senang!

Apakah pop masih tetap memiliki arti disukai orang banyak, jika kenyataannya tidak populer? Mungkin tujuan dari album ini bukan untuk jadi yang paling dikenal. Jalan benarnya, mari dengarkan saja.

 

____