Hondo – The Hike to Kamadela

348

Artis: Hondo
Album: The Hike To Kamadela
Label: Darlin’ Records

Hondo adalah Mohammed Kamga dan Chevrina Anayang, duo dalam bermusik maupun dalam kehidupan sehari-hari. Baru merilis album perdana The Hike To Kamadela dan mengefisienkan diri dari formasi sebelumnya di Dekat. Juga memilih untuk lebih banyak mengangkat tema positif. Sehingga proyek ini bisa dibilang sebagai antitesis dari Dekat yang lebih meledak-ledak.

Terdiri dari delapan lagu, melengkapi tiga yang sudah dirilis. “Thirty” dan “River” yang menenangkan, dan yang terakhir “Soldier” terdengar lebih rumit. Dan bagaimanakah kehadiran lagu-lagu lainnya sebagai kesatuan utuh dalam bingkai album penuh?

Itu pertanyaan yang terbesit ketika The Hike To Kamadela (THTK) dirilis. Namun sepertinya sulit untuk cepat-cepat mengambil sebuah keputusan, dan harus memilih wilayah abu-abu dahulu. Karena di upaya awal mencoba menyimak, tidak terlalu ramah untuk telinga, walaupun terdengar indah.

Sedari awal terasa kekurangan album ini adalah dinamikanya. Bagaimana THTK tidak menyisakan ruang untuk ‘tarik telinga’ sejenak dari gempuran musik elektronik berintensitas tinggi dan vokal berbahasa Inggris yang dinyanyikan dengan notasi unik. Juga dilantunkan dengan teknik vokal yang tidak main-main (baca: merdu, indah, namun tidak catchy apalagi sing along).

Walaupun setelah baik-baik menyimak alurnya terbaca dari pembuka yang ramah, “Mountain”, singel menenangkan, “Thirty” dan “River”, lalu telinga langsung dihajar dengan “Jully” dan “Haven’t Got A Clue“ yang cenderung menanjak. Lalu diturunkan di penghujung dengan “Free Solo” dan “Kamadela”.  Tapi entah kenapa, masih terasa berat.

Kabar baiknya disediakan panduan untuk memahami THTK dalam bentuk podcast bernama Rumah Kami yang dipandu langsung Kamga dan Chev. Sehingga bisa memahami secara mendalam makna dan cerita di balik setiap lagunya. Dari harapan, ego, Tuhan, dendam dan proses memaafkan hingga tentang hubungan cinta.

Plus kita mungkin (entah Kamga dan Chev sadari atau tidak) jadi sedikit iri dengan hubungan mereka yang terdengar harmonis. Penuh keterbukaan serta pengertian, dalam berbagai hal terutama dalam hal materi dan finansial.

Perihal kejujuran ini juga yang jadi menarik ketika menyimak podcast-nya. Bagaimana Kamga dan Chev bisa begitu terbuka soal kondisi ekonomi mereka -yang biasanya jarang dibicarakan para musisi yang memilih jalur independen. Hondo beberapa kali menyinggung lembaran tentang prihatinnya ekonomi dan finansial mereka dalam podcast-nya. Hal yang cenderung dihindari, karena berlawanan dengan pencintraan di era media sosial sekarang.

Perkara bebas-pencitraan ini lalu membuat karyanya terdengar begitu tulus. Jadi bisa menghargai bagaimana nada-nada yang dinyanyikan begitu indah hadir bebas meliuk-liuk. Indah ya, indah saja. Cukup. Tidak perlu harus catchy atau singalong. Juga dengan musik dan bebunyian yang dihasilkan. Yang terbiasa dengan instrumen lazim musik popular perlu kesabaran yang lebih dalam menyimak THTK. Terutama menghadapi bebunyian sintetis, berlapis-lapis padat tekstur dan rasa.

Untungnya mereka tidak terjebak menggunakan progresi kord nyeleneh, alih-alih justru memilih kord sederhana, tentunya dengan sesekali melebar sehingga terdengar berwarna dan menenangkan seperti pada “Thirty” dan “River”. Makanya komposisinya menjadi menarik. Angkat topi untuk peran Kamga sebagai produser lagu-lagu Hondo.

Dan bicara vokal tidak usah diragukan lagi. Ini area yang sudah sangat dikuasai mengingat mereka memulai karirnya sebagai kuartet vokal di Tangga selama bertahun-tahun. Tapi apakah penyanyi bisa menulis lagunya sendiri, juga memproduseri dan memproduksi lagu-lagunya sendiri? Kesemua unsur itu terjadi dalam THTK, dan jelas hal itu adalah pencapaian yang menarik sekali.