Rekomendasi: Hursa – Katarsis

Nov 22, 2021
Hursa Katarsis

Jangan terlalu percaya istilah pop turbo yang digadang-gadang Hursa ini. Meskipun kuartet ini terdiri dari persona yang sepenuhnya hidup dari musik pop. Adalah Gala (vokal, kibor), Pandji (gitar), Goldy (drum), dan Irvan (synth/synth bass), yang menghidupi Hursa. Separuhnya musisi yang bermain di cafe, lainnya adalah session player untuk nama besar. Seperti Pandji, gitaris Kunto Aji dan Irvan, kibordis HiVi. Premis ini membuat album kedua Hursa, Katarsis terdengar menjanjikan. Tapi benarkah begitu?

Ada banyak hal yang ditawarkan album kedua mereka ini, dan menjadi tiang penopang rock Indonesia yang mulai semaput bukanlah satu-satunya. Ketukan menghentak, gitar distorsi dengan selipan solo gitar ciamik, vokal yang catchy dan musik jahil dengan ketukan-ketukan ganjil dan perubahan mood yang seenaknya di setiap lagu. Dan ya, semakin didengarkan dengan tata suara yang baik segera kita ketahui kalau mereka sangat peduli dengan detail. 

Ada banyak hal yang ditawarkan album kedua mereka ini, dan menjadi tiang penopang rock Indonesia yang mulai semaput bukanlah satu-satunya

Penting diingat yang Katarsis tawarkan bukanlah rock mentah sekedar pelampiasan ledakan emosi dan perlawanan. Melainkan rock kontemplatif, titik cerah atas kekalutan yang telah terlampaui. Lirik-lirik puitisnya pun terdengar efisien dan langsung menghujam. Simak dari pembuka “Hursa Hursa”, ungkapan yang biasa dipakai untuk memacu kuda:

Masa misuh kan musnah menghilang / Hursa, Hursa! / Hursa, Hursa!

Jika  mereka selihay itu membuat lagu dengan namanya sendiri, kepiawaian mengolah lirik dan notasi vokal mereka juga menarik. Rasakan dengan vokal tamu, Neida yang sangat catchy di lagu kedua:

Menarilah, kelak terang tiba / tertawa, di bawah langit / terang menjadi kawan

Dan tentu lagu favorit “Ruang Tanpa Jenjang” yang bernuansa pop kota yang cool tapi bisa sekaligus galak, melipir ke rock dan  jazz. Dan lagi-lagi bait efisien mencuri perhatian, 

Biarkan melintas / angan tak berbatas / berpijak di bumi / terbang tak meninggi // mendung menjadi rekan yang kejam / menjegal lamunan  

Penting diingat yang Katarsis tawarkan bukanlah rock mentah sekedar pelampiasan ledakan emosi dan perlawanan. Melainkan rock kontemplatif, titik cerah atas kekalutan yang telah terlampaui

Nuansa cool ini kembali muncul beberapa kali seperti di “Dan Seterusnya”, “Lara Cita” dan lagu penutup “Terima Kasih” dengan bait yang memamerkan kadar efisiennya:

Tak ada aksara / terucap, terungkap / raga tak berdaya / menyangga lelahnya // tegar, berdiri kuat /  kau terlihat / membisu menahan keluhan / lelahmu, suatu hari kan / tersudah  / tak akan lagi ada muram

Lalu bagian reff – nya akan menyapu telinga kita untuk terbawa bernyanyi,

Bertahanlah sebentar / menimang terima kasih / bertahanlah sebentar / menuntun terima kasih

Kita harus sepakat kalau Barasuara meninggikan standar estetika musik rock Indonesia baik musik maupun liriknya. Dan menariknya Hursa berhasil hadir di titik yang berbeda

Kita tidak boleh melupakan salah satu kolaborasi terbaik tahun ini antara Hursa dengan pianis jazz, Sri Hanuraga di “Rumangsa” yang ganjil, indah dan  berpeluru refrain yang tetap catchy. Aduhai sekali!

***

Kita harus sepakat kalau Barasuara meninggikan standar estetika musik rock Indonesia baik musik maupun liriknya. Dan menariknya Hursa berhasil hadir di titik yang berbeda. Meski masih satu area, namun berhasil hadir dengan kebaruan. Dan sekali lagi dalam kemasan rock berselimut pop yang menarik. Dan bicara musiknya pengaruh Barasuara, Efek Rumah Kaca dan The Adams muncul bergantian pada kuartet ini. Juga pengaruh notasi vokal ala Kunto Aji yang unik. Hal ini membuat vokal Gala leluasa menyelinap dengan nyaman di antara riuh ketukan janggal, dan aransemen padat. Menetralkan kekacauan yang dibuat teratur oleh Hursa. 

Suara gitar distorsi, kadang meraung dan tenang, bonus solo gitar melodius, musik menghentak, dengan drum dan cymbal berisik, ketukan ganjil, bagan lagu yang seenaknya serta ogah patuh pada musik baku. Pop turbo jelas bukan istilah tepat. Saya lebih suka menyebutnya sebagai: rock berhitung. Karena mengejutkan telinga awam dan terdengar ganjil (istri saya protes, dalam satu lagu kok bagannya berubah-ubah?). Membuat gatal ingin menghitung ketukan-ketukannya.  Tapi tidak usah dipusingkan karena balutan vokal Gala dengan lirik dan notasinya masih mudah dinikmati.

Jadi pilihannya ada pada kita. Tergoda untuk menghitung ketukannya, atau mau berkontemplasi dan singalong pada Katarsis ini? Silahkan pilih sendiri.

 


 

Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Laidthis Nite Kembali dengan “It’s Gonna Be Alright”

Sembilan bulan setelah “LoveLight” diperdengarkan, Laidthis Nite kembali dengan single baru tentang hasrat dalam judul “It’s Gonna Be Alright” (12/11).

Menakar Hak Pencipta Lagu

Sebelum bicara hak pencipta lagu mari bicara soal ini. Sebagian besar musisi indie sudah mengerjakan apa yang umumnya label rekaman lakukan pada umumnya. Yaitu merekam lagunya melalui perangkat sendiri tanpa harus diberi modal besar …