Rekomendasi: Iwan Fals – Pun Aku

Nov 15, 2021

Sang legenda merayakan ulang tahun ke-60 dengan introspeksi, humor dan sederet penyanyi tamu.

 

“Lah, kok malah jadi nyanyi?”

Itulah kata-kata yang menutup Pun Aku, album terbaru Iwan Fals. Dari celotehan spontan itu bisa disimpulkan bahwa sang penyanyi dan pencipta lagu legendaris ini ingin merayakan ulang tahunnya yang ke-60 dalam suasana santai. Alih-alih melontarkan kritik berapi-api seperti yang dulu kerap dilakukannya lewat lagu-lagu klasik seperti “Bento” dan “Bongkar”, kini di “16/01” ia lebih memilih untuk tertawa sambil menggelengkan kepala akibat kondisi di Indonesia saat ini dengan iringan irama dangdut.

Diberi kepercayaan menyusun memilih sejumlah lagu dari ratusan yang tersimpan di arsip ayahnya ditambah beberapa karya yang baru tercipta, Rambu Cikal mengajak Lafa Pratomo sebagai co-producer untuk Pun Aku. Sebagai produser untuk nama-nama seperti Danilla, Sal Priadi, Polka Wars dan The Panturas, Lafa adalah sosok yang paham apa yang menjadi kekuatan dari artis yang digarapnya lalu mengedepankannya. Alhasil, vokal, petikan gitar dan tiupan harmonika yang dibalut instrumen lain secara anggun di album ini mengingatkan pada Sarjana Muda, karya klasik Iwan Fals di tahun 1981.

Tapi kalau dulu Iwan Fals bercerita tentang figur-figur lain seperti di lagu “Bung Hatta”, kini ia berkontemplasi tentang kehidupannya sendiri dan perjalanannya selama ini. “Tunjukkan padaku/Adakah yang mau untuk dilahirkan?” ungkapnya di “Untukmu”, sebuah duo memukau bersama Nadin Amizah. Kehadiran Nadin dan sejumlah musisi perempuan lainnya turut membedakan Pun Aku dari Sarjana Muda. Entah itu NonaRia yang menceriakan “Sebuah Genteng” atau Danilla yang menghantui “Penghibur Hati”, masing-masing membawakan sesuatu yang khas ke album ini dalam porsi secukupnya tanpa mencuri sorotan dari Iwan Fals yang suaranya terasa semakin dalam dan bijak seiring dengan pertambahan usianya.

Walau Pun Aku adalah album yang personal dan bahkan cukup idealis, ada juga beberapa pilihan yang memancing rasa memaklumi ketimbang mengagumi. Kehadiran penyanyi-penyanyi solo generasi barunya Musica Studios sebagai paduan suara latar di “Kabar Aroma Tanah” masih terasa tepat guna dan bahkan membuat merinding. Tidak demikian dengan “Patah”, sebuah balada soft rock bombastis ciptaan Franco Medjaya alias Enda Ungu yang turut diproduseri oleh Pay Burman. Ini tipe lagu yang cocok andai masuk ke album In Collaboration with…. atau Iwan Fals In Love, tapi di sini terasa janggal seperti tamu memakai singlet dan sendal jepit ke resepsi pernikahan.

Di luar satu kejanggalan itu, Pun Aku adalah potret seorang seniman yang masih semangat berkarya sambil memasuki usia senja dengan elegan. Mudah-mudahan setelah tahunnya yang ke-60 di planet ini, Iwan Fals masih bernyanyi dan berkarya, tetap sehat dan terus menjadi teladan bagi musisi-musisi Indonesia lainnya, berapa pun umurnya.


 

Penulis
Hasief Ardiasyah
Hasief Ardiasyah mungkin lebih dikenal sebagai salah satu Associate Editor di Rolling Stone Indonesia, di mana beliau bekerja sejak majalah itu berdiri pada awal 2005 hingga penutupannya di 31 Desember 2017. Sebenarnya beliau sudah pensiun dari dunia media musik, namun kalau masih ada yang menganggap tulisannya layak dibaca dan dibayar (terutama dibayar), kenapa tidak?
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Dari Ini Kisah Tiga Dara, Tatyana Akman Mantapkan Karier Solo

Single kedua Tatyana Akman nanti akan membawa nuansa seperti lagu tahun 1990-2000an yang diberi judul “Cool”, bernaung di bawah label musik Darlin’ Records.

Menelusuri Jejak Masuknya Musik Ska Di Jakarta

Alasan saya menulis buku ini karena tak menemukan bahasan musik ska lokal. Padahal lebih dari dua dasawarsa lalu di Tanah air antusiasmenya fenomenal