Rekomendasi: Littlefingers – EUPHORIA

Feb 11, 2022

November 2020 adalah kali pertama saya mendengar nama Littlefingers adalah dari ajang Irama Kotak Suara. Saat itu, karyanya, “Can Good Things Last Forever?” yang memang terpilih sebagai karya terbaik dari gelaran pertama program IKS ini.

Begitu banyaknya ulasan-ulasan band yang saya geluti selama dua tahun ini membuat jarak perhatian saya dengan grup asal Tangerang ini menjadi jauh. Nyaris saya tak mendengar lagi kabar dari mereka, hingga akhirnya album ini muncul.

EUPHORIA.

Apa yang saya bisa gambarkan dari EUPHORIA ini adalah sebuah letupan emosional dalam bentuk skill dan penulisan notasi yang luar biasa yang itu datang dari sekelompok musisi muda dengan talenta yang mengagumkan. Delapan track yang ada di dalamnya adalah mesiu yang siap membuat jari siapapun berkrenyit ketika tersambar ketukan-ketukan drum yang ganjil, solo bas dan gitar dengan notasi miring.

Nomor favorit saya, tentu saja, “Ready Player One”. Festival yang marak akan jazz, progresivitas dan nada-nada yang indah. Saya membayangkan melihatnya langsung: Bagaimana kelindan yang tercipta dari segenap instrumen di dalamnya membuat sebuah lukisan dahsyat yang mungkin pernah saya lihat dan dengar di masa lampau tiba-tiba terpanggil kembali.

Atau bagaimana “Over The Moon” memaksa sebuah anggukan kepala, mengamini transformasi nada-nada tema yang sulit dan improvisasi iblis. Juga bagaimana “Time” menjadi peluru yang ketika dimuntahkan katakanlah, dalam sebuah festival jazz, rawan membuat rahang terbuka

Beberapa nomor ber-vokal menghiasi debut album ini, seperti “Blue Light” yang menampulkan duo penyanyi/penulis lagu Agustin Oendari dan J. Lym, “Opacarophile” yang  menampilkan Kamga, “Euphoria” menampilkan Imelda Lizal dan “Can Good Things Last Forever?”, nomor lama yang taruh di track terakhir yang menampilkan Natania Karin.

 

Yang menariknya, dari nomor instrumental dan nomor yang ber-vokal punya bobot yang sama. Ini alasan kuat bahwa mereka bukan sekadar band elektronik jazz instrumental belaka. Kehadiran vokal di beberapa nomor membuat band ini menjadi lebih ‘hidup’ karena ada lirik yang dinyanyikan.

Sekadar catatan, saya amat mengagumi “Euphoria”, single yang menurut saya adalah sebuah hibrida antara keindahan arsiran-arsiran audio saya akan Michael Jackson, MALIQ & D’Essentials, Eva Celia dan Indra Lesmana.

Jika saya tak kenal mereka dari awal, akan sangat mungkin saya bakal salah duga bahwa mereka adalah sekumpulan musisi progresif jazz senior yang malang melintang di sirkuit jazz. Namun, ternyata tidak demikian faktanya. Personil band ini: Chika Olivia pada keyboard, Tjdika pada bass, dan David Halim pada drum notabene adalah anak-anak muda umur duapuluhan yang masih segar.

Ini juga yang mungkin, ironisnya, menjadikan Littlefingers terlalu terpaku dengan musik sehingga mereka melupakan esensi artwork sebagai bagian yang tak terpisahkan.

Kenyataan energi duapuluhan mereka terlihat jelas dalam sampul yang, sorry to say, menurut saya tak terlalu mewakili apa yang saya rasakan di album ini. Sebuah sampul yang seharusnya milik album anak-anak ketimbang sebagai perwakilan wajah sebuah band jazz yang mahal. Warna-warni dan unsur kartun yang sangat dangkal, seharusnya mereka bisa lebih baik.

Selamat untuk Littlefingers!


 

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; redaktur pelaksana di Pophariini, penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat beberapa album.

Eksplor konten lain Pophariini

Siniar Pop – Delpi Suhariyanto

Setelah membuka musim ke-2 dengan perbincangan bersama Ardhito Pramono, kini Siniar Pop kembali hadir dengan bintang tamu Delpi Suhariyanto dari Dongker. Masih dipandu oleh Denboi, Siniar Pop bersama Delpi tidak banyak membahas perihal musik …

Loutspell Mengaku Lebih Eksploratif di Album Kedua Watch The Fear

Berjarak 4 tahun dari perilisan album perdana Burning Last, band hardcore punk asal Bandung bernama Loutspell resmi meluncurkan yang terbaru berjudul Watch The Fear dalam format kaset pita tanggal 7 Juni 2024 dan menyusul …