Rekomendasi: Madness Belong To All: Catatan Ganjil Musik Abad 20 – Aliyuna Pratisti

167

Buku: Madness Belong To All: Catatan Ganjil Musik Abad 20
Penulis: Aliyuna Pratisti
Penerbit: EA Books

Setelah Nice Boys Don’t Write Rock n Roll milik Nuran Wibisono dan Bandung Pop Darlings milik Irfan Popish kali ini penerbit EA books kembali merilis kumpulan tulisan tentang musik dari penulis perempuan yang sosoknya cukup misterius, Aliyuna Pratisti.

Misterius di sini karena saya cukup asing dengan namanya. Terlebih sosoknya nihil di media sosial populer Instagram dan Twitter. Meskipun belakangan saya menemukan dia di Facebook, dan juga dari Google baru ketahuan kalau ternyata saya mainnya “kurang jauh”. Karena ternyata selain kini menjadi pengajar Ilmu Hubungan Internasional, di Universitas Padjadjaran, Aliyuna adalah salah satu sosok pendiri dan penulis di balik media daring padat gagasan bernama antimateri.com.

Rasa penasaran itu muncul karena menemukan buah pemikiran tentang musik milik Aliyuna ini adalah kejutan yang menyenangkan. Saya selalu suka bagaimana urusan mendengarkan musik saja bisa dibedah dan ditarik ke sana kemari dengan melibatkan pembahasan dari sisi teori, filsafat, psikologi, sastra, estetika, mitos dan tentu sejarahnya. Dan berbagai kutipan, dan beberapa name-dropping sesuai takaran hadir dalam tulisannya.  Sehingga selain cukup empiris juga bisa personal dan sangat subjektif. Sehingga dijamin akan membuat siapapun penasaran untuk mendengarkan nama-nama musisi/album yang ia tulis.

Bagi banyak orang musik bisa jadi hanya sekedar teman latar ketika beraktifitas. Sehingga radio dan playlist populer di layanan streaming mungkin cukup. Tapi tidak bagi Aliyuna. Setelah menemukan grup musik punk-rock The Stooges, hal itu memutarbalikan hidupnya. Dengan latar belakang sebagai pengajar Aliyuna lantas melakukan pemetaan pada musik barat 60/70an. Hasilnya Ia mampu mengubah musik yang ia dengarkan menjadi paragraf-paragraf bergizi dalam setiap tulisan-tulisannya yang singkat dan padat membahas beragamnya selera musik miliknya. Dari folk, jazz, punk, psychedelic, noise, glam rock, krautrock, dan masih banyak lagi.

Tulisan Aliyuna padat dan tidak bertele-tele. Dari pergerakan blues putih di Inggris tahun 60an, pemaparan musik yang membuat kita penasaran seperti pada tulisan tentang “Interstellar Overdrive” milik Pink Flyod, misteriusnya foto model cantik/penyanyi Nico, pemaparan soal musik jazz di Amerika, nama-nama besar seperti Jimi Hendrix, Duanne Allman hingga Neil Young, secuplik tentang penemuannya akan musik psikadelik Jepang yang obscure, hingga pemaparan soal manifestasi, konsepsi dan komposisi di bab penutup yang mengkaji musik dari sisi berbeda dengan bab sebelumnya.

Salah satu tulisan favorit saya adalah “Lazarus” yang membahas nama besar David Bowie. Sejujurnya saya tidak pernah “kena segitunya” dengan Bowie. Berkali-kali mencoba saya tidak berhasil untuk tertarik padanya lebih jauh -selain tentu lagu-lagu beliau yang populer. Namun, pemaparan di bab ini sangat menarik, enak dibaca, dan berhasil kembali membuat jejak di benak ini bagaiamana sosok David Bowie bisa se-cult itu.

Juga tentang musik kaum gypsy “Migrasi Musik Gypsy” di bab terakhir. Ada dua momen saya berkenalan dengan kultur gypsy ini. Pertama melalui komik Tintin yang berjudul Zamrud Castafiore yang menggambarkan sisi kumuhnya mereka sebagai gelandangan, pencuri dan peramal gadungan. Satu lagi adalah romantisme kaum gypsy dari yang banyak diangkat di lagu-lagu populer di tahun 60/70an. Seperti Jimi Hendrix “Gypsy Eyes”, The Doors – “Spannish Caravan”, Curtis Mayfield & The Impression “Gypsy Woman” serta Fleetwood Mac di “Gypsy”. Dan tulisan ini berhasil melengkapi pengetahuan tentang kaum nomaden yang sebelumnya tidak pernah tuntas di benak ini.

Pada akhirnya harus diakui kalau buku ini cukup “berat”. Namun bagi para kutu musik yang gemar merumitkan urusan mendengar musik dengan rasa ingin tahu berlebihan, buku ini akan mengajak kita berekspedisi lebih jauh. Juga mampu menuntun kita untuk menemukan musik-musik baru (yang lama) atau bahkan hanya sekedar melakukan pendalaman lagi sehingga menemukan kilau baru pada musisi/abum favorit kita. Atas semua itu maka buku ini layak direkomendasikan.

Kalaupun ada yang kurang dari buku ini adalah ketika memetakan musik 60/70an Aliyuna luput membicarakan musik soul milik kaum kulit hitam yang juga berjaya di eranya. Padahal lembaran kisah musik mereka juga mengasyikan untuk diangkat dan digali lebih dalam. Entah apa alasan dirinya melewatkan salah satu genre yang juga sangat berpengaruh kepada musik populer terutama pop dan rock.

Saya juga penasaran bagaimana bila Aliyuna menulis dan memetakan musik Indonesia di era 60/70an. Mengingat lebih dari satu dekade ke belakang justru menjadi eksotis di kalangan penikmat musik manca negara terutama barat sejak label mancanegara melakukan perilisan ulang berbagai album lawas rock Indonesia ke dalam bentuk piringan hitam. Akan sangat menarik membayangkan apa yang bisa Aliyuna tarik ke sana ke mari dalam membahas musik Indonesia yang kaya sejak tahun 50an ini.

 

____