Rekomendasi: Oslo Ibrahim – I Only Dance When I’m Sad

329
Rekomendasi: Oslo Ibrahim - I Only Dance When I'm Sad.

Artis: Oslo Ibrahim
Album: I Only Dance When I’m Sad
Label: Orca Music Club

Ingat pertama kali menyaksikan Oslo Ibrahim di panggung Java Jazz Festival 2020. Penampilannya unik dengan setelan jas rapih dipadu gaya kuncir rambut Sailor Moon. Oslo membawakan materi dari mini album The Lone Lovers yang belum pernah saya dengarkan sebelumnya. Tak pikir panjang, saya memutuskan langsung jadi pengikutnya di media sosial Instagram.  

Di era yang mudah dalam hal promosi ini, kalau cuma bikin musik keren atau skill bermusik tingkat dewa mungkin bisa sanksi. Musisi yang ingin mendapatkan perhatian lebih seperti harus pandai menandai diri, dan Oslo salah satu yang berhasil melakukannya. Keberuntungan berpihak padanya setelah Rio Riezky diputuskan berganti menjadi Oslo Ibrahim.

Kini cara mengoleksi rilisan artis tak lagi repot pergi ke toko musik karena cuma butuh kuota internet untuk bisa mendengarkan. Suatu hari jika Oslo tidak ingin mencetak sampul berisi ucapan terima kasih di rilisan fisiknya. Baik kaset, CD, atau mungkin vinyl. Kita bisa mendengarkan nama-nama penting di nomor pembuka “Makasih” yang turut menyertakan sosok rahasia.

Dan buat kamu, kalau kamu ngerasa lagu-lagu di album ini kayak kisah kita. Ya, mungkin emang ini tentang kita.”

Album I Only Dance When I’m Sad berisi total sembilan judul. Nomor kedua “I May Not The One” mempresentasikan keadaan serba salah. Deskripsi hubungan dalam tiga perkara; aku, kamu, dan siapa. Seseorang yang rela disalahkan selalu mengambil celah untuk mempertahankan. Esensi pantang menyerah terbiar patah sempurna dengan raungan Pamungkas di akhir.

“It’s not a simple thing / When we’re getting older and love each other // No it’s not an easy thing / To get through the day /And make it out alive / ‘Cause honestly it’s hard for me / To find my glow / When your nights are low // Can’t you see the sign? I may not the one.”

Salah satu single kolaborasi bareng Romantic Echoes masuk dalam daftar. Waktu press release muncul di kotak masuk. Saya tak menduga laki-laki yang berdampingan dengan J. Alfredo ini mencuri hati. Mereka berdua punya kesamaan; tak habis membicarakan perasaan. Entah siapa yang mencuri hati dan menghancurkan. Yang terpilih “You Made Me Cry” bukan “You Made Me Smile”.

“You made me cry / But I can’t lie / I love it when you take and break my heart // It comes and goes / You are the ghost / I love it when you take and break my heart”

Aransemen musik yang disuguhkan Oslo di album solo perdananya ini membuat seakan pukul 11 malam lebih cepat berlalu. Padahal kopi di gelas belum habis mengisi rongga paru-paru. Masuk ke nomor empat “I Don’t Belong To Love Her”. Oslo bermain dengan tanda tanya yang mengikuti perasaan ingin memiliki.

“I don’t belong to love her / But why things getting better / And you keep makes me wonder if you want me too / I don’t belong to love her / But why things getting better / And you keep makes me wonder if you want me too (you)”

Dari semua daftar di album ini, “You Are Too Beautiful” lagu yang terkalem. Edisi jatuh hati pandangan pertama dengan seseorang di media sosial. Lagi-lagi harus tenggelam dalam khayalan yang begitu dekat-menjauh. Cinta yang sebenarnya melepuh di dada, sebatas mengagumi bukan memiliki itu memang nyata.

“You are too beautiful / And it feels so unreal / You are too beautiful / And i’ll always be forever fool / For you.”

Saya tidak pernah menanyakan ke Oslo. Ia mengagumi Tom Misch atau tidak karena “Someone That Can’t Be Mine” bukan untuk dijadikan tandingan. Bagian gitarnya menyentil kepala yang rumit akibat jarang bersentuhan. Banyak kisah yang percis seperti lirik ini di luar sana. Sekali lagi, toh apapun rasanya, rasa ingin memiliki, menyenangkan sekaligus persetan bukan?

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments